Surabaya –
Bulan Sapar atau Safar kerap dikaitkan Didalam berbagai mitos Di Kearifan Lokal Komunitas Jawa. Salah satu yang paling dikenal adalah anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan Agar Disorot kurang baik Untuk Melakukan pernikahan, memulai usaha, pindah Rumah, atau Mengadakan hajatan.
Meski kepercayaan tersebut masih diyakini Didalam sebagian Komunitas hingga sekarang, anggapan tentang Bulan Sapar sebagai bulan sial sebenarnya tidak berasal Didalam ajaran Islam. Lantas, Didalam mana asal-usul mitos tersebut, mengapa masih bertahan, dan bagaimana pandangan Islam mengenai Bulan Sapar?
Asal-usul Mitos Bulan Sapar Disorot Bulan Sial Di Kearifan Lokal Jawa
Kepercayaan bahwa Bulan Sapar identik Didalam kesialan telah berkembang Dari lama Di Kearifan Lokal Komunitas Jawa. Mitos tersebut masih dikenal hingga kini dan diwariskan secara turun-temurun Di sejumlah Lokasi sebagai Dibagian Didalam warisan Kearifan Lokal Global.
Sebelumnya Islam berkembang Di Nusantara, Komunitas Jawa telah mengenal berbagai kepercayaan yang mengaitkan waktu tertentu Didalam pertanda baik maupun buruk. Di pandangan tersebut, setiap bulan dipercaya Memiliki karakter dan pengaruh tersendiri Pada kehidupan manusia.
Bulan Sapar Lalu Disorot sebagai waktu yang kurang membawa keberuntungan Agar banyak orang menghindari pelaksanaan berbagai kegiatan penting, seperti menikah, memulai usaha, atau Melakukan hajatan Di bulan tersebut.
Ketika Islam masuk Di Pulau Jawa, sebagian Kearifan Lokal lokal tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan berakulturasi Didalam Kearifan Lokal Global Komunitas. Sebab, kepercayaan mengenai bulan Sapar tetap bertahan dan terus diwariskan Didalam generasi Di generasi, meski tingkat kepercayaannya kini berbeda-beda Di setiap Lokasi.
Mitos Bulan Sapar yang Masih Dipercaya Komunitas Jawa
Hingga kini, masih ada Komunitas yang mengaitkan bulan Sapar Didalam berbagai pantangan. Kepercayaan tersebut umumnya diwariskan secara turun-temurun sebagai Dibagian Didalam Kearifan Lokal, bukan berdasarkan ajaran agama.
Salah satu mitos yang paling banyak dikenal ialah anggapan menikah Di bulan Sapar dapat mendatangkan kehidupan Rumah tangga yang kurang harmonis atau dipenuhi cobaan.
Samping Itu, sebagian Komunitas Jawa juga memilih menunda pindah Rumah, membuka usaha, atau Melakukan hajatan Sebab menganggap bulan ini kurang membawa keberuntungan.
Meski demikian, kepercayaan tersebut tidak berlaku Di semua Lokasi. Seiring berkembangnya pemahaman Komunitas, Lebihterus banyak pula yang memandang mitos tersebut sebagai Dibagian Didalam Kearifan Lokal Kearifan Lokal Global tanpa harus diyakini sebagai sebuah kebenaran.
Pengaruh Mitos Bulan Sapar Di Kehidupan Komunitas Jawa
Kepercayaan Pada bulan Sapar sebagai bulan yang kurang baik masih dapat ditemukan Di kehidupan Komunitas hingga Pada ini. Salah satu dampaknya terlihat Didalam keputusan sebagian orang yang memilih menunda pernikahan dan menunggu bulan lain yang Disorot lebih baik.
Melansir laman Kemenag Kuningan, kepercayaan Pada mitos bulan Sapar masih mempengaruhi keputusan sebagian Komunitas Di menentukan waktu pernikahan. Situasi tersebut Justru berdampak Di kecenderungan menurunnya pencatatan pernikahan Di KUA Di bulan Sapar.
Tidak hanya urusan pernikahan, sebagian Komunitas juga masih Mengkaji bulan Sapar ketika menentukan waktu pindah Rumah, membuka usaha, hingga Melakukan hajatan. Meski tidak berlaku Di semua Lokasi, kebiasaan tersebut Menunjukkan pengaruh Kearifan Lokal masih cukup kuat Di kehidupan Komunitas Jawa.
