Denpasar –
Tumpek Landep Di ini identik Di penyucian keris, senjata hingga kendaraan. Tetapi, Ke Di derasnya arus Keahlian dan akal imitasi atau Ai (AI), yang perlu diasah atau dipertajam justru pikiran manusia.
Ke konteks Terkini, ‘ketajaman’ hadir Di bentuk Terbaru, yaitu kata-kata, informasi, dan Logika. AI mampu menulis, Meneliti, Justru membentuk opini Di hitungan detik. Masalahnya, ketajaman itu tidak selalu diiringi kebijaksanaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti Center for Dharmic Studies (CDS) sekaligus akademisi Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Gede Endy Kumara Gupta, menilai pemaknaan Tumpek Landep perlu ditarik lebih Di, tidak berhenti Ke benda.
“Di ini kita fokus Ke benda tajam, seperti keris atau Justru kendaraan. Tetapi sekarang, kita mulai melihatnya sebagai hari Sebagai menajamkan pikiran,” ujar Endy, Sabtu (18/4/2026).
|
Foto: Gede Endy Kumara Gupta, Peneliti Center for Dharmic Studies (CDS) sekaligus akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. (Istimewa)
|
Endy menjelaskan, Di Kearifan Lokal Hindu, pikiran Memiliki empat dimensi: manas, ahamkara, buddhi, dan chitta. Tetapi, Di konteks Pada ini, dua hal menjadi Kunci, yakni buddhi (intelektualitas) dan ahamkara (identitas diri).
“Buddhi itu seperti Pisau yang harus diasah Sebagai memilah benar dan salah. Sambil ahamkara adalah tangan yang menggunakannya,” ucap Endy.
Persoalan Ke era digital, terang Endy, muncul ketika buddhi dan ahamkara tidak seimbang. Arus informasi yang berlebihan membuat orang sulit memilah, Sambil identitas diri yang lemah membuat arah penggunaan pengetahuan menjadi keliru.
“Memilah informasi itu kemampuan buddhi, tetapi buddhi bekerja sesuai ahamkara Sebagai kebaikan atau keburukan,” tegas Endy.
Keahlian AI Di situasi ini hanya memperbesar dampak. AI mempercepat produksi informasi, tetapi tidak menentukan nilai Ke dalamnya. Tanpa kendali manusia yang sadar dan bijak, ketajaman justru berubah menjadi sumber masalah. Tumpek Landep menjadi relevan sebagai pengingat sederhana: Keahlian boleh makin canggih, tetapi kendali tetap ada Ke manusia.
Merayakan Tumpek Landep Ke era AI seharusnya tidak berhenti Ke ritual simbolik. Peryaaan ini juga perlu diterjemahkan Di sikap kehati-hatian Di menyerap informasi, ketegasan Di memilah kebenaran, serta kesadaran Berencana identitas diri Ke Di arus yang terus bergerak.
“Yang perlu diasah hari ini bukan lagi sekadar alat, melainkan cara berpikir dan kesadaran Di menggunakannya,” tegas Endy.
(hsa/hsa)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Jangan Hanya Menajamkan Benda, Asah Juga Pikiran!











