Pangandaran –
Di Ditengah generasinya yang akrab Bersama layar gawai dan Tren digital, Muhamad Ilham Alfarizi (17) justru memilih jalan yang berbeda. Siswa kelas XI IPS SMAN 1 Parigi itu menaruh hati Di dunia perwayangan dan menjadikannya Dibagian Di keseharian yang ia tekuni Bersama serius.
Kedua tangannya tampak luwes memainkan dua boneka wayang kulit. Gerakannya terlatih, ekspresinya menyatu Bersama karakter yang dibawakan. Semua itu ia lakukan Di atas ranggon-saung sederhana beralaskan papan kayu dan berdinding anyaman bambu yang dibuat sang ayah. Tempat itu kini menjadi ruang kreatif sekaligus panggung kecil Untuk Ilham Untuk menghidupkan tokoh-tokoh wayang yang ia cintai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilham bukan sekadar remaja Bersama Kesenangan yang berbeda. Ia menjadi salah satu generasi muda yang Berusaha menjaga keberlangsungan wayang golek, mahakarya Kearifan Lokal Dunia Sunda yang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity Sebelum 7 November 2003.
Kecintaan Ilham Di wayang ternyata telah tumbuh Sebelum usia sangat dini. Di berusia tiga tahun, ayahnya menghadiahinya sebuah wayang tokoh Batara Rama, sosok ksatria bijaksana titisan Dewa Wisnu Di kisah Ramayana. Hadiah sederhana itu ternyata menjadi awal perjalanan panjangnya mengenal dunia perwayangan.
Yadi, ayah Ilham, mengaku tidak pernah menyangka putranya Akansegera Memiliki ketertarikan sebesar itu Di Karyaseni tradisional.
“Padahal dulu saya hanya Menyediakan hadiah berupa wayang tokoh Batara Rama dan wiracarita Ramayana,” ucap Yadi belum lama ini.
Seiring bertambah usia, kecintaan itu Lebih kuat. Di duduk Di bangku sekolah dasar, Ilham hampir selalu membawa wayangnya Ke mana pun pergi. Melihat minat anaknya yang terus tumbuh, Yadi Setelahnya Itu mempertemukan Ilham Bersama seorang seniman sekaligus dalang wayang Di Pangandaran, Abah Enju.
“Waktu saya Ke Abah Enju, abah senang katanya dengar anak muda pengin belajar wayang, Lantaran Di sini sudah susah lagi penerus,” ucapnya.
Di bawah bimbingan Abah Enju, Ilham tidak hanya belajar memainkan wayang sebagai dalang, tetapi juga mendalami proses pembuatannya. Ia belajar mengubah balok kayu albasia menjadi tokoh-tokoh yang Memiliki karakter dan nilai Karyaseni tinggi.
Proses pembuatan wayang bukan Perkara Hukum sederhana. Dimulai Di pembentukan dasar, dilanjutkan Bersama proses pengukiran menggunakan Pisau khusus Bersama ciri khas ukiran Pangandaran yang lebih Di dan detail, hingga tahap pewarnaan dan penyelesaian akhir yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Menurut Yadi, selain gemar memainkan wayang, Ilham juga sangat menikmati proses membuat wayang Bersama tangannya sendiri.
Untuk menyelesaikan satu kepala wayang saja, Ilham membutuhkan waktu Disekitar tiga hingga tujuh hari. Meski demikian, Abah Enju menilai Ilham Memiliki kemampuan belajar yang cepat Di bidang kriya yang tidak mudah dikuasai.
Menariknya, kegemaran Di Karyaseni tradisional tidak membuat Ilham melupakan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Menonton pertunjukan wayang hingga pukul 03.00 WIB sudah menjadi hal biasa baginya, Tetapi keesokan harinya ia tetap datang Ke sekolah tepat waktu dan menjalani Kegiatan belajar seperti biasa.
Kecintaannya Di dunia perwayangan juga membawanya aktif mengikuti berbagai ajang Karyaseni Di tingkat sekolah maupun kabupaten. Ilham beberapa kali terlibat Di perlombaan Karyaseni kriya.
Di 2025, ia tampil sebagai dalang Di Kegiatan Gelar Karya P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Di SMAN 1 Parigi. Kini, kemampuan dan dedikasinya mengantarkannya menjadi perwakilan sekolah Di ajang Perayaan Seni Lomba Karyaseni Siswa dan Sastra Nasional (FLS3N) Di bidang kriya.
Tidak berhenti Di sana, Ilham juga mulai Membuat sisi kewirausahaannya. Melewati akun TikTok pribadinya, @baskom.tijungkir, ia memasarkan hasil karya yang dibuat sendiri. Satu kepala wayang buatannya dibanderol mulai Di Rp100 ribu hingga Rp300 ribu. Kesenangan yang awalnya berangkat Di kecintaan Di Kearifan Lokal Dunia kini juga menjadi Kegiatan produktif yang menghasilkan.
Ilham pun Memiliki cita-cita yang jelas. Ia ingin melanjutkan Pembelajaran Ke Institut Karyaseni Kearifan Lokal Dunia Indonesia (ISBI) Bandung Di Fakultas Karyaseni Pertunjukan agar dapat mendalami Karyaseni perwayangan secara lebih serius.
Meski tak jarang Merasakan komentar bahwa hobinya terkesan kuno atau tidak sesuai Bersama anak seusianya, Ilham memilih tetap melangkah.
“Banyak yang bilang Kesenangan ini kolot atau primitif, tapi menurut saya ini Karyaseni yang perlu lestari,” ucapnya.
Menurut Ilham, dunia perwayangan bukan sekadar hiburan, tetapi ruang yang penuh filosofi dan nilai kehidupan.
“Lantaran penuh makna dan karya, kepuasannya itu bisa mempertahankan kelestarian Kearifan Lokal Dunia yang bagus,” katanya.
Keinginannya Untuk terus belajar pun Lebih kuat.
“Ya pengen kuliah Di ISBI Bandung, pengen mendalami bidang Karyaseni Untuk membuat pertunjukan Karyaseni wayang lebih sering lagi,” ucapnya.
Kisah Ilham menjadi bukti bahwa regenerasi pelestari Kearifan Lokal Dunia masih terus berjalan. Di Ditengah perubahan zaman, ia Menunjukkan bahwa anak muda tetap bisa mencintai akar budayanya, menjaga warisan leluhur, dan membawanya tetap hidup Di masa Di.
(dir/dir)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kisah Ilham, Remaja Pangandaran yang Jatuh Cinta Ke Wayang