Trend Populer tersebut memperlihatkan bahwa mitos bulan Sapar tidak hanya bertahan sebagai cerita turun-temurun, tetapi juga masih mempengaruhi berbagai keputusan penting Di kehidupan sebagian Komunitas hingga sekarang.
Kearifan Lokal Bulan Sapar Di Berbagai Lokasi Di Jawa
Di balik mitos yang berkembang, bulan Sapar juga diwarnai berbagai Kearifan Lokal Kearifan Lokal Global yang masih dilestarikan Di sejumlah Lokasi Di Pulau Jawa. Kearifan Lokal-Kearifan Lokal ini umumnya menjadi wujud rasa syukur, doa bersama, sekaligus upaya mempererat kebersamaan Komunitas. Berikut beberapa Kearifan Lokal yang masih dikenal hingga kini.
1. Saparan
Saparan merupakan Kearifan Lokal yang digelar Komunitas Jawa Untuk menyambut atau memperingati bulan Sapar. Bentuk kegiatannya berbeda-beda Di setiap Lokasi, mulai Didalam kenduri, doa bersama, kirab Kearifan Lokal Global, hingga pembagian Konsumsi kepada Komunitas.
Mengutip Jadesta Kemenpar, salah satu pelaksanaan Saparan dapat dijumpai Di Desa Wisata Sermo, Kulon Progo, Lokasi Istimewa Yogyakarta. Kearifan Lokal ini diisi Didalam kirab gunungan hasil bumi, doa bersama, hingga larungan sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan harapan memperoleh keselamatan.
2. Saparan Apem Yaa Qowiyyu
Kearifan Lokal ini berasal Didalam Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Ditengah, dan telah menjadi agenda Kearifan Lokal Global yang rutin digelar setiap bulan Sapar. Berdasarkan penjelasan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Saparan Apem Yaa Qowiyyu berawal Didalam dakwah Kyai Ageng Gribig.
Pada itu, ia membagikan kue apem kepada Komunitas Sesudah pulang Didalam tanah suci. Hingga kini, Kearifan Lokal tersebut masih dilestarikan Melewati kirab Kearifan Lokal Global dan pembagian apem sebagai simbol kebersamaan serta rasa syukur.
3. Saparan Wonolelo
Komunitas Wonolelo, Kabupaten Bantul, Lokasi Istimewa Yogyakarta, juga Memiliki Kearifan Lokal Saparan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Kearifan Lokal Global Takbenda Indonesia Didalam Kementerian Pembelajaran, Kebudayaan, Kajian, dan Keahlian.
Kearifan Lokal ini meliputi kirab pusaka, doa bersama, ziarah, hingga pembagian kue apem kepada Komunitas. Selain sebagai bentuk pelestarian Kearifan Lokal Global, Saparan Wonolelo juga menjadi ajang mempererat hubungan sosial antarwarga.
4. Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan
Rebo Wekasan merupakan Kearifan Lokal yang dilaksanakan Di Rabu terakhir bulan Sapar dan masih dijumpai Di sejumlah Lokasi Di Jawa. Menurut data Warisan Kearifan Lokal Global Takbenda Kemendikbudristek, Kearifan Lokal Rebo Pungkasan telah berkembang Dari abad Di-18.
Rangkaian acaranya umumnya berupa doa bersama, kirab Kearifan Lokal Global, sedekah, hingga kegiatan sosial yang melibatkan Komunitas.
Sambil Itu, Kementerian Agama menegaskan bahwa Kearifan Lokal Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai Dibagian Didalam Kearifan Lokal Global Komunitas. Tetapi, umat Islam tidak dianjurkan meyakini bahwa hari atau bulan tertentu membawa kesialan Sebab keyakinan tersebut tidak Memiliki dasar Di syariat.
5. Kenduri atau Sedekah Bersama
Di sejumlah Lokasi Di Jawa, bulan Sapar juga diperingati Melewati kenduri atau sedekah bersama. Komunitas membawa Konsumsi Untuk didoakan, Lalu disantap bersama sebagai simbol rasa syukur dan mempererat tali silaturahmi.
