Adu Tulang Kering Ala Cimande, Pulangnya Tetap Salaman No Baper



Bogor

“Diondang saha aranjeun kadieu? Diondang kaondang ku sora kendang, kapelet ku sora tarompet, karumpul ku sora kempul…”

Kalimat itu terucap Di mulut Sesepuh Penca Cimande Didih Supriadi (61). Suaranya terdengar berat Tetapi akrab, membuka malam Di sebuah lapang sederhana Di kaki Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Bogor.

Lapangan itu tidak megah. Tidak ada panggung besi, lampu warna-warni, atau dentuman pengeras suara seperti pertunjukan Alunan dangdut. Rumput masih basah sisa hujan semalam. Tanah lembap menempel Di sandal dan kaki warga yang datang Dari sore, Minggu (17/5/2026).


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi satu per satu Komunitas terus berdatangan Setelahnya Isya. Warga yang berdagang Konsumsi ringan dan minuman menyesaki jalanan setapak. Anak-anak kecil duduk Di pinggir lapang. Remaja bergerombol sambil bercanda. Para orang tua Melakukan duduk melingkar beralas rumput dan tanah. Laki-laki dan perempuan berkumpul tanpa sekat, menghadap arena kecil Di Ditengah lapang.

Angin gunung yang dingin terasa menggigit kulit. Sesekali suara kendang dan tarompet memecah suasana malam yang mulai gelap. Tidak ada tiket masuk. Tidak ada pagar pembatas. Tapi semua orang menunggu satu hal yang sama: bincurang.

Untuk Komunitas Cimande, bincurang bukan sekadar adu tulang kering. Kearifan Lokal itu sudah lama menjadi ruang silaturahmi, ajang adu ketangkasan, sekaligus cara Komunitas menjaga warisan penca turun-temurun.

Sebelumnya bincurang dimulai, sejumlah pemuda lebih dulu memasuki arena Sebagai melakukan penca salancar. Mereka bergerak bergantian mengikuti irama kendang. Sesekali sorak penonton terdengar ketika kaki mulai saling beradu Di Ditengah lingkaran warga. “Saku… Saku.. Saku” bunyi kaki peserta saling beradu.

“Kalau dulu orang tua kami bilang, Sebelumnya turun Hingga lapangan harus menca dulu, harus pakai adab,” ujar Didih Supriadi, Pada berbincang Didalam detikJabar, Minggu (17/5/2026).

Kearifan Lokal bincurang dilakukan Didalam saling menendang Dibagian tulang kering lawan menggunakan kaki. Arahnya Di lutut Hingga bawah. Meski terdengar keras, Kearifan Lokal itu justru dikenal menjunjung sportivitas. Setelahnya selesai bertanding, para Manajer biasanya saling bersalaman. Tidak ada dendam apalagi baper ketika keluar Di gelanggang.

“Yang sering ribut itu justru penontonnya, bukan Manajer Di lapangan,” kata Aki Didih sambil tertawa.

Penca Cimande, Filosofi Menghancurkan dan Merawat

Di balik kerasnya benturan kaki Di bincurang, penca Cimande menyimpan filosofi yang tidak hanya bicara soal menyerang. Untuk Komunitas Cimande, seseorang yang belajar penca tidak boleh berhenti Di kemampuan menghancurkan lawan.

Aki Didih mengatakan, orang tua terdahulu sudah menanamkan pemahaman bahwa orang yang belajar bela diri juga harus mampu merawat sesama.

“Lantaran kita belajar penca, belajar silat, pasti ada yang sampai bengkak, ada yang sampai patah, keseleo bisa terjadi. Orang tua dulu sudah menyiapkan, jangan hanya bisa merusak, tapi harus bisa memperbaiki,” ujarnya.

Filosofi itu pula yang membuat Kearifan Lokal penca Cimande tidak dilepaskan Di adab dan pengendalian diri. Sebelumnya belajar gerakan dasar, murid terlebih dahulu Memperoleh talek atau sumpah sebagai pondasi moral.

Talek itu berisi larangan mabuk, berjudi, melawan orang tua, hingga menyakiti orang lain. Menurut Aki Didih, penca tanpa adab hanya Akansegera melahirkan kesombongan.

“Talek itu pondasi agar Setelahnya belajar silat tidak ada kesombongan,” katanya.

Adu Tulang Kering Ala Cimande Foto: Andry Haryanto

Lantaran itu pula, Di bincurang yang terlihat keras sekalipun, para Manajer tetap menjaga batas. Mereka boleh saling Memutuskan, tetapi Setelahnya Laga usai mereka kembali duduk bersama, bercanda, dan bersalaman.

Untuk Komunitas Cimande, penca bukan semata urusan kekuatan tubuh. Di dalamnya ada pelajaran tentang menghormati lawan, menjaga emosi, hingga memahami kapan harus menyerang dan kapan harus menahan diri.

Pantauan Di arena pertarungan, tidak sedikit peserta yang meringis kesakitan usai berlaga. Tetapi tidak sedikit pula yang menahan sakit tanpa pemijatan ala Cimande usai beradu kuat tulang kering.

Dayat (16), salah seorang peserta bincurang mengaku sudah cukup sering mengikuti Kearifan Lokal tersebut, meski tidak bergabung Di perguruan penca tertentu. Remaja asal Kampung Sembare itu mengatakan dirinya ikut bincurang hanya bermodal keberanian dan kemauan sendiri.

“Belajar sendiri aja. Kemauan sendiri. Modal nekat,” ujar Dayat sambil tertawa kecil usai turun Di arena.

Malam itu Dayat dua kali masuk gelanggang. Baginya, bincurang bukan soal emosi atau mencari musuh. Justru ia mengaku lebih nyaman Berusaha Mengatasi lawan yang tidak dikenal.

“Kalau yang dikenal agak enggak enak, takut,” katanya.

Meski tulang kering dan lututnya sempat terasa ngilu akibat benturan keras, Dayat mengaku belum pernah Merasakan Luka serius Di mengikuti bincurang.

Hal serupa disampaikan Muhammad Azril (14). Remaja itu mengaku Mutakhir pertama kali turun Hingga arena bincurang Setelahnya diajak temannya. Awalnya ia hanya menonton Di pinggir lapang Sebelumnya akhirnya memberanikan diri masuk Hingga Ditengah arena.

“Tadi disuruh teman turun,” kata Azril.

Menurut Azril, aturan Di bincurang cukup sederhana. Para peserta hanya diperbolehkan menggunakan kaki Sebagai menyerang Dibagian tulang kering lawan. Tangan sama sekali tidak boleh digunakan.

“Kaki doang. Kalau tangan enggak boleh, memang aturannya begitu,” ujarnya.

Meski sempat terbawa emosi Pada bertanding, Azril mengatakan Laga tetap berakhir biasa saja. Tidak ada perkelahian lanjutan usai keluar Di arena. Peserta yang Merasakan luka biasanya langsung ditangani guru atau senior perguruan yang berada Di lokasi.

(yum/yum)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Adu Tulang Kering Ala Cimande, Pulangnya Tetap Salaman No Baper

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่