Arti Kata Eneng, Teteh, Ceuceu, Ambu dan Nyai Sebagai Wanita Sunda



Bandung

Di bahasa Sunda ada beberapa panggilan Sebagai perempuan. Baik yang sifatnya umum, Tetapi ada juga yang penggunaan bahasanya Di lingkup satu keluarga.

Salah satu panggilan yang paling sering kita dengar ialah “teteh” sebagai panggilan Sebagai kakak perempuan. Tetapi, panggilan “teteh” juga sering Bersama Sebab Itu kata ganti Di berbicara Bersama orang Foreign yang berjenis kelamin perempuan.

Contoh paling sederhana, Di berkunjung Hingga sebuah warung makan Lalu Merasakan pramuniaga perempuan. Secara otomatis, pramuniaga tersebut Akansegera kita panggil Bersama sebutan “teteh”, Kendati belum tentu usianya pelayan toko tersebut umurnya lebih tua.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut ini terdapat penjelasan mengenai panggilan Sebagai perempuan Hingga suku Sunda. Informasi berikut dihimpun detikJabar Bersama wawancara bersama Dian Hendrayana, anggota Kelompok Studi Kebiasaan Dunia (KSB) Rawayan, Sastrawan, dan Dosen Belajar Bahasa Sunda Universitas Belajar Indonesia (UPI).

1. Eneng

Disitat Bersama Bacaan Tata Bahasa Sunda Bersama S.Coolsma, disebut panggilan “Eneng” atau “neng” ditujukan Sebagai adik perempuan atau anak gadis kesayangan.

Tetapi kini, panggilan “neng” sudah tidak berbatasan lagi Bersama unsur keluarga. Supaya bisa juga digunakan Sebagai panggilan perempuan yang masih muda. Panggilan ini juga bisa menjadi panggilan terkasih Bersama suami Ke istrinya.

2. Teteh

Panggilan “teteh” atau “teh” merujuk Ke perempuan yang lebih tua atau seorang kakak perempuan. Seperti halnya panggilan “eneng”, penggunaan panggilan “teteh” sudah tidak berbatasan lagi Bersama unsur keluarga. Supaya bisa juga digunakan Sebagai panggilan perempuan yang dirasa lebih tua atau lebih senior.

Sebut saja salah satu Vokalis kawakan Indonesia, Rossa yang akrab disapa Teh Rossa sebab Dikatakan sebagai senior Di bidang tarik suara.

3. Ceuceu

Di Kamus Sunda-Indonesia terbitan Kementerian Belajar dan Kebudayaan (Kemdikbud), dijelaskan panggilan “teteh” punya artian yang sama Bersama “ceuceu”, “aceuk”, atau “eceu”.

Artinya, Di Bahasa Sunda “ceuceu” berarti kakak perempuan. Tetapi panggilan ini tak begitu digunakan banyak orang sebab dirasa lebih kasar daripada “teteh”.

Dijelaskan Bersama Dian Hendrayana, bahwa panggilan “ceu” biasanya dilontarkan antar sesama perempuan yang seumuran atau sudah sangat Disekitar.

“Memang panggilan ceuceu itu lebih diartikan sebagai sebutan Sebagai menyambut wanita yang sudah lebih Disekitar,” jelasnya.

4. Ambu

Di bahasa Sunda lama, “ambu” merupakan panggilan Sebagai ibu. Tetapi kini panggilan ini sudah jarang digunakan, Justru bisa digunakan menjadi panggilan akrab Sebagai Figur Publik. Sebut saja Bupati Purwakarta periode 2018-2023, Anne Ratna Mustika yang akrab disapa Ambu Anne.

Rupanya, sebutan “ambu” awalnya bukan sekedar panggilan biasa. Literatur mengenai sebutan “ambu” dikenal Ke satu cerita berbentuk pantun (Sunda) yaitu cerita pantun Lutung Kasarung. Diceritakan bahwa tokoh Guru Minda yang berwujud lutung sebetulnya ialah pangeran tampan titisan Dewi Sunan Ambu Bersama kayangan.

“Kedudukan panggilan ambu merupakan sebutan sebagai pengganti panggilan ibu. Ambu berarti sebutan ibu Tetapi secara terhormat dan lebih dimuliakan. Literasinya Bersama cerita folklore pantun Sunda Lutung Kasarung yang mengenal Sunan Ambu merupakan ibu Hingga kayangan. Entitas ambu digunakan Komunitas Sunda hanya Sebagai menggantikan posisi ibu, Tetapi memang posisinya sangat dimuliakan,” ungkap Dian.

5. Nyai

Ternyata, Di bahasa Sunda, “nyai” digunakan Sebagai memanggil perempuan muda atau adik perempuan. Tetapi panggilan ini sudah jarang digunakan, Supaya bisa menjadi sapaan akrab Sebagai beberapa tokoh.

Ada pula Komunitas yang salah pengertian, sebab beredar bahwa sebutan “nyai” Memperoleh konotasi negatif. Panggilan “nyai” kerap Dikatakan identik Bersama sebutan Sebagai perempuan penyedia jasa hiburan pria-pria Belanda Hingga zaman dahulu.

“Muncul pergeseran nilai Ke nyai. Sebetulnya sebutan Sebagai wanita penyedia jasa hiburan itu bukan nyai, melainkan nyai nyai. Supaya disebutkan dua kali. Sebutan nyai nyai itu Ke zaman kolonial ditujukan Sebagai wanita desa yang Lalu punya anak Bersama para tuan-tuan kebangsaan Eropa,” papar Dian.

Ia juga mengatakan, bahwa sesungguhnya sebutan “nyai” justru ditujukan Sebagai orang terhormat, atau panggilan sayang Bersama suami Ke istrinya, bisa juga Bersama mertua Ke menantu.

“Sebutan nyai sebetulnya terhormat, ditujukan Sebagai perempuan Bersama gen bangsawan. Salah satu contohnya seperti sebutan Nyi Roro Kidul itu betul. Lalu bisa juga Bersama Sebab Itu panggilan Sebagai istri,” ujarnya.

(aau/yum)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Arti Kata Eneng, Teteh, Ceuceu, Ambu dan Nyai Sebagai Wanita Sunda

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่