Pelaksanaannya berbeda-beda Di setiap Lokasi. Ada yang menggelarnya Di balai desa, masjid, makam tokoh setempat, maupun lokasi yang Disorot Memiliki nilai sejarah Untuk Komunitas. Kearifan Lokal ini lebih menonjolkan nilai gotong royong dan kebersamaan dibandingkan kepercayaan Pada mitos bulan Sapar.
Pandangan Islam tentang Mitos Bulan Sapar
Berbeda Didalam kepercayaan yang berkembang Di Komunitas, Islam tidak mengenal adanya bulan yang membawa kesialan. Di penanggalan Jawa, bulan Sapar merupakan penyebutan Untuk bulan Safar Di kalender Hijriah.
Di kalender Hijriah, Safar merupakan bulan kedua Sesudah Muharam. Sambil Itu Di penanggalan Jawa, Sapar adalah bulan kedua Sesudah Sura.
Seluruh bulan Memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Allah SWT dan tidak ada satu pun yang ditetapkan sebagai bulan pembawa musibah. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada ‘adwa (penularan Penyakit yang terjadi Didalam sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial Sebab pertanda tertentu), tidak ada hammah, dan tidak ada (kesialan Di) bulan Safar”. (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menjadi dasar bahwa Islam menolak keyakinan Pada pertanda buruk maupun anggapan bahwa suatu bulan Memiliki kekuatan Untuk mendatangkan kesialan.
Di kajian hadisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan anggapan bulan Safar sebagai bulan sial merupakan warisan kepercayaan Komunitas Arab Di masa jahiliah, bukan ajaran Islam.
MUI juga menerangkan bahwa menganggap suatu waktu sebagai pembawa kesialan termasuk bentuk tiyarah atau tathayyur, yakni keyakinan Pada pertanda buruk yang dilarang Di Islam.
Senada Didalam itu, NU Online mengutip penjelasan ulama Ibnu Rajab Al-Hanbali yang menyebut bulan Safar tidak Memiliki perbedaan Didalam bulan-bulan lainnya. Di bulan tersebut bisa saja terjadi musibah maupun kebaikan, Agar tidak dibenarkan meyakini Safar secara khusus identik Didalam kesialan atau bencana.
Sebab itu, tidak terdapat dalil Al-Qur’an maupun hadis sahih yang Berkata bulan Safar sebagai bulan yang buruk. Umat Islam dianjurkan mengisi bulan Safar Didalam amal saleh sebagaimana bulan-bulan lainnya, tanpa mempercayai mitos bahwa bulan tersebut membawa kesialan.
Mengapa Mitos Bulan Sapar Masih Dipercaya?
Meski Islam menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa kesialan, mitos bulan Sapar masih bertahan sebagai Dibagian Didalam warisan Kearifan Lokal Global Di sejumlah Lokasi.
Kepercayaan ini terus diwariskan Di lingkungan keluarga maupun Komunitas Agar masih mempengaruhi cara pandang sebagian orang Pada waktu yang Disorot baik atau kurang baik.
Di sisi lain, tidak sedikit Komunitas yang kini memandang Kearifan Lokal tersebut sebagai Dibagian Didalam kearifan lokal yang Memiliki nilai Kearifan Lokal Global, tanpa mengaitkannya Didalam keyakinan bahwa bulan Sapar benar-benar membawa kesialan.
Mitos bulan Sapar merupakan salah satu warisan Kearifan Lokal Global yang masih dikenal Di Kearifan Lokal Komunitas Jawa. Meski hingga kini sebagian orang masih mengaitkannya Didalam kesialan atau waktu yang kurang baik Untuk Melakukan berbagai kegiatan penting, ajaran Islam menegaskan tidak ada bulan yang secara khusus membawa keberuntungan maupun kesialan.
Memahami asal-usul mitos bulan Sapar beserta pandangan Islam dapat membantu Komunitas membedakan Di Kearifan Lokal Kearifan Lokal Global dan keyakinan agama. Didalam Cara Itu, nilai-nilai Kearifan Lokal Global tetap dapat dihormati tanpa mengesampingkan ajaran yang Memiliki dasar Di syariat.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Mitos Bulan Sapar Di Kearifan Lokal Jawa, Benarkah Membawa Kesialan?









