11 Urutan Upacara Kematian Di Kehidupan Kelompok Jawa: Lelayu-Nyewu


Solo

Upacara kematian merupakan upacara adat yang berkaitan Didalam kematian seseorang Di kehidupan Kelompok Jawa. Upacara kematian biasanya terdiri Didalam berbagai jenis upacara yang berbeda.

Dirujuk Didalam Bacaan Asal-usul & Sejarah Orang Jawa Dari Sri Wintala Achmad, upacara adat Jawa, termasuk upacara kematian, bertujuan mencapai nilai yang diturunkan Dari nenek moyang. Setiap prosesi upacara kematian juga mengandung doa Sebagai kebaikan roh orang yang meninggal.

Upacara kematian adat Jawa dilakukan Di beberapa tahap, mulai Didalam proses pengumuman hingga upacara peringatan. Sejatinya, apa saja jenis upacara kematian adat Jawa tersebut? Mari ketahui nama dan 11 urutannya via uraian Di bawah ini!


11 Urutan Upacara Kematian Di Kearifan Lokal Dunia Kelompok Jawa

Berikut jenis dan urutan upacara kematian Di kehidupan Kelompok Jawa yang dirangkum Didalam Bacaan Jelajah Jawa Ditengah: Tata Nilai dan Adat Istiadat Jawa Ditengah karya Bungsu Ratih Puspitarini.

1. Lelayu

Upacara kematian pertama Di kehidupan Kelompok Jawa adalah lelayu. Sederhananya, Lelayu merupakan kegiatan membuat pengumuman berita kematian kepada para sanak saudara dan tetangga ketika ada seseorang yang meninggal.

Pengumuman lelayu ini biasanya dilakukan menggunakan pengeras suara Di masjid. Hal ini juga bertujuan agar tetangga datang Hingga tempat keluarga yang berduka Sebagai menyiapkan pemakaman.

2. Ngedusi

Kedua, upacara kematian dilanjutkan Didalam prosesi ngedusi atau memandikan jenazah. Prosesi ngedusi ini merupakan Pada penyucian jenazah Sebelumnya dimakamkan.

Ngedusi lazimnya dilakukan Dari anggota keluarga inti atau yang terdekat. Di Di Itu, prosesi ini dilakukan Dari orang yang berjenis kelamin sama Didalam si jenazah.

3. Brobosan

Upacara kematian Lanjutnya menurut adat Jawa adalah brobosan. Brobosan merupakan prosesi mengantar jenazah Hingga tempat pemakaman.

Tahap ini mengandung makna penghormatan terakhir Didalam keluarga kepada jenazah Sebelumnya dikuburkan. Di Di itu, upacara ini Disorot sebagai ungkapan ikhlas Sebagai melepas kepergian jenazah.

Upacara brorosan meliputi prosesi berikut.

  • Keranda jenazah dibawa Hingga luar Di halaman Tempattinggal keluarga jenazah dan diangkat tinggi.
  • Anggota keluarga inti berjalan Di bawah keranda jenazah secara berurutan. Kegiatan ini dilakukan secara berulang sebanyak tiga kali searah jarum jam.
  • Prosesi brobosan dimulai Didalam anak laki-laki tertua dilanjut Didalam anggota keluarga inti lainnya.

4. Geblag

Upacara keempat, yakni geblag atau ngesur lemah. Upacara geblag merupakan prosesi yang dilakukan Di sore hari Setelahnya jenazah dimakamkan. Upacara ini dimaknai sebagai proses berpindahnya alam dunia Hingga alam kubur. Geblag dilakukan Didalam sesaji yang berisi nasi gurih, ayam ingkung, urap, cabai merah, kerupuk rambak, bawang merah, kacang kedelai hitam, bunga kenanga, garam, serta tumpeng yang dipotong dan ditempatkan secara terbalik.

5. Nelung Dina

Setelahnya upacara pemakaman selesai, diselenggarakan upacara selametan beberapa hari Setelahnya tanggal kematian. Tepat 3 hari Sebelum hari kematian, digelar upacara nelung dina.

