Anak harimau Benggala (Panthera tigris tigris) kembar Di Bandung Zoo, yaitu Huru dan Hara, mati Mutakhir-Mutakhir ini. Hara mati terlebih dahulu Di Selasa (24/3/2026). Dua hari Lalu, Di Kamis, saudaranya, Huru, menyusul Hingga haribaan Hyang Seda Niskala.
Peristiwa duka ini membuat sedih terutama orang-orang yang terlibat langsung mengurus keduanya. Huru dan Hara lahir Di pasangan induk Shah Rukh Khan (22 tahun) dan Jelita (4,5 tahun) Di 12 Juli 2025 Lewat proses ‘perjodohan’ yang panjang.
Ketika umurnya masih ‘kembang buruan’ (lucu selayaknya kanak-kanak), keduanya mati terjangkit Patogen panleukopenia. Patogen itu menular Di induknya. Penularan Patogen bisa Lewat produk anal atau Karya nasal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain para pengasuh Huru dan Hara, tentu Komunitas Secara Keseluruhan merasa kehilangan. Tak terkecuali orang Sunda yang Di kebudayaannya sangat lekat Di cerita harimau. Naskah kuno Wawacan Prebu Kian Santang menyebutkan para penghuni kerajaan Pajajaran yang bubar Lantaran khawatir terpengaruh Kian Santang, memilih pergi Hingga hutan-hutan dan berubah menjadi harimau.
Di Daerah Panjalu yang merupakan Pada Di Kabupaten Ciamis sekarang ini, Komunitas juga mengenal legenda Yang Terkait Di harimau. Ada anak harimau kembar yang menjadi asal-usul Maung Panjalu.
Bagaimana legenda anak harimau kembar itu? Simak ceritanya sampai tuntas Di artikel ini!
Bongbanglarang dan Bongbangkancana
Komunitas Di Kabupaten Ciamis, khususnya Di Panjalu, mengenal cerita turun-temurun mengenai sepasang harimau atau maung bernama Bongbanglarang dan Bongbangkancana. Keduanya adalah kakak-beradik. Bongbanglarang adalah jantan dan Bongbangkancana adalah betina.
Yetty Kusmiyati Hadish Di Bacaan berjudul ‘Sastra Lisan Sunda: Mite, Fabel, dan Legende’ terbitan Departemen P dan K Republik Indonesia, 1979, menuliskan cerita tentang anak kembar yang berubah menjadi harimau Di Panjalu. Cerita ini didapat Di penuturan R. Agus Sujanaatmaja. Ketika diwawancara Yang Terkait Di cerita ini tahun 1976, Agus berstatus sebagai veteran TNI. Begini ceritanya Di bahasa Indonesia:
Menurut tutur orang tua, putri raja Pajajaran diperistri Dari putra raja Majapahit. Waktu Lagi mengandung tujuh bulan, dia memaksa ingin pulang Hingga Pajajaran Untuk melahirkan Di sana. Tetapi tidak Menyambut izin, Lantaran itu perempuan itu pergi tanpa pamit, sampai terlunta-lunta berbulan-bulan Di jalan.
Waktu sampai Di Kampung Ganjar, Di Daerah Panjalu, putri ini melahirkan dua orang putra kembar; seorang wanita, seorang lainnya pria. Tembuninya ditempatkan Di sebuah periuk, dikuburkan Di bawah pohon Di tempat tersebut, yang Lalu Di sana menjadi kulah (kolam kecil).
Sesudah merasa kuat, lalu putri itu meneruskan perjalanan Hingga Pajajaran. Di Pajajaran, Dari kakeknya, kedua anak itu diberi nama Bongbanglarang dan Bongbangkancana.
Sesudah besar keduanya ingin menemui ayahandanya, tetapi tidak Menyambut izin Di ibundanya. Lantaran itu, mereka berdua pergi tanpa pamit hingga sampai Di Daerah Panjalu.
Kepala Masuk Hingga Periuk
Tidak jauh Di tempat mereka dahulu dilahirkan, ada sebuah pondok tempat tinggal kakek dan nenek petani. Keduanya merasa lapar dan haus, lalu minta makan kepada kakek dan nenek petani tersebut.
Nenek petani segera bertanak, memasak apa yang bisa dimakan. Di Pada hidangan sudah masak, dan Lantaran tidak ada air minum, si nenek petani pergi Membahas air Di kolam kecil yang Di mulanya merupakan tempat mengubur tembuni kedua anak tersebut.
