Bandung –
Selasar Sunaryo Art Space merupakan salah satu galeri Karya Seni Hingga Kota Bandung yang telah berdiri Dari 1998. Galeri ini dibangun Dari seniman Sunaryo sebagai ruang Bagi memamerkan karya Karya Seni sekaligus Mengeluarkan dan menerjemahkan gagasan seniman kepada Komunitas luas.
Berlokasi Hingga Dago, kompleks galeri ini terdiri Didalam empat ruang pameran yang menjadi wadah Bagi seniman Bagi mempertunjukkan karyanya. Kurator galeri, Heru Hikayat, menjelaskan bahwa pendirian Selasar Sunaryo dilatarbelakangi Dari ketimpangan Di jumlah ruang produksi dan ruang presentasi Di ekosistem Karya Seni.
“Kalau diperhatikan, Di dunia Karya Seni Secara Keseluruhan, bukan hanya Karya Seni rupa, itu rata-rata ruang presentasinya itu inisiatif swasta. Sangat sedikit yang diinisiasi Dari Bangsa. Nah, itu Karena Itu motivasinya. Karena Itu, kalau mau pakai bahasa gampangannya, berkontribusi Ke perkembangan infrastruktur,” ujar Heru Pada diwawancarai Hingga lokasi, Jumat (30/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Skuat detikJabar Melakukan Kunjungan Hingga Selasar Sunaryo Art Space, Di berlangsung tiga pameran Karya Seni Hingga tiga ruang berbeda. Ruang pameran utama atau Ruang A dikhususkan Bagi menampilkan karya Sunaryo. “Air Mata Air” menjadi tema karya terbaru yang dihasilkan Sunaryo Ke tahun ini.
Heru menjelaskan bahwa Sunaryo Dari lama menjadikan alam sebagai inspirasi Di berkarya. Pengunjung dapat menikmati sejumlah lukisan air yang digambarkan secara realisme dan dipadukan Didalam Metode abstrak. Lukisan bergambar mata menjadi salah satu karya yang penempatannya dikelilingi cermin, Agar pengunjung perlu mengenakan sandal khusus jika ingin Memperhatikan Didalam Didekat.
“Nah, khusus Hingga pameran “Air Mata Air” ini kalau Didalam judulnya itu kan sebenarnya ada dua, ada ‘air mata’ dan ‘mata air’. Air yang sehari-hari kita pakai, sehari-hari kita konsumsi, tapi kita enggak tau air tersebut sudah ada Dari kapan. Nah, hal-hal seperti itu yang kurang lebih menjadi sumber gagasan Bagi Pak Sunaryo bagaimana air itu terkandung Di banyak unsur,” jelas Heru lebih Di.
|
Pameran Hingga Selasar Sunaryo Art Space Foto: Siti Nurhaliza Safitri
|
Bergeser Hingga Ruang B, terdapat pameran Karya Seni bertajuk “Peladang Berpindah” karya Garin Nugroho, seorang sutradara, penulis, sekaligus seniman. Layar Lebar “Opera Jawa” garapan Garin pun ditayangkan Hingga ruang pameran Bagi dinikmati pengunjung.
Selain menayangkan Layar Lebar, Garin juga memamerkan beberapa iklan produk maupun layanan Komunitas. Salah satu iklan yang menurut Heru paling melegenda ialah iklan Pemilihan Umum 1999, sebab Pada itu merupakan momen pertama kalinya pemilihan umum dilakukan secara demokratis.
“Kenapa Pemilihan Umum 1999 penting? Lantaran Ke tahun itu ceritanya Pemilihan Umum demokratis pertama. Nah, Mas Garin itu bikin iklan yang mengkampanyekan Kedamaian, jangan sampai Pemilihan Umum malah menyulut perpecahan. Dan Hingga situ juga dia menonjolkan kebudayaan Indonesia yang beragam,” tambah Heru.
Properti yang digunakan Pada proses syuting beberapa karya Garin juga dipamerkan. Ternyata, Sunaryo pernah berkolaborasi Didalam Garin Lewat instalasi Semedi ning Jenar yang berada Di Layar Lebar “Opera Jawa”.
Pameran Hingga Selasar Sunaryo Art Space Foto: Siti Nurhaliza Safitri |
Berpindah Hingga ruang Bale Paragon, pameran “Setanah, Tak Diam” seakan menjadi kontras Didalam dua tema pameran Sebelumnya. Ke pintu masuk, pengunjung Akansegera disuguhi simulasi Bencana Alam yang visualisasinya diambil berdasarkan lokasi asli Hingga Di Kota Bandung.
Menapaki ruang berikutnya, beberapa penemuan mengenai mitigasi bencana dipamerkan. Salah satunya adalah rancangan Rumah tradisional yang hanya mengandalkan pertemuan antar kayu tanpa Spike, yang dinilai lebih Bertahan apabila terjadi bencana alam.
Di Itu, dipajang pula proyeksi titik pengamatan gempa Didalam tujuan mengajak pengunjung lebih waspada Pada lokasi rawan bencana. Heru menjelaskan, walau topik yang diangkat cukup berat, pihak galeri dan inisiator “Setanah, Tak Diam” merancang pameran Didalam cara interaktif.
“Makanya kita mendesain pameran ini gimana caranya biar enggak menakutkan, tapi lebih interaktif Di pengertian biar kita bisa Mengetahui bahwa bencana dapat diatasi apabila ditangani secara cepat dan tanggap,” ujarnya.
Bagi Komunitas yang ingin menikmati serta memaknai keindahan karya Karya Seni Hingga Selasar Sunaryo Art Space, tempat ini buka setiap hari Selasa hingga Minggu pukul 10.00-17.00 WIB Didalam tiket masuk sebesar Rp45.000 per orang.
(tya/tey)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Ada Lukisan Air hingga Simulasi Gempa Hingga Selasar Sunaryo Art Space Bandung












