Makna, Rangkaian Ritual, Waktu Pelaksanaan

Daftar Isi



Manggarai –

Komunitas Manggarai Ke Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Memiliki Perayaan Seni panen tradisional sekaligus upacara syukuran yang disebut Kebiasaan Penti Weki Peso Beo. Penti merupakan pesta adat Manggarai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan (Mori Jari Dedek atau Mori Kraeng) dan para leluhur (empo).

Kamus bahasa Manggarai mengartikan penti sebagai pesta tahun Mutakhir orang Manggarai. Ungkapan lengkapnya, penti weki peso beo reca rangga wali ntaung. Maknanya syukur atas tahun telah berganti, musim kerja yang panjang telah dilewati, dan musim kerja Mutakhir segera dimulai.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebiasaan ini diawali Di menjemput roh penjaga kebun, penjaga air mata, para leluhur Ke makam, hingga penghuni altar kampung. Mereka diundang d ari tepi kampung hingga Hingga Tempattinggal adat, Sebagai Berpartisipasi Untuk puncak pesta syukur yang disebut Penti Weki Peso Beo.

Simak makna, rangkaian ritual, hingga waktu pelaksanaan Penti Weki Peso Beo Ke Manggarai NTT seperti dirangkum detikBali berikut ini.

Makna Kebiasaan Penti Weki Peso Beo

Penti Weki Peso Beo berpihak Ke Kesejaganan lima sendi kehidupan, yaitu lingko (kebun), wae twku (mata air), natas labar (halaman kampung), compang (altar persembahan), dan mbaru (Tempattinggal).

Di kehidupan terasa tidak seimbang, warga memohon kekuatan dan perlindungan kepada kelima sendi itu Lewat penti. Menurut keyakinan orang Manggarai, penti yang diabaikan dapat mendatangkan murka Sang Pencipta dan bencana Bagi warga.

Para peneliti memetakan tiga dimensi makna penti. Dimensi vertikal adalah rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur. Lalu, dimensi horizontal adalah mempererat ikatan klan (wa’u), subklan (panga), kakak-adik (ase ka’e), serta pihak pemberi dan penerima istri (anak rona dan anak wina), sesuai filosofi gendang one lingko pe’ang.

Berikutnya, dimensi sosial adalah reuni keluarga. Termasuk Bagi warga yang tinggal Ke luar kampung, sekaligus sarana rekonsiliasi antarwarga.

Upacara Penti Ke Manggarai NTT. (Dok Kemdikbud)

Rangkaian Prosesi Penti

Penti Ke intinya merupakan paket Kebiasaan Global yang berjalan berurutan Di luar Tempattinggal Di Tempattinggal adat. Balai Pelestarian Nilai Kebiasaan Global (BPNB) Bali mencatat enam tahap atau rangkaian prosesi Penti Ke Kelurahan Waso, Ruteng.

Rangkaian dimulai Di musyawarah adat dan Cako Reke, dilanjutkan Di prosesi Barong Londok Ke kebun komunal, Barong Wae Teku Ke mata air, dan Barong Compang Ke altar kampung yang disusul Wisi Loce Ke Tempattinggal adat.

Sesudah itu, tahap berikutnya adalah Libur Kilo Ke Tempattinggal tiap keluarga. Adapun, puncaknya Renge Eta Penti digelrar Ke Tempattinggal adat (mbaru gendang).

Sejumlah kampung menambahkan ritual lain. Kampung Adat Todo, misalnya, Memiliki Roi Boa Sebagai memanggil leluhur Ke makam, dan puncak acaranya dimulai Di tabuhan gong Di pukul 19.00 Wita.

Makna Setiap Ritual Untuk Penti

1. Cako Reke. Cako berarti berbicara dan reke berarti janji. Ritual ini menjadi perjanjian Di leluhur dan seluruh warga sekaligus penentuan waktu Penti. Ayam jantan yang dikurbankan berwarna putih (bakok), bermakna suci atau merah kecoklatan (cepang), bermakna berani.

2. Barong Lodok. Barong berarti memanggil. Roh penjaga kebun diundang hadir Ke pesta malam, dan persembahan diberikan kepada teno, kayu yang ditancapkan Ke pusat kebun komunal, sebagai syukur atau hasil kebun.

