Ada denyut peradaban yang lama tersimpan Hingga balik gemerincing besi dan dinginnya bilah senjata tradisional Komunitas Sukabumi, Bedog Kala Petok. Senjata pusaka ini akhirnya resmi tercatat dan ditetapkan sebagai Warisan Kebiasaan Global Takbenda Indonesia (WBTBI).
Pengakuan ini menjadi momentum penting Untuk mengangkat kembali khazanah pengetahuan metalurgi, filosofi luhur, serta sejarah panjang peradaban Nusantara yang Pada ini tertimbun Hingga Untuk memori kolektif Komunitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Warisan Kebiasaan Global Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kajian, dan Keahlian Kementerian Kebudayaan RI, Widiatmoko, menjelaskan bahwa pengakuan ini mencakup dua aspek utama yang tidak terpisahkan, yakni produk fisik bendanya serta proses pembuatannya.
“Iya, ini kan Pada Untuk senjata tradisional, ya. Senjata tradisional utama Komunitas Sukabumi. Nah, ini sudah didaftar, ya, Lalu juga nanti ditetapkan sebagai Warisan Kebiasaan Global Takbenda Indonesia. Itu secara produknya, bendanya,” ujar Widiatmoko Hingga Kota Sukabumi, Senin (27/7/2026).
Ia menambahkan, pengetahuan dan Keahlian tradisional mengenai cara membuat pusaka ini-mulai Untuk ilmu metalurgi, Cara penyucian, pembakaran, penempaan, hingga penyepuhan-merupakan warisan tak ternilai. Pengetahuan tersebut hidup Hingga Untuk memori kolektif warga dan jarang tertuliskan secara akademis Hingga masa lampau.
“Maka Itu, pengetahuan-pengetahuan ini juga akhirnya nanti menguatkan kita, tidak hanya kebudayaan, ini adalah Pada Untuk peradaban Nusantara,” imbuhnya.
|
Bedog Kala Petok Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar
|
Widiatmoko juga menekankan bahwa pencapaian ini penting Untuk Indonesia Sebagai memperkuat Hubungan Luar Negeri Kebiasaan Global, membuktikan bahwa bangsa Nusantara sudah Memiliki peradaban dan Keahlian pengolahan bijih besi yang maju jauh Sebelumnya kedatangan bangsa Barat.
Maestro Bedog Kala Petok, Fajar Laksana mengungkapkan, rasa syukurnya atas lolosnya bedog pusaka ini Untuk sidang penetapan WBTBI Sesudah Lewat serangkaian kajian akademis, pembuktian sejarah autentik, serta syarat usia warisan yang telah bertahan lintas generasi.
Fajar memaparkan, proses pembuatan Bedog Kala Petok pusaka tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan terikat Di waktu serta laku spiritual yang ketat.
“Sebagai membuat bedog pusaka itu, kita harus berpuasa dulu. Satu, puasa Senin-Kamis mingguan. Mutakhir Lalu bulanan puasa Hingga Ditengah bulan yaitu tanggal 13, 14, 15. Lalu, Sebagai tahunannya, Hingga bulan Mulud,” tutur Fajar merinci Kebiasaan penempaan pusaka tersebut.
Tahapan pembuatannya sarat Akansegera makna filosofis yang menggambarkan proses mendidik manusia. Besi terlebih dahulu disucikan menggunakan air kelapa yang dicampur bunga, yang menyimbolkan bahwa manusia tidak Akansegera Memiliki arti jika hatinya tidak bersih Lewat laku thaharah.
Sesudah itu, besi dibakar agar menjadi lembut dan melunturkan Kekejaman sifat, Lalu ditempa Lewat kerja keras dan keprihatinan, hingga akhirnya disepuh serta diukir menjadi pusaka yang tajam dan bermanfaat.
“Maka Sesudah disucikan, dibakar, ditempa, digojrok Untuk diklat, lalu Lalu disepuh. Disepuh itu dipoles, lebih halus lagi. Sebetulnya itu gambaran filosofi bagaimana mendidik manusia. Manusia tidak bisa dididik menjadi orang hebat kalau hatinya tidak dibersihkan,” jelas Fajar.
Sejarah Bedog Kala Petok
Secara historis, Bedog Kala Petok Memiliki akar silsilah yang kuat Bersama para tokoh perjuangan masa lampau. Senjata ini diturunkan Untuk ayahnya, Raden Adang Sabini, yang Memperoleh warisan Untuk kakeknya, Raden Soemawinata, yang berasal Untuk Banten dan membawa Kebiasaan ini Hingga Sukabumi Di tahun 1930-an.
Silsilah tersebut terhubung langsung hingga Hingga Pangeran Sogiri, putra Untuk Sultan Ageng Tirtayasa Untuk Kesultanan Banten, yang berjuang bersama Pangeran Jayakarta melawan VOC Belanda.
Bedog Kala Petok Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar |
Untuk penggunaannya Hingga masa lalu, Bedog Kala Petok bukan senjata Sebagai Arena terbuka jarak jauh, melainkan senjata pamungkas atau jurus rahasia pertarungan jarak Didekat ketika amunisi dan persenjataan lain telah habis.
“Bedog itu senjata, Kala Petok itulah ilmu Sebagai mengatur waktu, Petok itu Didekat. Bersama Sebab Itu, senjata Sebagai mendekatkan diri kepada Allah, juga senjata Sebagai melawan jarak Didekat, dan senjata terakhir (pamungkas),” ungkap Fajar.
Kementerian Kebudayaan RI menegaskan bahwa penetapan ini bukanlah titik akhir, melainkan sebuah awal Sebagai Pembuatan dan pemanfaatan kebudayaan secara berkelanjutan.
Hingga Di, Kebiasaan pembuatan Bedog Kala Petok beserta Karya Seni bela diri silat aliran Sang Maung Bodas diharapkan dapat dikembangkan menjadi living museum yang Memikat minat wisatawan, sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif yang menyejahterakan Komunitas lokal secara luas.
Halaman 2 Untuk 2
Simak Video “Menikmati Keseruan Main River Tubing Hingga Sungai Cilumpang, Sukabumi “
(dir/dir)
–>
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Bedog Kala Petok Sukabumi Resmi Bersama Sebab Itu Warisan Kebiasaan Global Takbenda Indonesia