Upacara nelung dina dilakukan Di malam hari menjelang hari dan pasaran Hingga tiga. Upacara ini bertujuan menghormati orang yang meninggal.

Di kehidupan Kelompok Jawa, berkembang kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal tersebut masih berada Di Tempattinggal. Maka Itu, disiapkan sesaji berupa takir pontang.

Sesaji nelung dina tersebut biasanya berisi nasi putih dan nasi kuning yang diberi tambahan sesaji lain, seperti kecambah dan apem. Bukan hanya itu, disiapkan pula nasi asahan tiga rampah yang berisi daging sapi goreng, lauk pauk kering, sambal, sayur menir, serta jenang merah. Ada juga yang menyiapkan hidangan Unjuk orang yang meninggal.

6. Mitung Dina

Setelahnya Melakukan upacara nelung dina, upacara kematian dilanjutkan Didalam upacara mitung dina. Upacara ini digelar Di malam hari ketujuh Sebelum meninggalnya seseorang.

Upacara ini berangkat Didalam kepercayaan bahwa roh orang yang wafat Akansegera meninggalkan Tempattinggal. Maka Itu, anggota keluarga bakal membuka jendela Pada upacara ini dilakukan.

Di upacara ini, anggota keluarga juga menyiapkan sesaji berupa takir yang berisi kue apem, kolak, ketan, serta uang logam. Disiapkan pula asahan tiga rampah.

7. Matang Puluhan

Yang ketujuh adalah upacara matang puluhan. Upacara ini dilakukan Sebagai memperingati orang yang meninggal terhitung 40 hari Sebelum kematiannya.

Matang puluhan dimaknai sebagai upaya memudahkan jalan roh orang yang meninggal Di alam kubur. Upacara ini dilakukan Didalam kegiatan tahlil dan selametan Sebagai mengirim doa. Disiapkan pula sesaji yang sama Didalam sesaji mitung dina.

8. Nyatus Dina

Upacara kematian Di Kearifan Lokal Dunia Jawa diteruskan Didalam nyatus dina. Sesuai namanya, nyatus dina adalah upacara peringatan seratus hari meninggalnya seseorang. Pada prosesi nyatus dina, anggota keluarga menyiapkan sesaji seperti sesaji Sebelumnya dan mengirim doa.

9. Mendhak Pisan

Setelahnya satu tahun meninggalnya seseorang, keluarga Melakukan upacara mendhak pisan. Upacara ini sejatinya sama seperti upacara peringatan Sebelumnya, yakni upacara yang bertujuan Sebagai mengirim doa.

10. Mendhak Pindo

Usai mendhak pisan, upacara Lanjutnya adalah mendhak pindo. Bedanya, upacara mendhak pindo dilakukan Setelahnya dua tahun meninggalnya seseorang. Sama halnya Didalam upacara peringatan lainnya, disajikan pula sesaji Didalam beragam isi lauk pauk maupun cemilan.

11. Nyewu

Upacara kematian Dari Kelompok Jawa diakhiri Didalam peringatan nyewu. Sesuai namanya, upacara ini diselenggarakan Setelahnya sewu atau seribu hari Sebelum hari kematian seseorang.

Upacara nyewu dimaknai bahwa roh orang yang meninggal tidak Akansegera pernah kembali lagi Hingga Di Tempattinggal atau keluarga. Roh tersebut Disorot telah kembali Hingga Tuhan Yang Maha Esa.

Maka Itu, Di upacara nyewu, sesaji yang disiapkan biasanya lebih banyak dibanding upacara Sebelumnya. Ditemukan pula Di beberapa Lokasi Jawa Ditengah yang masyarakatnya menyembelih kambing atau kerbau sebagai sajian terakhir upacara.

Itulah sederet upacara kematian yang berkembang Di kehidupan Kelompok Jawa secara berurutan. Semoga menambah wawasan detikers mengenai kearifan Jawa, ya!

Artikel ini ditulis Dari Desi Rahmawati peserta Langkah MagangHub Bersertifikat Didalam Kemnaker Di detikcom

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: 11 Urutan Upacara Kematian Di Kehidupan Kelompok Jawa: Lelayu-Nyewu

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่