3. Barong Wae Teku. Roh penjaga mata air diundang dan disyukuri Lantaran air tidak pernah surut. Ke Todo, ritual ini juga dimaknai sebagai pembersihan diri Sebelumnya Sang Pencipta dan leluhur diundang Hingga puncak Peristiwa.

4. Roi Boa atau Barong Boa. Arwah leluhur Ke makan dipanggil. Warga meyakini berkat leluhurlah yang mewariskan kebun, mata air, dan hasil bumi.

5. Barong Compang. Altar kampung dipercaya didiami naga golo atau naga beo, roh penunggu kampung yang diyakini menjaga kampung Di kebakaran, angin kencang, dan pertumpahan darah. Wisi Loce (membentang tikar) setelahnya mempersilakan semua roh yang diundang menunggu puncak Peristiwa.

6. Libur Kilo. Syukur tingkat keluarga yang menjadi momen pembaruan hidup dan Penyembuhan hubungan antaranggota keluarga. Ada pula teing hang empo (memberi sesaji kepada leluhur) dan pembuangan mimpi buruk (nipi da’at) Lewat sungai dan matahari terbenam, seraya Merasakan mimpi baik.

7. Renge Eta Penti. Doa dipanjatkan Untuk bahasa adat atas hewan kurban. Sesudah penyembelihan, darah dioleskan Hingga jenang pintu Tempattinggal adat sebagai tanda Penti telah dilaksanakan. Pemimpin ritual lalu memperlihatkan hati hewan kurban (toto urat) Sebagai menilai apakah persembahan diterima, dan hasilnya diumumkan serta disyukuri bersama.

Peristiwa dilanjutkan nyanyian sanda yang memohon Keadaan air, hasil kebun, ternak, dan tempat tinggal yang aman, lalu ditutup makan malam bersama.

8. Cai (tidak selalu ada). Dua pria bergantian memukul Di pecut dan menangkis Di perisai. BPNB mencatat permainan ini tidak mementingkan siapa Berhasil dan tidak meninggalkan demam, melainkan mempererat persaudaraan.

Waktu Pelaksaan Penti

Penti tidak Memiliki tanggal tetap. Waktunya ditetapkan Lewat musyawarah adat dan berbeda antarkampung. Dilansir Di BPNB, Penti Ke Kelurahan Waso, Ruteng, digelar Sesudah panen rampung, Di Juni hingga September, Di empat hingga tujuh hari tergantung komunitas.

Sambil Itu, Kampung Adat Todo menggelarnya setiap tahun menjelang tutup tahun atau awal tahun sesuai kesepakatan warga. Ada pula penti mese lima tahunan yang memakai kerbau sebagai hewan kurban, sedangkan penti tahunan memakai babi.

Warga Wae Rebo menggelarnya setiap November Di sehari semalam. Kementerian Wisata Internasional mencatat banyak kampung Ke Flores kini memakai siklus lima tahun Lantaran persiapannya intensif dan biayanya tinggi. Meski begitu, warga Wae Rebo tetap menggelarnya tiap tahun.

Dari Sebab Itu, jadwal pelaksanaan Penti Weki Peso Beo ditentukan masing-masing kampung. Dari Sebab Itu, jika Anda ingin melihat atau merasakan langsung euforia Penti Weki Peso Beo, ada baiknya memastikan terlebih dahulu tanggal pelaksanaannya Hingga pemangku adat atau dinas Wisata Internasional setempat

Ke sisi lain, warga Manggara terus mempertahankan Kebiasaan ini. Malahan, Kebiasaan tersebut dibawa warga Manggarai Hingga perantauan, seperti Ke Kalimantan Barat. Sebuah kajian menyebut Penti Ke sana menjadi wujud syukur atas Sukses Ke tanah rantau sekaligus sarana mengenalkan adat kepada generasi muda.

(iws/iws)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Makna, Rangkaian Ritual, Waktu Pelaksanaan

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini
https://indyfest.net/
https://indyfest.net/gallery/
https://indyfest.net/privacy-policy-2/
https://www.tcconstruct.net/projects