Klaten –
Ke Area Klaten Dibagian Utara, terdapat perkampungan pandai besi yang populer disebut Koripan. Permukiman yang meliputi tiga desa, Desa Kranggan (Kecamatan Polanharjo), Desa Segaran dan Delanggu (Kecamatan Delanggu) itu pernah Karena Itu base camp atau markas para pejuang yang dipimpin Pangeran Diponegoro Pada Konflik Bersenjata Jawa (1825-1830).
Kisah Diponegoro yang pernah bermukim Ke Koripan tercatat Ke berbagai jurnal kolonial Belanda. Salah satunya Literatur tentang kisah Jenderal Van Geen berjudul De General Van Geen 1737-1846 karya F.M.L Van Geen terbitan 1910.
“…Van Geen zond majoor Sollewijn beve om, ingeval Wijagan werkelijk aangevallen werd, onmiddelijk hulp te verleenen zullende hij alsdan zelf ook terstond zijn 100 man infanterie derwaarts doen oprukken. Werkelijk hield Dipanegara zich te koripan op, doch had een algemeenen aanval op Delanggoe in den zin…
Terjemahan
…Van Geen mengirim perintah kepada Mayor Sollewijn Untuk Menyediakan Pemberian segera jika Wijagan benar-benar diserang, dan Sesudah Itu ia sendiri juga Akansegera segera mengerahkan 100 infanterinya Ke arah itu. Dipanegara memang tinggal Ke Koripan, tetapi ia Memiliki Ide serangan umum Ke Delanggoe.
Di Literatur yang mengisahkan perjalanan pasukan Jenderal Van Geen tersebut, dituliskan Pangeran Diponegoro dan laskar pejuangnya berada Ke Desa Koripan tanggal 28 Agustus 1826.
“…des morgena van den 28 Agustus werd aan Van Geen bericht dat Dipanagara zich in de Desa Koripan…(..Ke pagi hari tanggal 28 Agustus, sebuah pesan dikirim Ke van Geen yang Berkata bahwa Dipanagara berada Ke desa Koripan).
Tidak hanya ditulis orang Belanda, keberadaan Pangeran Diponegoro juga ditulis Di Babad Diponegoro yang ditulis sendiri Dari Diponegoro:
“Kanjeng Sunan ngaterken mring jawi ingkang rayi wus prapta tamtaman mapan
dulya mangkat age samyą kapalan iku yen tinanya sandi agilir marang lajer, punika apan prapta sampun Jeng Pangran nulya utusan mring Koripan mangkana pinuju iki kang baris ing Koripan…,”.
Sempat Karena Itu Markas Pangeran Diponegoro
Kepala Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Gunawan Budi Utomo menjelaskan cerita tentang bermukimnya Pangeran Diponegoro Ke Koripan memang ada. Keberadaan pasukan Diponegoro berkaitan Di kebutuhan senjata.
“Keberadaan Pangeran Diponegoro berkaitan Di senjata. Yang Ke waktu itu memang membutuhkan tambahan senjata, yang waktu itu bisa didapatkan Ke Koripan,” kata Gunawan Pada ditemui detikJateng, Sabtu (11/7/2026) siang.
Menurut Gunawan, Koripan sendiri sudah Sebelum zaman dulu merupakan pusat pandai besi. Justru konon Ke zaman Mataram Islam awal Ke masa Sultan Agung dikenal Memiliki dua empu.
“Ke Koripan dulunya zaman Mataram Islam ada empu yang membuat senjata yang membuat senjata Untuk kerajaan, yaitu empu Supo dan Korip. Bergulirnya waktu kini membuat alat Agrikultur dan Tempattinggal tangga,” jelasnya.
Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, membenarkan banyak catatan masa kolonial menyebut Desa Koripan. Di lain Literatur yang ditulis pelaku Konflik Bersenjata Diponegoro, Van Geen maupun Tjonte Poland.
“Salah satunya Di Literatur Tontje Poland, terus ada juga Di Literatur in memorial General Van Geen.Van Geen itu panglima Konflik Bersenjata Hindia Belanda Sebelumnya diganti jenderal De Kock,” terang Hari.
Komunitas pandai besi Ke Koripan, kata Hari, terbukti eksis Ke masa HB (Hamengku Buwono) III atau masa Konflik Bersenjata Diponegoro. Ke Koripan ada Kegiatan membuat senjata Jawa yang seringkali disebut Ke catatan Belanda.
“Eksisnya Koripan terbukti lamanya pangeran Diponegoro bersama laskar Ke sana, Ke Koripan Lantaran ada Kegiatan membuat senjata. Justru dijadikan base camp Diponegoro Pada Konflik Bersenjata Delanggu,” ujar Hari.
“Justru Bisa Jadi bisa mundur lagi, Ke era Mataram Islam awal Ke masa Panembahan Senopati atau Sultan Agung. Lantaran tidak Bisa Jadi komunitas pandai besi ujug-ujug ada Ke situ,” imbuhnya.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Koripan Klaten, Kampung Pandai Besi Konon Karena Itu Markas Pangeran Diponegoro











