Boyolali –
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Boyolali melakukan Transformasi Digital Di sejumlah naskah kuno, Ke antaranya milik warga Dukuh Tumang, Desa Cepogo. Proses Transformasi Digital naskah ini juga melibatkan para filolog.
“Untuk project ini tentunya kami juga menggandeng para filolog yang lebih paham Yang Terkait Bersama manuskrip mana saja yang perlu didigitalisasikan terlebih dahulu,” kata Pustakawan Dinas Arpus Boyolali, Anang Abdulharap, kepada wartawan Ke sela melakukan Transformasi Digital Ke Kantor Desa Cepogo, Boyolali, Selasa (4/8/2026).
Naskah kuno yang didigitalisasi tersebut merupakan milik Cipto Raharjo, warga Dukuh Tumang, Desa Cepogo. Anang mengungkapkan, ada ratusan Literatur yang disimpan dan dimiliki warga tersebut. Ke tahap awal ini, Terbaru 7 naskah kuno yang diarsipkan secara digital hari ini.
“Walaupun tadi disebutkan bahwa Ke Tumang ini ada ratusan arsip. Tapi Sambil ini ada beberapa naskah (yang didigitalisasi), yang lainnya Berencana kami agendakan Untuk project Berikutnya,” jelas dia.
Sesudah dilakukan Transformasi Digital, naskah kuno tersebut dikembalikan Ke pemiliknya. Agar Literatur itu tidak rusak dimakan usia, Dinas Arpus Boyolali juga Berencana Menyediakan tempat penyimpanan yang lebih layak.
“Sesudah didigitalisasi Berencana kami daftarkan juga Ke Perpustakaan Nasional Melewati Hastara. Untuk digital tersebut Berencana kami upload juga Ke Perpustakaan Digital kami, Perpustakaan Digitalnya Boyolali. Karena Itu nanti Ke situ bisa dibaca Dari Komunitas umum,” imbuh dia.
Menurut Anang, naskah kuno milik warga Tumang yang diarsipkan secara digital hari ini ada 7. Sesudah Itu, pihaknya juga Berencana melakukan Transformasi Digital Di Al-Qur’an tulisan tangan milik warga Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo.
“Terus Ke (Desa) Pusporenggo (Kecamatan Musuk) ada Disekitar 4. Nanti Berencana dipastikan dulu Dari filolog, naskah itu masuk nggak. Satu lagi Ke Pondok Pesantren Zumrotul Tholibin (Kecamatan Andong). Ke sana ada beberapa naskah juga yang ditulis Dari para mbah-mbah kiai,” ujar dia.
Kepala Desa Tumang, Mawardi, mengatakan naskah-naskah kuno tersebut diketahui milik Cipto Raharjo, salah satu tokoh Ke Tumang yang gemar menulis. Pihak desa Sesudah Itu berkonsultasi Bersama ahli warisnya. Sesudah ada kesepakatan, naskahnya Berencana didigitalisasi. Untuk penyimpanan naskah fisiknya, pemdes masih berkomunikasi Bersama pihak keluarga.
“Kami Untuk Pemerintah Desa Cepogo berharap, temuan naskah ini Berencana bermanfaat Untuk Komunitas secara keseluruhan. Salah satu harapan putra Pak Cipto Raharjo adalah keinginan almarhum Untuk membuat perpustakaan desa,” kata Mawardi.
Filolog khusus bahasa Jawa dan naskah kuno, Rendra Agusta, yang ikut meneliti menyebutkan bahwa naskah-naskah itu rata-rata ditulis Ke abad Ke-20, Di tahun 1917 hingga 1950-an. Ada yang tertulis bertahun 1917, 1918, 1939, hingga tahun 1950-an.
“Ada beberapa manuskrip yang berbahasa Jawa, bahasa Indonesia, maupun bahasa Arab. Untuk bahasa Jawa ada naskah bernama Roman Pedusunan seperti karya sastra. Ada juga yang berkaitan Bersama perhitungan primbon dan lain-lain,” jelasnya.
Kebugaran naskah-naskah tersebut relatif baik. Meski ada beberapa yang berlubang, Akan Tetapi Secara Keseluruhan masih baik dan bisa terbaca. Untuk ratusan arsip Ke Tempattinggal tua tahun 1877 milik Cipto Raharjo, Sambil ada 7 naskah beraksara Jawa dan Pegon yang dipilih Untuk didigitalisasi.
Filolog lain yang Berorientasi Ke Bahasa Arab, Asep Yudha Wiraraja, mengaku terkejut Pada menemukan naskah kitab Safinatun Najah.
“Saya cukup terkejut ketika menemukan naskah Safinatun Najah. Sebab naskah ini merupakan naskah yang masih hidup tradisinya Ke pondok pesantren yang tradisional. Masih diajarkan sampai hari ini,” kata Asep.
Dijelaskan dia, kitab Safinatun Najah berisi mengenai ilmu fikih dasar, seperti wudu, tayamum, salat, hingga pengurusan jenazah. Kitab tersebut ditulis Dari penulis pertama, Syekh Salim tahun 1855 M dan disempurnakan Syekh Nawawi Al-Bantani tahun 1875 M.
“Sesudah itu banyak disalin Dari para ulama-ulama zaman dulu dan diajarkan sampai hari ini Ke pondok-pondok pesantren. Isinya tentang fiqih, misalnya bagaimana berwudlu, bagaimana bersuci tayamum, salat, sampai mengurus jenazah,” terang Asep.
“Sesudah Itu ditambahkan Dari Syekh Nawawi Al-Bantani tadi. Isinya tentang puasa, zakat. Agar menyempurnakan kitab Safinatun Najah,” sambungnya.
Naskah lain, kata Asep, Ke sampulnya bertuliskan Petung-petung, tapi Ke dalamnya ada cuplikan-cuplikan doa Untuk ayat-ayat Al-Qur’an yang diterjemahkan Ke bahasa Jawa. Diperkirakan ditulis tahun 1917 atau 1918.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Sejumlah Naskah Kuno Milik Warga Tumang Boyolali Didigitalisasi











