Tabanan –
Untuk 10 ogoh-ogoh yang terpajang Di Taman Bung Karno Untuk Perayaan Seni Ogoh-Ogoh Singasana III, ada satu ogoh-ogoh yang Memperoleh cerita unik. Ogoh-ogoh tersebut bertajuk Bhisama Kepandean yang digarap STT Tri Puspajati, Banjar Lebah, Desa Tista, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali.
Ogoh-ogoh ini mengangkat cerita tentang bhisama atau pesan suci leluhur Untuk warga Pande yang berisi pantangan Sebagai tidak mengonsumsi ikan gabus atau be jeleg serta buah waluh (labu).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Ketua STT Tri Puspajati, I Made Pande Saputra, menceritakan tema tersebut diangkat Untuk cerita dan bhisama atau pesan suci leluhur yang hingga kini masih dipegang teguh Di warga Pande, khususnya Di Desa Tista.
“Cerita Untuk ogoh-ogoh ini kami angkat Lantaran Di Banjar Lebah sebagian besar warganya adalah Pande. Bhisama ini mengingatkan keturunan Pande agar tidak mengonsumsi ikan jeleg serta buah waluh,” kata Pande Saputra.
Ia menjelaskan, kisah tersebut berawal Di 1556 Masehi Pada terjadi pemberontakan Di pemerintahan Dalem Bekung yang dipimpin Arya Batan Jeruk. Situasi kerajaan yang kacau membuat warga Pande menjadi sasaran Membunuh Orang Lain Di pasukan kerajaan. Walhasil, sebagian besar warga Pande Lalu melarikan diri Ke berbagai Daerah Di Bali.
Untuk pelarian itu, warga Pande berdoa kepada Bhatara Pande, Ida Ratu Bagus Pande. Mereka Lalu Menyambut perlindungan Di bersembunyi Di Di air terjun Sawah Gambangan. Di tempat itu, ikan gabus yang disebut Jangga Wadita dipercaya menjadi pelindung Supaya para prajurit kerajaan tidak menemukan tempat persembunyian mereka.
Di Di Itu, Pada bersembunyi Di air terjun tersebut, mereka juga tertolong Di tanaman waluh atau labu yang menutupi tempat persembunyian. Peristiwa tersebut Lalu melahirkan sumpah atau bhisama yang diwariskan secara turun-temurun yakni keturunan Pande tidak Berencana memakan ikan gabus serta waluh.
Kisah itu Lalu diterjemahkan Untuk wujud ogoh-ogoh. Sosok ikan gabus raksasa digambarkan berada Di atas gua sebagai simbol pelindung keturunan Pande. Sambil tanaman waluh yang menjalar Di Di goa melambangkan kekuatan perlindungan Untuk bahaya. Di sebelahnya, terdapat prajurit yang diceritakan memburu warga Pande.
Pande Saputra menambahkan, pembuatan ogoh-ogoh tersebut memakan waktu Di dua setengah bulan. Proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong Di anggota STT Tri Puspajati.
Melewati ogoh-ogoh Bhisama Kepandean, para pemuda Di Banjar Lebah ingin mengingatkan kembali pentingnya menjaga warisan nilai dan pesan leluhur.
“Ogoh-ogoh bukan sekadar karya Karyaseni menjelang pengerupukan, tetapi juga media Sebagai merawat ingatan kolektif tentang sejarah dan identitas warga Pande Di Desa Tista,” pungkasnya.
(nor/nor)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Ikan Gabus Pelindung Leluhur Pande Karena Itu Tema Ogoh-ogoh STT Tri Puspajati











