Solo –
Tari Bedhaya Anglir Mendhung merupakan salah satu tarian pusaka terpenting milik Pura Mangkunegaran. Tarian sakral ini ditampilkan Ke momentum besar seperti jumenengan dalem dan tingalan jumenengan dalem, Agar menempati posisi istimewa Untuk struktur Kebiasaan Global Kadipaten.
Makna tari ini berakar kuat Ke perjalanan panjang KGPAA Mangkunegara I atau RM Said. Bedhaya Anglir Mendhung diciptakan sebagai karya monumental yang merekam perjuangannya melawan tekanan politik, perpecahan internal, hingga pergulatan spiritual Ke masa awal berdirinya Mangkunegaran.
Sebagai memahami lebih Untuk makna, sejarah, dan simbolisme tarian sakral ini, yuk simak uraian lengkap Di bawah ini, detikers!
Nilai utamanya:
- Bedhaya Anglir Mendhung adalah tarian sakral Mangkunegaran yang merekam perjuangan Mangkunegara I dan Memiliki fungsi penting Untuk upacara kerajaan.
- Struktur tari, formasi tujuh penari, serta motif busana dan properti memuat simbol perjuangan, persahabatan, dan nilai religio-magis pendiri istana.
- Tarian ini sempat hilang Di Mangkunegaran dan hidup kembali Melewati rekonstruksi besar Ke 1981 sebagai upaya memulihkan identitas Kebiasaan Global kadipaten.
Makna Tari Bedhaya Anglir Mendhung
Berdasarkan artikel Bedhaya Anglirmendhung, a Sacred Dance at Mangkunegaran: The Study of Aesthetic Authority and Characteristics karya Sriyadi dkk serta Religio-Magis Srimpi Anglirmendhung Di Keraton Surakarta karya Mt Supriyanto, berikut ini adalah makna mendalam Di balik tari Bedhaya Anglir Mendung.
1. Asal-usul Nama Anglir Mendhung
Terdapat kisah unik Di balik pemberian nama Anglir Mendhung yang berarti awan tebal. Nama ini lahir Di RM Said atau Mangkunegara I Lagi beristirahat Di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba awan mendung datang disertai angin kencang dan hujan yang sangat lebat. Anehnya, tubuh RM Said tetap kering dan tidak terkena air hujan sedikit pun. Peristiwa ajaib inilah yang mengilhami penciptaan tarian yang dipercaya bisa mendatangkan hujan.
Asal-usul nama ini membuat Bedhaya Anglir Mendhung dikeramatkan Dari Mangkunegaran. Konon, setiap tarian tersebut dipentaskan, selalu ada hujan yang menyertai.
2. Bercerita tentang Perjuangan RM Said
Tari Bedhaya Anglir Mendhung adalah pusaka penting Di Pura Mangkunegaran. Tarian ini memuat jejak sejarah, nilai perjuangan, dan simbol kedekatan para pendiri istana. Maknanya tidak tunggal, tetapi saling terhubung Untuk tiap Pada tarian.
Tari ini diciptakan Ke masa Mangkunegara I. Nama aslinya adalah Raden Mas Said. Ia dikenal sebagai tokoh yang gigih melawan tekanan politik Ke zamannya. Kisah perjuangannya menjadi dasar utama makna tarian ini.
Bedhaya Anglir Mendhung tidak berkaitan Di mitos Ratu Kidul sebagaimana dua bedhaya lain, yaitu Ketawang dan Semang. Keduanya memuat tema penyatuan raja Di penguasa Laut Selatan. Tema itu dipercaya memberi legitimasi spiritual Bagi raja.
Bedhaya Anglir Mendhung justru berbeda, tarian ini memotret perjalanan RM Said Di berjuang Di Ponorogo. Ia Berjuang Di konflik Di Belanda dan Pangeran Mangkubumi. Ketegangan politik itu menjadi dasar gagasan tarian.
