Wulla Poddu, Kebiasaan Bulan Pahit yang Jaga Kesejaganan Hidup Komunitas Sumba

Daftar Isi



Denpasar

Salah satu Kebiasaan yang masih bertahan Ke Ditengah zaman modernisasi ini adalah Wulla Poddu. Ritual adat Untuk Komunitas Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini merupakan ritual sakral yang sarat Akansegera makna spiritual, sosial, dan Kearifan Lokal Dunia.

Simak yuk ulasan selengkapnya mengenai Wulla Poddu yang dirangkum Untuk berbagai sumber.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Wulla Poddu?

Wulla Poddu adalah ritual suci yang penting Untuk Komunitas Sumba Barat terkhusus penganut kepercayaan Marapu. Jika diartikan Ke bahasa Sumba, Wulla Poddu ini berarti “bulan pahit” yang biasanya dilaksanakan Ke bulan Oktober sampai November. Di tujuan membersihkan diri, berdamai Di sesama, menyelaraskan hubungan Di alam, leluhur dan hewan, serta memohon keberkatan, rasa syukur atas kehidupan dan panen.

Poddu yang Memperoleh makna “pahit” Ke sini bukan berarti buruk, Akansegera tetapi Memperoleh arti bulan yang Disorot suci dan istimewa, Sebab Komunitas yang menahan diri dan melepaskan kegiatan duniawi Sambil waktu. Ritual adat ini bukan hanya sekedar upacara yang rutin dilakukan tiap tahunnya. Tapi menjadi momen penting Lewat doa-doa pantangan dan Komunitas yang Memperoleh harapan Mutakhir Sebagai Kesejaganan Ke Ditengah tantangan hidup.

Desa Adat dan Waktu Pelaksanaan Wulla Poddu

Seperti yang sudah dikatakan Di, Kebiasaan Wulla Poddu merupakan ritual penganut kepercayaan Marapu. Maka Di Langkah Tersebut pelaksanaan Wulla Poddu ini mengikuti kalender adat Marapu, dihitung Untuk fase bulan lalu ditafsirkan Di para Rato atau tetua adat. Yang pasti ritual ini dilaksanakan Pada satu bulan penuh berkisar Ke bulan Oktober-Desember.

Desa adat yang masih melestarikan ritual suci ini seperti Desa Tarung, Bondo Maroto, Kadoku, Umbu Koba dan hampir semua Area Ke Sumba Barat merayakan Kebiasaan ini.

Rangkaian Kebiasaan Wulla Poddu

· Tauna Pepa, mempersembahkan Minuman Sebagai arwah leluhur Marapu berupa nasi yang dicampur ketan (pulut) dan bumbu wijen.
· Tauna Bengga, upacara pemberian makan arwah anjing Marapu berupa sesajen nasi yang dicampur daging babi.
· Wulla Poddu, yaitu melihat bulan yang mana nanti Rato Akansegera Memperkenalkan kapan pelaksanaan Wulla Poddu.
· Kalola, proses keempat ini ialah berburu Pada empat malam yang Akansegera dilakukan Di semua laki-laki.
Semua rangkaian kegiatan tersebut Akansegera dipimpin langsung Di tokoh adat yang berperan sentral Untuk upacara ini. Mulai Untuk penentuan waktu pelaksanaan, memimpin ritual doa, hingga memastikan seluruh Komunitas Sebagai mematuhi aturan adat yang berlaku.

Potensi Ritual Wulla Poddu sebagai Wisata Kearifan Lokal Dunia

Ritual adat Di sifat sakral dan penuh sarat ini, tentunya Memperoleh potensi sebagai wisata Kearifan Lokal Dunia Di berbasiskan Pelatihan. Tetapi banyak hal yang perlu diperhatikan, agar ritual ini tetap Memperoleh sisi suci nya. Tetapi sebenarnya adat sudah membuka kehadiran tamu luar Sebagai Menyaksikan Kebiasaan adat mereka, Di beberapa peraturan khusus seperti:

1. Tidak memotret atau merekam tanpa izin, Lebih Jauh dilokasi Rumah adat atau tempat persembahan.
2. Gunakan Pengganti yang sopan dan tertutup.
3. Jaga sikap Pada upacara berlangsung
4. Patuh Di aturan Untuk tetua adat dan pendamping lokal.
5. Hindari membawa Minuman dan minuman sembarangan Ke area ritual.

Untuk Kebiasaan Wulla Poddu ini bisa menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih tetap hidup dan bertahan Ke Ditengah zaman modernisasi Pada sekarang ini. Komunitas Sumba yang berhasil menjaga Kebiasaan ini Sebagai tetap ada dan selalu diwariskan secara turun-temurun secara tidak langsung Menunjukkan bahwa Kebiasaan leluhur bukanlah sebuah penghalang, melainkan berperan sebagai penyelaras Di alam dan sesamanya.

(nor/nor)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Wulla Poddu, Kebiasaan Bulan Pahit yang Jaga Kesejaganan Hidup Komunitas Sumba