Klungkung –
Pesisir Pantai Kusamba, Desa Kusamba, Klungkung, Bali, dipadati warga yang membawa sesajen Di Minggu (3/5/2026) pagi. Mereka datang Sebagai menjalani Kearifan Lokal ‘Ngangkid’, prosesi sakral Untuk rangkaian upacara tiga bulanan (nelubulanin) Untuk bayi yang Terbaru lahir, yang diyakini sebagai momen menjemput ruh sang anak Bersama laut.
Kearifan Lokal ini dipercaya sebagai simbol pembersihan diri sekaligus penegasan kehadiran sang bayi Di dunia nyata.
“Ngangkid ini warisan turun-temurun. Maknanya adalah memohon izin kepada penguasa laut, Ida Batara Baruna, dewa laut, sekaligus menyucikan sang bayi Sebelumnya ia menginjakkan kaki Di tanah Sebagai pertama kalinya,” ujar Mangku Desa Adat Kusamba I Nyoman Badung Di ditemui detikBali Di lokasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan detikBali, prosesi diawali Bersama persembahyangan bersama Di pinggir pantai. Sejumlah sesajen disiapkan dan dupa dinyalakan, Sambil Itu mantra-mantra suci dirapalkan Di Ditengah hembusan angin laut.
Setelahnya itu, tiga orang membawa keranjang bambu yang dimasukkan Di Untuk jaring ikan. Mereka berjalan Di bibir pantai, menunggu ombak datang Sebagai mengisi air Di Untuk keranjang tersebut.
“Itulah ruh anak yang kita minta Sebagai diberikan Ida Batara Baruna,” terang Badung.
Menurut Badung, selain Di pantai, prosesi Ngangkid juga dapat dilakukan Di sungai. Tetapi, Komunitas pesisir umumnya memilih pantai Sebab diyakini Memperoleh energi penyucian yang lebih kuat.
“Ini adalah bentuk bhakti kita kepada leluhur dan alam. Bersama Ngangkid, kita berharap si anak tumbuh sehat dan selalu Untuk lindungan-Nya,” imbuhnya.
Prosesi yang berlangsung khidmat ini berakhir Di pukul 09.00 Wita. Setelahnya Bersama pantai, keluarga melanjutkan rangkaian upacara Di Tempattinggal masing-masing Sebagai prosesi natab sesayut.
“Ngangkid ini berarti mengangkat. Kalau istilah Di sini, nasi yang sudah matang diangkid. Sampai Di ini, semua Komunitas yang Memperoleh anak melakukannya. Semua anak yang berusia tiga bulan Berencana diupacarai,” jelas Badung.
Mangku lainnya, Wayan Siregeg, yang juga memimpin prosesi ngangkid Di Pantai Kusamba, menyebut selain menjemput ruh sang bayi, momen ini juga menjadi waktu penetapan nama.
“Karena Itu Di ngangkid ini, kita juga menetapkan nama yang sudah diberikan Dari orang tuanya,” jelasnya.
Ia menambahkan, prosesi ngangkid tidak selalu Menampilkan bayi Di lokasi upacara. Sebagian keluarga membawa bayi, sebagian lainnya menggunakan simbol berupa boneka kayu sebagai pengganti kehadiran.
Hingga kini, Kearifan Lokal Ngangkid Di Klungkung tetap lestari dan menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus Menunjukkan kuatnya nilai spiritual Untuk kehidupan Komunitas pesisir Bali Timur.
(dpw/dpw)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kearifan Lokal Ngangkid, Ritual Suci Bayi Tiga Bulanan