Tokoh penting lain juga hadir Untuk makna tarian. RM Said Memiliki dua sahabat Didekat. Mereka adalah Rangga Panambang dan Patih Kudanawarsa. Ikatan mereka menjadi simbol kesetiaan Untuk masa sulit.
Ikatan itu divisualkan Untuk formasi tarian. Ada momen ketika tiga penari berdiri, dan lainnya duduk. Posisi ini disebut rakit gelar, rakit berarti formasi dan gelar berarti susunan yang dipresentasikan Di Di tamu. Formasi itu melambangkan tiga sahabat yang saling menopang.
Simbol ini dipertegas Untuk ritual Ruwahan Mangkunegaran. Untuk ritual itu ada gambar wong telu nunggang rembulan. Maknanya adalah tiga orang yang berjalan bersama. Simbol itu merujuk Ke Said, Panambang, dan Kudanawarsa.
2. Makna Formasi dan Jumlah Penari
Tarian ini dibawakan Dari tujuh penari. Angka itu berbeda Di Bedhaya Ketawang dan Semang yang memakai sembilan penari. Perbedaan angka menciptakan bentuk formasi yang berbeda.
Bedhaya Anglir Mendhung tidak memakai rakit lajur. Formasi ini biasa dipakai Untuk bedhaya istana besar. Tarian ini juga tidak memakai formasi tiga-tiga Di susunan dua baris yang saling berhadapan.
Sebagai gantinya, formasi tarian lebih beragam. Polanya menyesuaikan jumlah penari. Lantaran itu, bentuk tariannya khas Mangkunegaran. Keragaman pola memberi ruang ekspresi atas tema perjuangan.
Untuk dua bedhaya lain, ada peran batak (akal) dan endhel (nafsu). Dua peran itu melambangkan penyatuan sifat manusia. Konsep itu tidak muncul Untuk Bedhaya Anglir Mendhung Lantaran fokusnya adalah kisah perjuangan, bukan tema universal.
3. Makna Busana dan Properti Tarian
Busana penari memakai dasar Bedhaya Ketawang. Akan Tetapi ada perbedaan penting, yaitu penari tidak memakai paes ageng atau rias pengantin Jawa. Ketidakhadiran paes Menunjukkan tarian ini bukan tarian penyatuan spiritual.
Perbedaan juga tampak Ke kain kampuh atau kain panjang yang menutup tubuh penari. Ketawang memakai motif alas-alasan yang menggambarkan hutan dan kesuburan. Semang memakai motif semen yang mengandung unsur tumbuhan.
Sambil Itu, Bedhaya Anglir Mendhung memakai motif alas-alasan atau rajah tumbal. Rajah tumbal adalah motif doa perlindungan yang Yang Terkait Di nilai religius pendiri Mangkunegaran. RM Said dikenal Didekat Di ajaran tasawuf yang menekankan penyucian diri dan kedekatan Di Tuhan.
Ke masa rekonstruksi, tarian memakai busur dan panah. Properti ini mempertegas tema perjuangan. Busur dan panah menjadi simbol kesiapan Berjuang Di tekanan politik.
Bedhaya Anglir Mendhung Sempat ‘Hilang’ Di Mangkunegaran
Eksistensi Tari Bedhaya Anglir Mendhung Di Pura Mangkunegaran ternyata sempat Merasakan masa vakum. Sriyadi dkk Untuk Eksperimen berjudul Bedhaya Anglirmendhung, a Sacred Dance at Mangkunegaran: The Study of Aesthetic Authority and Characteristics menyebut tarian ini pernah hilang Di lingkungan Kadipaten.
Peristiwa tersebut bermula Di masa pemerintahan Mangkunegara III yang menjabat sebagai penguasa. Ke periode itu, tarian pusaka ini dipersembahkan kepada Sunan Spike Buwana IV. Penyerahan dilakukan Lantaran Mangkunegara III diambil menjadi menantu Dari raja Keraton Solo.
