Denpasar -
Di Pada hampir seluruh Daerah Bali meramaikan malam Pengerupukan Bersama pawai ogoh-ogoh, Desa Adat Renon, Denpasar, justru konsisten meniadakan Kearifan Lokal tersebut. Keputusan itu bukan tanpa sebab, melainkan berawal Bersama pawisik hingga kejadian ganjil yang diyakini warga Sebelum 1985.
Pada ogoh-ogoh mulai berkembang Di Bali sebagai simbol bhuta kala yang dinetralisir Melewati upacara lalu diarak dan dimusnahkan, Renon justru Merasakan peristiwa berbeda. Penari Baris Cina Pada kerauhan disebut menyampaikan pawisik bahwa bhuta kala yang telah dinetralisir tidak seharusnya ‘dihidupkan’ kembali Melewati ogoh-ogoh.
Keyakinan itu kian menguat Sesudah muncul kejadian ganjil Pada proses pembuatan ogoh-ogoh. Salah satu warga Malahan disebut melihat ogoh-ogoh bergerak sendiri tanpa ada yang menggerakkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan berakar Bersama peristiwa spiritual yang diyakini Kelompok setempat Sebelum dulu,” ujar I Made Sutomo selaku Jero Mangku, Jumat (13/3/2026).
Percobaan membuat ogoh-ogoh kembali Di 1992 juga berujung kejadian serupa. Mulai Bersama Pada Itu, warga sepakat menghentikan Kearifan Lokal membuat maupun mengarak ogoh-ogoh hingga kini.
Sutomo menegaskan peristiwa tersebut tidak berkaitan langsung Bersama Tari Baris Cina yang tetap menjadi Pada Bersama Kearifan Lokal Di Renon dan kerap dipentaskan Di pura setempat maupun luar Daerah.
“Tidak ada kaitan langsung Antara ogoh-ogoh Bersama Tari Baris Cina,” katanya.
Ia menambahkan, ogoh-ogoh bukan Pada wajib Di rangkaian Hari Raya Nyepi yang terdiri Bersama Melasti, Tawur atau caru Pada Pengerupukan, dan Nyepi.
“Di sastra, ogoh-ogoh tidak disebutkan sebagai Pada wajib, sekarang lebih Di Imajinasi,” terangnya.
Menurut Sutomo, hingga kini Renon menjadi satu-satunya Daerah yang masih memegang Kearifan Lokal tanpa ogoh-ogoh. Setiap tahun, warga luar Lokasi pun datang Untuk mencari tahu alasan tersebut.
“Setahu saya hanya Renon yang tidak membuat ogoh-ogoh. Sebab itu setiap tahun pasti ada saja yang datang Untuk bertanya,” ujarnya.
Pengerupukan Tetap Berjalan
Tanpa ogoh-ogoh, pengerupukan Di Renon tetap berlangsung. Warga melaksanakan upacara caru Untuk menetralisir energi negatif, lalu melakukan ritual Di Tempattinggal masing-masing.
Bunyi-bunyian Bersama kentongan atau gamelan serta api perapakan Bersama daun kelapa kering tetap digunakan sebagai Pada Bersama Kearifan Lokal.
“Walaupun tidak ada ogoh-ogoh, unsur bunyi-bunyian, api, dan banten tetap dijalankan Sebab itu memang Pada Bersama Kearifan Lokal,” ungkap Sutomo.
Bunyi kentongan Di banjar menjadi penanda dimulainya Pengerupukan, yang dilanjutkan ritual sederhana Di Tempattinggal warga.
Sebagai ruang Imajinasi, anak muda Renon kini Mengadakan kegiatan Karyaseni Sesudah upacara, seperti pawai obor, tabuh gamelan keliling banjar, hingga pertunjukan Di Bale Agung.
“Sekarang anak-anak muda tetap berkegiatan, ada pawai obor, gamelam, dan pertunjukan Karyaseni. Tapi yang jelas, tidak ada ogoh-ogoh,” ujar Sutomo.
Dijaga Antar Generasi
Warga Renon, I Wayan Surata, menyebut larangan membuat ogoh-ogoh sudah ia kenal Sebelum kecil. Ia lahir setahun Sebelumnya Kearifan Lokal itu mulai ditinggalkan Disekitar 1985.
“Saya pernah tahu sekali, Disekitar tahun 1985 yang terakhir, Sesudah Itu Disekitar tahun 1992. Tahun-tahun tersebut Bisa Jadi saya masih kecil, belum terlalu memahami. Tapi sebagai sebagai generasi muda harus mengikuti apa yang menjadi tonggak sejarah atau Pengalaman Hidup-Pengalaman Hidup yang sudah berlalu,” kata Surata, Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, Kearifan Lokal tersebut diwariskan Bersama orang tua dan tokoh Kelompok sebagai Pada Bersama pakem yang tidak perlu diubah.
“Sebelum kecil sudah ditanamkan seperti itu. Dari Sebab Itu sampai sekarang tidak berani melanggar. Bersama orang tua dan tokoh Kelompok juga, bahwa Di Kearifan Lokal Bali aturan itu sudah lengkap, tidak perlu menambah atau membuat hal-hal yang aneh-aneh,” ujarnya.
Ia pun meneruskan nilai tersebut kepada anak-anaknya, meski tetap memperbolehkan mereka menonton ogoh-ogoh Di luar Daerah Renon.
“Bersama orang tua Di saya, lalu Bersama saya Di anak. Di lingkungan kami memang seperti itu,” imbuhnya.
Sebagai alternatif, Desa Adat Renon Mengadakan Renon Kreatif Perayaan Seni (RCF) setiap tahun Sesudah Pengerupukan. Kegiatan ini Menampilkan berbagai pertunjukan Karyaseni, diawali pawai obor dan dipusatkan Di Bale Agung.
“Tujuannya agar ada kegiatan positif Untuk Kelompok. Dari Sebab Itu Imajinasi yang biasanya ada Di ogoh-ogoh, sekarang diwujudkan Melewati Renon Kreatif Perayaan Seni,” jelasnya.
(dpw/dpw)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Renon Pilih tanpa Ogoh-Ogoh, Berawal Bersama Pawisik dan Kejadian Ganjil











