Payas Dirga dan Tenun Loloan Jembrana Resmi Dari Sebab Itu Warisan Kebiasaan Global Tak Benda


Jembrana

Dua karya Kebiasaan Global khas ‘Bumi Makepung’, yakni busana pengantin payas dirga dan kain tenun Loloan, resmi ditetapkan sebagai Warisan Kebiasaan Global Tak Benda (WBTB) Indonesia 2025. Total sebanyak 10 kekayaan Kebiasaan Global Jembrana yang ditetapkan sebagai WBTB.

Penetapan ini disahkan Dari Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) Melewati sertifikat resmi. Payas dirga tercatat Di nomor registrasi 034/WB/KB.00.01/2025, sedangkan kain tenun Loloan mengantongi nomor 035/WB/KB.00.01/2025.

“Benar ada dua tambahan (WBTB). Di tambahan dua karya ini, total ada 10 Kebiasaan Global asal Jembrana yang kini berstatus warisan Kebiasaan Global nasional yang dilindungi hingga tahun 2025,” ungkap Kepala Dinas Wisata Internasional dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negeri, Di dikonfirmasi detikBali, Senin (9/3/2026).


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Sapta Negeri, payas dirga bukan sekadar busana pengantin biasa. Busana ini Memiliki nilai sejarah tinggi yang lahir Di pernikahan agung putra Raja Jembrana VII Ke 1940. Busana ini merupakan simbol harmonisasi Kebiasaan Global yang memadukan unsur Jawa, Cina, Melayu, dan Bugis.

“Keunikannya terletak Ke penggunaan bunga mendori yang kini mulai langka serta aksesori gelung tanduk yang khas,” papar Sapta Negeri.

Sambil Itu, kain tenun Loloan menjadi simbol identitas suku Bugis-Melayu Ke Kecamatan Negeri. Tenun ikat ini Memiliki aturan adat ketat, yakni larangan penggunaan motif hewan atau manusia. “Sebagai gantinya, pengrajin menggunakan motif tumbuhan dan geometris yang melambangkan kepribadian Komunitas Loloan yang tegas, santun, dan taat beragama,” imbuh Sapta Negeri.

“Kami terus menginventarisasi potensi yang ada. Ketika sudah masuk Di data Ceraken Kebudayaan Bali, kami kaji mana yang memungkinkan Sebagai diusulkan. Prosesnya cukup ketat Lantaran selain karya fisik, narasumber yang kompeten juga harus tersedia,” ujar Sapta Negeri.

Menariknya, proses pengusulan ini dilakukan secara mandiri (non-budget). Disparbud Jembrana menyiasati keterbatasan Biaya Di menggandeng Skuat eksternal Di Balai Pelestarian Kebudayaan.

“Kami melibatkan Skuat eksternal Sebagai membantu menyusun naskah akademik dan mencari narasumber ahli, Lantaran kemampuan kami juga terbatas,” tambah Sapta Negar.

Melewati penetapan ini, Sapta Negeri berharap kesadaran Komunitas Sebagai menjaga identitas Kebiasaan Global makin Meresahkan, sekaligus memperkuat daya tarik Wisata Internasional berbasis Kebiasaan Global Ke ujung barat Pulau Dewata.

“Seni Kearifan Lokal-Seni Kearifan Lokal yang sudah WBTB tetap kami Berencana coba Sebagai tetap tampilkan agar Komunitas mengetahuinya, seperti rangkaian HUT kota. Nanti Di parade ogoh-ogoh juga kami tampikan Seni Kearifan Lokal yang sudah WBTB seperti bumbung gebyog, kendang mebarung dan jegog,” jelas Sapta Negeri.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana tidak ingin berhenti sampai Ke sini. Sejumlah potensi Kebiasaan Global lokal telah masuk daftar usulan WBTB Sebagai 2026, yakni jaje bendu, arja sewagati, arisan dedara, angklung reyong, bahasa melayu Loloan.

“Sebenarnya kami usulkan setiap tahun itu dua. Akan Tetapi Lantaran Bapak Pembantu Pemimpin Negara Memberi target kabupaten kota Ke indonesia Agar menambahkan lagi minimal lima,” kata Sapta Negeri.

“Kami sebenarnya menyiapkan usulan itu satu tahun Sebelumnya Itu. Seperti usulan tahun 2026 itu, kami siapkan Ke 2025. Usulan kami angklung reyong dan bahasa melayu Loloan. Lantaran lima minimal, Dari Sebab Itu kami siapkan Sebagai tiga ini. Kami siapkan naskah akademiknya,” imbuh Sapta Negeri.

(hsa/hsa)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Payas Dirga dan Tenun Loloan Jembrana Resmi Dari Sebab Itu Warisan Kebiasaan Global Tak Benda

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่