Akibat penyerahan tersebut, Bedhaya Anglir Mendhung tidak lagi ditarikan Di lingkungan Pura Mangkunegaran. Tarian ini Lalu bertransformasi menjadi Srimpi Anglirmendhung Di Untuk Kebiasaan Keraton Solo. Mt Supriyanto Untuk artikel Religio-Magis Srimpi Anglirmendhung Di Keraton Surakarta menyebutkan bahwa Anglirmendhung merupakan ‘adik’ Di tari sakral Bedhaya Ketawang. Keduanya Memiliki kesamaan prinsip Ke sebutan nama, bentuk, hingga penggunaan iringan kemanak.
Menurut catatan sejarah, akar tarian ini diduga sudah ada Sebelum zaman Kartasura. Serat Wedhapradangga menjelaskan bahwa Alunan iringannya mengacu Ke karya agung Sultan Agung Mataram.
Mangkunegara I Lalu memprakarsai tarian ini yang awalnya hanya ditarikan tiga orang. Jumlah penari Terbaru diubah menjadi tujuh orang Ke masa pemerintahan Mangkunegara II. Hal ini sesuai aturan bahwa kadipaten hanya boleh menampilkan bedhaya Di tujuh penari. Sambil Itu bedhaya Di sembilan penari hanya boleh ditampilkan Di Keraton.
Sesudah puluhan tahun hilang, upaya Sebagai menghidupkan kembali tarian ini akhirnya dilakukan. Rekonstruksi besar-besaran dimulai Ke tahun 1981 Di masa kepemimpinan Mangkunegara VIII. Proses ini melibatkan tokoh Karya Seni seperti Moelyono Sastranaryatmo dan RAy Praptini Partaningrat. Langkah berani ini diambil Sebagai memulihkan identitas Kebiasaan Global asli milik Pura Mangkunegaran. Kini, tarian tersebut telah kembali dan diakui sebagai pusaka keramat Dari keluarga kerajaan.
Bedhaya Anglir Mendhung menjadi saksi perjalanan politik dan spiritual Mangkunegara I yang diwariskan lewat bahasa tari. Semoga bermanfaat, detikers!
FAQ
Apa makna utama Tari Bedhaya Anglir Mendhung?
Bedhaya Anglir Mendhung memuat kisah perjuangan Mangkunegara I (RM Said) Untuk pendirian Mangkunegaran. Tarian ini menggambarkan tekanan politik yang ia hadapi, kesetiaan tiga sahabat Untuk masa sulit, serta perlindungan spiritual yang dipercaya menaungi sang pemimpin. Tidak seperti Bedhaya Ketawang dan Semang, tarian ini tidak mengusung tema penyatuan raja Di Ratu Kidul. Fokusnya lebih Ke perjalanan historis dan religio-magis pendiri kadipaten.
Mengapa tarian ini memakai tujuh penari, bukan sembilan seperti bedhaya lain?
Jumlah tujuh penari berkaitan Di aturan kadipaten: Mangkunegaran hanya boleh mementaskan bedhaya Di tujuh penari, sedangkan formasi sembilan khusus Sebagai Keraton Solo.
Benarkah Bedhaya Anglir Mendhung sempat hilang Di Mangkunegaran?
Ya. Ke masa Mangkunegara III, tarian ini dipersembahkan kepada Sunan Spike Buwana IV Agar tidak lagi dipentaskan Di Pura Mangkunegaran. Di lingkungan Keraton Solo, tarian tersebut berkembang menjadi Srimpi Anglirmendhung. Barulah Ke tahun 1981, Di masa Mangkunegara VIII, tarian ini direkonstruksi secara besar-besaran Dari para maestro tari Sebagai mengembalikan identitas budayanya. Kini, Bedhaya Anglir Mendhung kembali menjadi pusaka keramat Mangkunegaran.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Makna Tari Bedhaya Anglir Mendhung, Gambarkan Perjuangan Mangkunegara I











