Pagerwesi 2026 Jatuh 4 November, Kenapa Perayaan Ke Buleleng Semeriah Galungan?

Daftar Isi



Denpasar –

Hari Raya Pagerwesi 2026 jatuh Ke Rabu (4/11/2026). Sejumlah Lokasi Ke Bali menjalani hari suci ini Bersama khidmat dan sederhana, yaitu menghaturkan banten Ke merajan, lalu bersembahyang Ke pura.

Suasana berbeda terasa Ke Buleleng, Bali Utara. Kelompok yang bekerja Ke luar kota Akansegera pulang kampung dan mendatangi makam kerabat Sebagai menghaturkan persembahan, dan perayaannya disebut sebesar Hari Raya Galungan.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Hari Raya Pagerwesi Ke Buleleng dan Lokasi lainnya bisa berbeda? Apa pula makna Ke balik kata Pagerwesi? Simak penjelasannya berikut ini.

Pagerwesi berasal Bersama kata pager yang berarti pagar dan wesi yang berarti besi. Secara harfiah, Pagerwesi bermakna pagar besi, yakni benteng yang kuat Sebagai melindungi diri agar tidak terganggu atau rusak Dari pengaruh buruk.

Hari suci umat Hindu ini jatuh setiap Buda (Rabu) Kliwon wuku Sinta, atau sekali Untuk 210 hari menurut kalender Bali. Pagerwesi diperingati empat hari Setelahnya Hari Raya Saraswati, yaitu turunnya ilmu pengetahuan. Lantaran itu, Pagerwesi dimaknai sebagai upaya menjaga ilmu pengetahuan dan memperkuat iman agar tidak goyah Dari pengaruh negatif.

Lontar Sundarigama menyebut Pagerwesi sebagai hari payogan (pemujaan) Sang Hyang Pramesti Guru, yaitu Tuhan Untuk manifestasinya sebagai guru alam semesta, yang disertai Dewata Nawa Sanga, yakni sembilan dewa penjaga arah mata angin. Pramesti Guru juga dikenal sebagai Dewa Siwa yang berperan melebur sifat-sifat buruk.

Umat Hindu memperingatinya Bersama menghanturkan banten Ke sanggah atau merajan, lalu bersembahyang Ke pura besar seperti pura kahyangan jagat dan pura desa. Pagerwesi juga disebut Rerahinan Gumi, yakni hari raya yang dirayakan seluruh umat Hindu. Tata pelaksanaannya menyesuaikan desa, kala, patra (tempat, waktu, dan keadaan), Agar perayaan Ke tiap Lokasi dapat berbeda.

Pagerwesi merupakan Dibagian Bersama rangkaian lima hari yang diawali Hari Raya Saraswati. Tahun ini, rangkaian tersebut berlangsung Ke 31 Oktober hingga 4 November 2026 Bersama urutan sebagai berikut.

• Sabtu (31/10/2026), Hari Raya Saraswati. Hari turunnya ilmu pengetahuan yang jatuh Ke Saniscara Umanis wuku Watugunung.
• Minggu (1/11/2026), Banyupinaruh. Hari menyucikan diri Bersama ilmu pengetahuan. Umat Hindu biasanya mandi dan keramas Ke laut atau sumber air Ke pagi hari Sebelumnya matahari terbit.
• Senin (2/11/2026), Soma Ribek. Hari Ketahanan Pangan yang diisi Bersama pemujaan kepada Bhatara Sri, dewi pagi, sebagai wujud syukur atas rezeki berupa Ketahanan Pangan.
• Selasa (3/11/2026), Sabuh Mas. Wujud syukur atas harta benda, seperti logam mulia dan permata. Upacaranya bukan Sebagai memuja harta, melainkan pengingat bahwa kekayaan diperoleh berkat ilmu pengetahuan.
• Rabu (4/11/2026), Hari Raya Pagerwesi. Puncak rangkaian, yaitu pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru Sebagai memagari diri Bersama keteguhan iman.

Pagerwesi dirayakan Dari seluruh umat Hindu Ke Bali, tetapi pelaksanaannya tidak seragam. Prinsip desa, kala, patra (tempat, waktu, dan keadaan) membuat tata cara perayaan menyesuaikan kebiasaan setempat. Sejumlah Lokasi menjalaninya secara sederhana lewat persembahyangan Ke merajan dan pura, sedangkan Lokasi lain memperingatinya jauh lebih meriah.

Perbedaan itu paling tampak Ke Buleleng, Bali Utara. Hari suci yang dirayakan Tenteram justru menjadi momen besar Bagi Kelompok setempat.

Situs resmi Pemerintah Provinsi Bali menyebut Pagerwesi Ke Buleleng dirayakan Untuk skala yang menyerupai Galungan, lengkap Bersama Kebiasaan munjung atau ziarah Ke makam kerabat. Ketua PDHI Buleleng, Dewa Nyoman Suardana, dilansir Di Bali Mengungkapkan bahwa Kelompok Buleleng, terutama yang tinggal Ke perkotaan, merayakan Pagerwesi lebih meriah daripada Galungan maupun Nyepi. Kebiasaan itu disebutnya telah berjalan Sebelum dahulu kala.

Kemeriahan paling terasa Ke Buleleng timur, mulai Bersama Singaraja hingga Tejakula. Kelompok Buleleng barat, seperti Seririt, Gerokgak, dan Busungbiu, merayakannya lebih sederhana. Ketua Kelompok Pengkajian Adat Istiadat Dunia Bali Utara, I Gusti Ketut Simba, Di itu mengaitkan perbedaan tersebut Bersama sejarah Buleleng sebagai pintu masuk Adat Istiadat Dunia luar Ke Bali.

Perayaan itu tampak Bersama beragam banten yang dihaturkan. Umat memotong hewan persembahan, seperti ayam dan babi, lalu menikmati hidangannya bersama keluarga. Kebiasaan paling khas adalah mujung, yaitu menziarahi makam kerabat sambil menghaturkan punjung Bagi anggota keluarga yang belum menjalani upacara ngaben. PDHI Buleleng menyebut Kebiasaan ini satu-satunya Ke Buleleng, khususnya Singaraja, dan tidak ditemukan Ke Lokasi lain Ke Bali.

Terlepas Bersama perbedaan cara merayakannya, makna Pagerwesi tetap sama Bagi umat Hindu Ke Bali. Hari suci ini menjadi pengingat Sebagai memperkuat pegangan hidup dan memastikan ilmu pengetahuan yang telah diterima digunakan Sebagai kebaikan. Pagar besi yang dimaksud bukan benteng fisik, melainkan keteguhan iman dan kebijaksanaan agar diri tidak mudah goyah Dari pengaruh buruk.

Kelompok Buleleng mewujudkan nilai itu lewat kebersamaan keluarga dan penghormatan kepada leluhur. Rabu (4/11/2026) menjadi kesempatan Bagi umat Hindu, baik yang merayakannya secara sederhana maupun semeriah Galungan Sebagai kembali meneguhkan hati Untuk menjalankan kewajiban hidup atau swadarma.

(nor/nor)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Pagerwesi 2026 Jatuh 4 November, Kenapa Perayaan Ke Buleleng Semeriah Galungan?

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini
https://indyfest.net/
https://indyfest.net/gallery/
https://indyfest.net/privacy-policy-2/
https://www.tcconstruct.net/projects