Cirebon –
Lantunan selawat menggema Ke Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu (26/8) malam. Suasana khidmat terasa Di prosesi Panjang Jimat digelar Di rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pantauan detikJabar, banyak warga memadati area keraton. Mereka menunggu iring-iringan Panjang Jimat yang menjadi salah satu puncak rangkaian Kearifan Lokal Maulid Nabi Ke Keraton Kasepuhan.
Di prosesi iring-iringan tersebut, rombongan perlahan bergerak Bersama Bangsal Panembahan Ke Langgar Agung Bersama membawa berbagai perlengkapan pusaka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Iring-iringan Peristiwa Panjang Jimat dimulai Bersama Bangsal Panembahan Ke Ke Langgar Agung,” kata Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat Di ditemui Ke Keraton Kasepuhan.
Di iring-iringan itu, keluarga keraton dan para pengiring mengenakan Pengganti adat khas keraton. Sambil sebagian lainnya, ada pula yang menggunakan gamis putih.
Sejumlah perlengkapan turut dibawa Ke Langgar Agung. Ke antaranya nasi jimat, lauk-pauk, ikan bekasem, hingga buah-buahan. Beragam hidangan itu dibawa bersama Bersama Piring-Piring pusaka.
Selain Minuman, Di iring-iringan tersebut terdapat pula air mawar serta minuman tradisional banyu serbat yang dibawa Bersama penuh takzim.
Menurut Goemelar, perlengkapan yang dibawa bukan sekadar pelengkap prosesi. Susunan perlengkapan Di Panjang Jimat Memperoleh makna filosofis yang berkaitan erat Bersama proses kelahiran manusia.
“Sebetulnya tadi itu menyimbolkan kelahiran anak manusia,” ujarnya.
Dia mencontohkan kembang goyang yang dimaknai sebagai ari-ari. Lalu air mawar menjadi simbol air ketuban, sedangkan banyu serbat menggambarkan darah Setelahnya proses kelahiran atau darah nifas.
“Contoh, ada kembang goyang itu menggambarkan ari-ari, air mawar itu seperti air ketuban, dan banyu serbat itu seperti darah Setelahnya melahirkan,” tuturnya.
Berbagai perlengkapan Bersama makna mendalam tersebut Lalu dibawa bersama rombongan Di prosesi iring-iringan Ke Langgar Agung.
Sesampainya Ke Langgar Agung, rangkaian Panjang Jimat dilanjutkan. Warga dan perwakilan Sultan Sepuh mengikuti prosesi tersebut Bersama khusyuk.
Pembacaan kitab Al-Barzanji dan selawat Lalu dilakukan. Lantunan selawat kembali terdengar Bersama Langgar Agung sebagai Dibagian Bersama peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Ke sana para warga atau yang mewakili Sultan Sepuh berdoa bersama, membaca kitab Al-Barzanji, dan bersalawat,” kata Goemelar.
Goemelar mengatakan, momen tersebut memang dikhususkan Untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW Bersama memperbanyak selawat.
“Kita momennya itu memperingati kelahiran Nabi Muhammad, Karena Itu kita banyak bersalawat kepada Nabi,” ujarnya.
Panjang Jimat menjadi puncak rangkaian Kearifan Lokal Maulid Nabi Muhammad SAW Ke Keraton Kasepuhan. Kearifan Lokal ini digelar setiap tahun sebagai Dibagian Bersama pelestarian nilai religi dan Kearifan Lokal Global Ke lingkungan keraton.
(tya/tya)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Panjang Jimat Cirebon, Filosofi Kelahiran Di Piring Pusaka











