Kebiasaan Sakral Pertempuran Pandan Ke Karangasem Diserbu Wisatawan


Karangasem

Ratusan Komunitas hingga wisatawan domestik dan mancanegara memadati Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Untuk Menyaksikan Kebiasaan mekare-kare atau Pertempuran pandan. Mereka rela berdesakan Untuk melihat langsung Kebiasaan sakral yang hanya digelar setahun sekali itu.

Berdasarkan pantauan Ke lokasi, Komunitas mulai berdatangan Sebelum siang hari. Sejumlah fotografer Di berbagai Daerah hingga wisatawan tampak berburu posisi terdepan Untuk Menyaksikan gambar terbaik Di Pertempuran pandan dimulai.

Sebelumnya Kebiasaan berlangsung, para pemuda laki-laki dan perempuan asli Tenganan Pegringsingan terlihat menyiapkan berbagai sarana, mulai Di daun pandan yang digunakan Untuk berperang hingga perlengkapan lainnya.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Pertempuran pandan dimulai, Komunitas dan wisatawan langsung memadati area arena. Malahan, beberapa penonton membawa bangku hingga digendong temannya agar bisa melihat jalannya Kebiasaan Di lebih jelas.

Salah seorang penonton, Made Dwipayana asal Kabupaten Badung, mengaku terkesan bisa Menyaksikan langsung Kebiasaan Pertempuran pandan Ke Tenganan Pegringsingan. Menurutnya, para peserta benar-benar bertarung menggunakan daun pandan berduri hingga Menyaksikan luka.

“Saya sebenarnya sering Hingga sini sama tamu, tapi kalau Untuk melihat Kebiasaan Pertempuran pandan secara langsung Mutakhir pertama. Ini Sebab anak saya yang ingin melihat langsung,” kata Dwipayana, Rabu (10/6/2026).

Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan I Putu Yudiana mengatakan Kebiasaan Pertempuran pandan digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra yang dipercaya sebagai Dewa Pertempuran. Kebiasaan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun Untuk rangkaian Usaba Sambah Desa Tenganan Pegringsingan.

Kebiasaan Pertempuran pandan yang dilaksanakan Ke Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali, Rabu (10/6/2026). Foto: I Wayan Selamat Juniasa/detikBali

Menurut kepercayaan Komunitas adat Tenganan Pegringsingan yang menganut Hindu Dharma Untuk sekaa Indra, Pertempuran Untuk Kebiasaan tersebut bukan berarti melawan musuh, melainkan simbol penghormatan dan tanggung jawab para remaja putra Di keluarga serta desa.

Yudiana menjelaskan prosesi Pertempuran pandan diawali Di para remaja putra dan putri naik Hingga puncak gunung Ke Desa Tenganan Pegringsingan Ke pagi hari. Mereka menghaturkan kelapa muda atau kuud Ke atas puncak gunung.

Setelahnya itu, para remaja putra bertugas mencari daun pandan yang nantinya digunakan Untuk Pertempuran pandan. Sambil Itu remaja putri menyiapkan Terapi penawar atau boreh Untuk mengobati luka para peserta.

Menurut kepercayaan Komunitas setempat, boreh tersebut mampu mempercepat penyembuhan luka akibat terkena duri pandan. Luka peserta dipercaya mulai mengering Untuk sehari dan sembuh total Setelahnya satu minggu.

“Untuk Kebiasaan Pertempuran pandan Berencana diikuti Dari para remaja putra mulai Di anak-anak hingga dewasa. Tetapi juga boleh diikuti Dari Komunitas luar Desa Malahan para wisatawan yang ingin ikut,” ucap Yudiana.

Usai mengikuti Pertempuran pandan, seluruh peserta saling merangkul tanpa menyimpan dendam. Mereka Lalu mengikuti Kebiasaan megibung atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan.

Yudiana menambahkan, tahun ini menjadi kali kelima Kebiasaan Pertempuran pandan disinkronkan Di Tenganan Pegringsingan Culture Perayaan Seni. Pengunjung tidak hanya dapat Menyaksikan Kebiasaan Pertempuran pandan, tetapi juga menikmati Citarasa dan hiburan yang disediakan panitia.

“Ini tahun kelima Kebiasaan Pertempuran pandan disinkronkan Di Perayaan Seni. Semoga ini bisa lebih mengenalkan Desa Tenganan Pegringsingan secara lebih luas,” harap Yudiana.

(dpw/dpw)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kebiasaan Sakral Pertempuran Pandan Ke Karangasem Diserbu Wisatawan

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่