Kisah Haru Hingga Balik Tari Bondan Kendi Nganjuk



Nganjuk

Seorang gadis penari memasuki pelataran Pendopo Agung Tanjung Bokor Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Pada gamelan ditabuh, penari itu menapakkan dua kakinya Hingga atas kendi.

Kendi itu tak pecah, meski sang penari melenggak-lenggok lincah, mengikuti irama gamelan Jawa. Penari yang nuga membawa boneka bayi hingga payung itu, terus melempar senyum Hingga arah warga.

Ya, tarian itu disebut Tari Bondan Kendi. Tarian yang wajib dilakukan Pada jamasan 6 pusaka Ki Ageng Ngaliman. Tarian itu pun diselimuti aroma dupa dan kemenyan, yang mengisi ruang kosong pendopo.


Konon, Tari Bondan Kendi berasal Di Surakarta. Tarian ini mengisahkan kasih sayang ibu kepada anaknya. Perjalanan sang ibu merawat sang buah hati yang Terbaru lahir itu, tergambar jelas Di runtutan tarian.

Tarian sakral ini diawali Didalam sang penari, menari Hingga atas kendi, Agar membutuhkan konsentrasi tinggi, agar kendi tak pecah, dan tarian yang dibawakan tidak salah. Tarian ditutup Didalam memecahkan kendi tersebut.

Tokoh Adat Desa Ngliman, Mbah Tulus menyampaikan makna Hingga balik peralatan yang dibawa sang penari. Mulai Di kendi, boneka bayi hingga payung.

“Kendi itu kan wadah air. Karena Itu diibaratkan sebagai sumber kehidupan. Kalau boneka bayi, itu melambangkan wiji atau anak. Karena Itu harapannya, apa pun yang ditanam Kelompok sini, bisa subur, lohjanawih,” ungkap Mbah Bondan, Sabtu (11/7/2026).

Sedangkan payung, adalah alat Bagi melindungi diri Di panas dan hujan. Agar harapannya, seluruh Kelompok Nganjuk, selalu Menyambut perlindungan Di Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hingga sisi lain, penari Bondan Kendi, wajib diperankan Dari seorang gadis yang masih suci, yang belum menikah. Dan tentunya gadis-gadis pilihan yang bisa menguasai seluruh gerakan tari tersebut.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kisah Haru Hingga Balik Tari Bondan Kendi Nganjuk

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่