Menengok Museum 10 Nopember yang Ramah Difabel, Sudah Disertai Braile



Surabaya –

Pemerintah Kota Surabaya terus berbenah Menampilkan destinasi wisata sejarah yang ramah Penyandang Disabilitas. Langkah tersebut salah satunya dihadirkan Di Museum 10 Nopember, Kompleks Tugu Pahlawan, Kec. Bubutan, Surabaya.

Salah satu kurator Museum 10 Nopember, Agus, menyampaikan bahwa penyediaan fasilitas Bagi penyandang Penyandang Disabilitas, menjadi visi besar Untuk pengelolaan seluruh museum Di bawah naungan Pemkot Surabaya.

“Kami harus punya visi Bagi Memberi fasilitas tersebut juga kepada teman-teman Penyandang Disabilitas. Karena Itu bukan hanya berlaku Di satu museum, semua destinasi wisata kelolaan pemerintah kota harus demikian Yang Terkait Bersama pelayanan publik,” ujar Agus kepada detikJatim, Jumat (6/11/2026).


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus menjelaskan, Museum 10 Nopember sudah melakukan Pembaruan mengenai fasilitas Bagi penyandang Penyandang Disabilitas Di dua tahun terakhir. Di ini, museum tersebut telah dilengkapi huruf Braille disetiap deskripsi Produk Internasional-Produk Internasional koleksinya.

“Kalau Di museum 10 Nopember sudah kita kembangkan insyaAllah Untuk dua tahun yang lalu. Di ini sudah ada narasi Bersama huruf Braille Di semua informasi yang ada Di museum,” katanya.

Sebagai terobosan terbarunya, pengelola Menampilkan miniatur Tugu Pahlawan. Fasilitas tersebut dirancang agar pengunjung tunanetra bisa merasakan secara fisik bentuk dan detail tugu bersejarah tersebut.

“Teman-teman tunanetra bisa merasakan experience meraba dan merasakan struktur bangunan Tugu Pahlawan. Mulai Untuk lengkungannya, puncaknya, hingga ornamen klasik pewayangan yang Karena Itu idenya Pak Karno, seperti trisula, cakra, stamba, dan padma. Itu bisa dijelaskan Bersama cara mereka meraba langsung Untuk bentuk miniatur,” terangnya.

Untuk merumuskan rancangan museum ramah Penyandang Disabilitas, pengelola tidak bergerak sendiri. Pihaknya menggandeng akademisi Untuk Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang membidangi pengajaran tunanetra, agar konten dan sarana yang disajikan tepat sasaran.

“Kami memang melibatkan akademisi pengajaran tunanetra, kebetulan Untuk teman-teman Unesa, itu membantu kami sesuai Bersama apa yang kami inginkan, yakni museum ramah Penyandang Disabilitas,” ujar Agus.

Tak berhenti Di situ, Agus mengungkapkan bahwa pihaknya Di ini Ditengah menyiapkan terobosan berbasis Transformasi Digital audio visual yang telah masuk Untuk master plan revitalisasi museum.

“Bagi audio dan visual sudah masuk master plan kami, semoga secepatnya bisa terealisasi,” ungkap Agus.

Ia menjelaskan bahwa nantinya Berencana ada sistem berbasis QR code yang dapat diakses lewat HP, yang memungkinkan pengunjung Penyandang Disabilitas menikmati materi audio visual Di museum. Sebelumnya Itu, Konsep tersebut sudah diterapkan Di Museum Surabaya yang berlokasi Di Gedung Siola.

“Pengunjung tunarungu nantinya dapat menikmati materi Untuk bentuk visual berupa gambar dan video, Sambil Itu pengunjung tunanetra dapat mendengarkan penjelasan audio. Tinggal kami eksekusi secara bertahap,” jelas Agus.

Lewat ketersediaan fasilitas yang Lebihterus lengkap, Agus optimistis dapat mengikis keengganan penyandang Penyandang Disabilitas Bagi berkunjung Di museum akibat keterbatasan akses Di ini.

“Saya yakin teman-teman Penyandang Disabilitas Berencana antusias datang jika fasilitas sudah terpenuhi. Lantaran mereka sebenarnya punya semangat yang sama Bagi Merasakan informasi sejarah Surabaya,” pungkasnya.

(abq/dpe)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Menengok Museum 10 Nopember yang Ramah Difabel, Sudah Disertai Braile

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini
https://indyfest.net/
https://indyfest.net/gallery/
https://indyfest.net/privacy-policy-2/
https://www.tcconstruct.net/projects