Reyog Bulkiyo, Apa Bedanya Di Punya Ponorogo?


Blitar

Nama Reog Pada ini identik Di Ponorogo. Karya Seni tradisional yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Kebiasaan Global Takbenda itu memang menjadi salah satu ikon Kebiasaan Global Jawa Timur. Akan Tetapi, tak banyak yang mengetahui bahwa Kabupaten Blitar juga Memiliki Karya Seni bernama Reog, yakni Reyog Bulkiyo.

Meski sama-sama menggunakan nama “Reog”, Karya Seni asal Blitar ini Memiliki sejarah, bentuk pertunjukan, kostum, hingga iringan Alunan yang berbeda Di Reog Ponorogo. Perbedaan tersebut justru menjadi ciri khas yang membuat Reyog Bulkiyo tetap lestari sebagai warisan Kebiasaan Global Kelompok Blitar.

Apa Itu Reyog Bulkiyo?

Untuk Eksperimen Kajian Garap Musikal Reyog Bulkiyo Ke Kabupaten Blitar yang diterbitkan Institut Karya Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Reyog Bulkiyo merupakan Karya Seni tradisional yang berasal Di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.


Dijelaskan, Reyog Bulkiyo merupakan salah satu bentuk Karya Seni pertunjukan khas Blitar yang Memiliki karakter berbeda Di Reog yang berkembang Ke Daerah lain, termasuk Reog Ponorogo.

Jika kebanyakan Kelompok mengenal Reog sebagai pertunjukan yang menampilkan barongan berkepala harimau Di hiasan dadak merak, Reyog Bulkiyo justru tidak menggunakan unsur tersebut. Pertunjukannya lebih menonjolkan tarian Pertempuran yang dipadukan Di Alunan tradisional sebagai media penceritaan.

Sejarah Reyog Bulkiyo

Menurut Eksperimen ISI Surakarta, Reyog Bulkiyo diyakini lahir Ke masa Pertempuran Jawa atau Pertempuran Diponegoro yang berlangsung Ke 1825-1830. Karya Seni ini diciptakan Di para prajurit Pangeran Diponegoro yang mengungsi Di Desa Kemloko Setelahnya terdesak Untuk peperangan.

Ke awal kemunculannya, Reyog Bulkiyo bukan sekadar hiburan. Karya Seni ini digunakan sebagai sarana melatih Kemahiran bertempur para prajurit sembari menunggu perkembangan perjuangan melawan pasukan kolonial Belanda.

Seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut berubah. Reyog Bulkiyo berkembang menjadi Karya Seni rakyat yang dipentaskan Untuk berbagai Peristiwa adat, peringatan hari besar, hingga Perayaan Seni Kebiasaan Global.

Apa Arti Nama Bulkiyo?

Asal-usul nama “Bulkiyo” Memiliki lebih Di satu versi. Versi pertama menyebut nama tersebut berasal Di tokoh Bulkiyo yang terdapat Untuk Kitab Ambiya.

Sambil versi lainnya mengaitkan nama Bulkiyo Di Laskar Bulkiyo, yakni pasukan khusus Pangeran Diponegoro yang dipimpin Kyai Mohammad Bahwi.

Kelompok Desa Kemloko lebih banyak menghubungkan Reyog Bulkiyo Di keberadaan Laskar Bulkiyo Ke masa Pertempuran Diponegoro.

Kisah perjuangan pasukan khusus Pangeran Diponegoro tersebut Setelahnya Itu diwujudkan Untuk bentuk Karya Seni pertunjukan yang diwariskan secara turun-temurun.

Perbedaan Reyog Bulkiyo Di Reog Ponorogo

Meski sama-sama menggunakan nama Reog, terdapat sejumlah perbedaan mendasar Antara Reyog Bulkiyo dan Reog Ponorogo. Berikut sejumlah perbedaan Reog Bulkiyo dan Reog Ponorogo.

1. Asal Daerah

Reyog Bulkiyo berasal Di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sambil Itu, Reog Ponorogo berasal Di Kabupaten Ponorogo dan telah lama menjadi identitas Kebiasaan Global Daerah tersebut.

2. Latar Di Cerita

Reyog Bulkiyo mengangkat kisah perjuangan para prajurit Pangeran Diponegoro Ke masa Pertempuran Jawa. Sebagai Alternatif, Reog Ponorogo lebih dikenal Melewati cerita rakyat yang berkaitan Di Ki Ageng Kutu, Raja Klono Sewandono, Singo Barong, hingga perjalanan melamar Dewi Songgolangit.

3. Penggunaan Dadak Merak

Ciri paling mudah dikenali adalah tidak adanya barongan atau dadak merak Untuk pertunjukan Reyog Bulkiyo. Sambil Reog Ponorogo justru menjadikan dadak merak atau Singo Barong sebagai ikon utama pertunjukannya.

4. Kostum Penari

Penari Reyog Bulkiyo mengenakan kostum yang menggambarkan prajurit Pertempuran. Berbeda Di Reog Ponorogo yang menampilkan sejumlah tokoh seperti Warok, Jathil, Klono Sewandono, Bujang Ganong, dan Singo Barong.

5. Iringan Alunan

Perbedaan lain terletak Ke Alunan pengiringnya. Untuk Reog Ponorogo, kendang berfungsi sebagai pengatur dinamika dan tempo pertunjukan.

Sebagai Alternatif, Reyog Bulkiyo menggunakan instrumen kecer atau kepyek sebagai pembuka sekaligus pengatur irama.

Instrumen tersebut dipadukan Di rebana, sronen, kenong, dan kempul Supaya menghasilkan warna musikal yang berbeda dibandingkan Reog Ke umumnya.

Keunikan Reyog Bulkiyo

Salah satu keunikan Reyog Bulkiyo adalah perpaduan unsur Kebiasaan Global Islam dan Kebiasaan Global Jawa Untuk Alunan pengiringnya. Instrumen rebana mencerminkan pengaruh Kebiasaan Islam.

Sedangkan gong, kenong, dan kempul Menunjukkan pengaruh Kebiasaan Global Jawa yang telah berkembang Sebelum lama. Perpaduan tersebut menjadi identitas musikal yang membedakan Reyog Bulkiyo Di Karya Seni Reog lainnya.

Ke Di Itu, pertunjukan Reyog Bulkiyo merupakan gabungan Antara tari dan Alunan. Para penari tidak hanya menampilkan gerakan Pertempuran, tetapi juga memainkan beberapa instrumen Alunan secara bersamaan Supaya menciptakan pertunjukan yang khas.

Pelestarian Reyog Bulkiyo

Keberadaan Reyog Bulkiyo sempat Merasakan masa vakum Pada hampir dua dekade. Akan Tetapi, Karya Seni ini kembali dihidupkan Ke Agustus 2015 berkat upaya Kelompok dan Paguyuban Karya Seni Reyog Bulkiyo.

Upaya pelestarian tersebut membuahkan hasil ketika Kementerian Belajar dan Kebudayaan menetapkan Reyog Bulkiyo sebagai Warisan Kebiasaan Global Takbenda (WBTB) Indonesia Ke 16 Agustus 2019.

Hingga kini, Reyog Bulkiyo masih rutin dipentaskan Untuk berbagai Perayaan Seni Kebiasaan Global, Peristiwa pemerintahan, maupun peringatan hari besar Ke Kabupaten Blitar sebagai salah satu identitas Kebiasaan Global Daerah.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Reyog Bulkiyo, Apa Bedanya Di Punya Ponorogo?

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่