Tetapi, tanpa izin dan kehadiran si nenek, kedua anak itu Lantaran laparnya langsung makan nasi Di periuknya.
Waktu nenek petani datang membawa air, Lantaran sangat haus, wadah air direbut Bongbangkancana, lalu direguknya langsung Di tempatnya. Wadah itu tiba-tiba masuk Hingga Di kepalanya dan tidak dapat dilepaskan.
Kakek dan nenek petani kebingungan, lalu menyuruh mereka Melakukan Kunjungan Hingga Kakek Garahang Untuk melepaskannya. Pergilah mereka Hingga kampung tempat Kakek Garahang berada. Bongbangkancana dibimbing Dari Bongbanglarang.
Di suatu tempat yang agak jauh Di kediaman, Dari Kakek Garahang periuk itu dipukul Di Kujang. Wadah berupa gerabah tanah itu pecah dan kepingannya yang jatuh Hingga tanah berubah menjadi sebuah kolam kecil. Kakek Garahang Lalu mengurus kolam kecil tersebut serta Memperkenalkan bahwa tidak boleh ada yang merambahnya.
Tidak Mendengar Nasihat Kakek Garahang
Kedua anak tersebut lalu tinggal Sambil waktu bersama Kakek Garahang. Tetapi, namanya juga anak-anak, Di suatu hari ketika Kakek Garahang Berencana meninggalkan Rumah, dia berpesan kepada mereka agar tidak bermain-main Di kolam yang berasal Di pecahan gerabah tadi.
Tetapi waktu Kakek Garahang sudah pergi, keduanya merasa penasaran ingin mengetahui kolam tersebut. Sebab, tampak Dari mereka airnya begitu bening dan jernih.
Maka, keduanya menuruni kolam tersebut. Ketika selesai, mereka pergi Hingga tepian kembali. Sampai Di tepi, tampaklah muka kakaknya menjadi harimau Lantaran tadi dia membasuh muka Di air itu, Sambil adiknya hanya kakinya yang berbulu.
Bongbangkancana menangis menjerit-jerit, diikuti Bongbanglarang. Keduanya menangis keras-keras, Supaya Di kepanikan itu, mereka akhirnya malah terjerembab masuk kolam. Seluruh tubuh mereka basah Dari air itu.
Maka, sewaktu naik kembali Hingga tepian kolam, keduanya sudah berubah bentuk menjadi harimau. Keduanya lalu kembali Hingga kediaman Kakek Garahang.
Waktu si kakek sudah datang, mereka memaparkan pengalamannya. Kakek Garahang menyuruh mereka meneruskan perjalanan Hingga Majapahit.
Perjalanan Panjang Hingga Majapahit
Di tubuh yang telah menjadi harimau, kedua anak kembar itu meneruskan perjalanan Hingga tanah ayahnya, Majapahit. Di perjalanan, waktu sampai Hingga sebuah tempat yang banyak ditumbuhi oyong (tumbuhan Untuk sayur semacam mentimun), keduanya terbelit Dari sulurnya Supaya tak bisa lepas. Pemilik kebun menemukannya, lalu mereka dihanyutkan Di sungai.
Di sungai, keduanya malah masuk Hingga Di bubu, alat Untuk Menyita ikan yang terbuat Di jalinan bambu. Dari pemiliknya, bubu diangkat, lalu keduanya dilepaskan. Mereka meneruskan perjalanan Hingga Majapahit.
Sampai Di Majapahit, mereka langsung datang Hingga keraton. Orang keraton tak tinggal diam melihat dua anak harimau masuk Hingga wilayahnya. Keduanya dikepung.
Sesudah dapat ditangkap, mereka ingin selamat lalu berbicara. Kedua harimau itu bisa bicara. Keduanya meriwayatkan siapa diri mereka hingga akhirnya diakui Dari raja. Dari raja, keduanya Lalu dikembalikan Hingga tanah kelahirannya, Panjalu.
Menurut cerita, Di kejadian ini terjadilah berbagai cegahan, pamali, atau tabu. Semua keturunan Panjalu tidak boleh makan nasi Di periuknya, menanam dan makan oyong, serta makan ikan yang berasal Di lukah dan bubu besar. Kalau cegahan itu dilanggar, dipercaya Berencana ada Dampaknya.
Halaman 2 Di 3
(orb/orb)
–>
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Anak Harimau Kembar Di Legenda Orang Panjalu











