Lombok Timur –
Ratusan nelayan Bersama puluhan perahu tumpah ruwah mengikuti ritual adat Roah Pesisi Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Perahu itu saling beradu Kelajuan diiringi Alunan tradisional Gendang Beleq Di Ditengah laut.
Mulai orang dewasa hingga anak-anak tampak bersorak gembira ketika mengikuti konvoi perahu Sebagai melarung kepala sapi Di Ditengah laut. Mereka memulai rangkaian kegiatan Bersama doa bersama Sebelumnya mengarak perahu Ke perairan Di Area konservasi Gili Sulat dan Gili Lawang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Panitia Perayaan Seni Roah Pesisi, Lalu Mustiadi, mengatakan Komunitas Melakukan Kebiasaan itu sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang Di ini menopang kehidupan para nelayan. Warga juga memanjatkan doa agar seluruh nelayan selalu Menyambut keselamatan Pada mencari nafkah Di laut.
“Kebiasaan ini sudah kami laksanakan kurang lebih sepuluh kali. Ini menjadi bentuk rasa syukur Komunitas nelayan atas anugerah yang Allah SWT berikan,” kata Mustiadi, Minggu (2/7/2026).
Menurut Mustiadi, nilai utama Roah Pesisi tidak berhenti Di prosesi adat. Komunitas juga menerapkan aturan adat yang melarang seluruh Karya Di laut Di tiga hari Setelahnya ritual berlangsung.
Di masa tersebut, nelayan tidak melaut maupun memancing. Mereka Mutakhir kembali beraktivitas tiga hari Setelahnya pelaksanaan ritual tersebut.
Aturan itu menjadi Dibagian Bersama kearifan lokal yang telah diwariskan Dari para leluhur. Tujuannya Sebagai memberi kesempatan ekosistem laut memulihkan diri.
“Di situlah nilai konservasinya. Di tiga hari tidak ada Karya Di laut Supaya ekosistem punya waktu Sebagai pulih. Orang tua kami sudah mengajarkan itu Sebelum dahulu dan sampai sekarang tetap kami jalankan,” ucap Mustiadi.
Di tahun ini, Komunitas juga melakukan penyesuaian Untuk prosesi pelarungan. Jika Sebelumnya mereka menggunakan kepala kerbau sebagai Dibagian Bersama ritual, kali ini panitia membawa kepala sapi.
Menurut Mustiadi, perubahan tersebut mengikuti petunjuk yang diterima salah seorang tokoh adat Melewati mimpi. Sebab menghormati pesan tersebut, Komunitas sepakat menggunakan kepala sapi Untuk prosesi tahun ini.
Rangkaian puncak Perayaan Seni berlangsung Bersama arak-arakan puluhan perahu yang mengelilingi perairan Gili Sulat dan Gili Lawang sebanyak tiga putaran. Para nelayan menghias perahu Bersama umbul-umbul dan perlengkapan adat Sebelumnya Ke titik pelarungan yang ditetapkan Sandro atau tetua adat.
Titik lokasi pengarungan ditentukan Dari Sandro (pemangku adat) Supaya dapat berubah setiap tahun. Kendati demikian, prosesi tetap berlangsung Di kawasan perairan Gili Sulat dan Gili Lawang.
Antusiasme Komunitas tetap tinggi meski Kebugaran ekonomi belum sepenuhnya pulih. Tahun ini, Disekitar 50 sampan mengikuti iring-iringan, lebih sedikit dibanding beberapa tahun Sebelumnya yang mampu melibatkan ratusan perahu.
Melewati Perayaan Seni Roah Pesisi, Komunitas Sugian tidak hanya menjaga Kebiasaan leluhur, tetapi juga mempertahankan kearifan lokal yang menghubungkan rasa syukur, keselamatan nelayan, dan upaya menjaga kelestarian ekosistem laut.
(hsa/hsa)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Wujud Syukur Nelayan Sambelia Lewat Kebiasaan Adat Roah Pesisi











