Surabaya –
Perayaan hari Kartini Di 21 April kerap diisi Didalam berbagai macam Peristiwa. Lomba membaca puisi salah satunya, mengingat puisi adalah sajak paling jujur Sebagai menyuarakan kembali perjuangan yang pernah membara.
Lewat rangkaian kata yang singkat dan indah, semangat perempuan meraih emansipasi Di masa lampau seakan dapat kembali dihidupkan. Puisi Kartini menjadi pengingat nilai kesetaraan dan keberanian. Bait-bait yang menyentuh mengajak perempuan masa kini Sebagai terus melangkah maju Didalam keyakinan dan harapan.
Kumpulan Puisi tentang Kartini
Berikut telah detikJatim kumpulkan puisi-puisi bertema Kartini yang disadur Di Bacaan “Antologi Puisi Kartini 2021: 50 Puisi Terbaik Sayembara Puisi Kartini” yang diterbitkan Perpustakaan Nasional RI.
1. Kartiniku Kini
Karya: Mochamad Riduwan
Pada pena kau tempelkan secarik Alattulis
Tersusunlah kata-kata sukma meretas
Membawa perubahan awal sepintas
Hingga kaummu menyambut penuh antusias
Kini wahai Kartiniku
Kaummu seakan melupakanmu
Tersibuk Didalam lautan ambigu
Terlupa Berencana sebuah perilaku
Wahai Kartiniku kini
Tidaklah mentari lupa menanti pagi
Saatnya dirimu membekali literasi
Saatnya dirimu penuh Menyusun
Wahai Kartiniku kini
Sudahkah dirimu menyelami diri
Mencari dimana peradaban nanti
Mengikuti aliran Gelombang Laut Tinggi Keahlian
Sepatah tulisan membawa pesan
Sebarisan kalimat membuyarkan angan
Sebait paragraf merubah peradaban
Majulah Kartiniku kini tuk kemajuan zaman
2. Tanduk Perempuan
Karya: Naurah Risadamayanti
Baswara rupa kami, buntara jiwa kami
Ibu Kartini titip pesan kepada kami
Jaga elok-elok seberkas harga diri
Angkat tinggi-tinggi kehormatan ini
Di Pada ini tak lagi perempuan dikekang
Tak ada lagi kami Disorot membangkang
Hak-hak Sebagai kami kembali secara utuh
Tidak dipentingkan hanya Pada butuh
Derajat, kini telah setara adanya
Belajar diemban secara merata
Mampu berdiri sejajar Didalam putra
Ini masanya kami bebas berOleh
Siapa yang segan suruh kami Sebagai menunduk?
Jangan pikir kami tidak punya tanduk
Kami dapat saja buas nan liar menyeruduk
Pengetahuan membuat kami tak lagi terpuruk
3. Cinta Membaca
Karya: Zahdinny Mucharina Fadhillah
Kartini wanita Indonesia
Peranmu Di bumi pertiwi belum usai
Selalu dinanti peranmu Di bumi ini
Ungkapkan isi hatimu lewat tulisan
Ungkapkan pikiranmu lewat Dari
Bacalah selalu tuangkan Di sebuah Dari
Tanpa literasi hilang jati diri
Jangan sampai hilang diterpa angin
Tetapi tetaplah ilmu abadi
Didalam literasi bangkitkan Kearifan Lokal Global baca
Tidak cukup Didalam membaca
Tuangkan apa isi dalamnya
Tuangkan Di bentuk Dari tulis
Agar dikenal seluruh penjuru
Cintai membaca
Bacalah kamu Berencana dikenal dunia
Bacalah ilmu sangat luas
Ilmu seluas lautan
Penerus Kartini tidak cukup membaca
Buktikan cinta membaca dan hasilkan Dari
4. Kartini Milenial
Karya: Azwar Aswin
Kau kini tak lagi harus berada Di Di.
Ucapkanlah terima kasih Di seorang pengarang:
Yang menulis surat-surat Di kawannya Di negeri orang.
Suarakan keinginan kaummu Sebagai bebas bertualang Di padang ilalang.
Kebayamu dijahit Didalam benang-benang literasi.
Batikmu ditulis Didalam kebebasan berekspresi.
Rambutmu kau sanggul Didalam pena.
Sandal kebaya kau ganti Didalam Sandalku kets.
Kadang ada terlalu banyak Bacaan,
dan terlalu sedikit waktu.
Kadang ada terlalu banyak waktu,
dan terlalu sedikit Bacaan.
Lantaran itulah kawanku Kartini milenial
rela membawa Bacaan Di pelosok-pelosok sepi,
Mengajak siapapun yang dia temui
Sebagai jatuh cinta Di kata-kata.
Lantaran itulah kawanku Kartini Milenial
rela membawa Bacaan Di Ditengah-Ditengah ramai,
Mengajak siapapun yang dia temui
Sebagai jatuh bangun Di cita-cita.
5. Perempuan itu Bacaan
Karya: Sio Hutasoit
Apa kau tahu? Jika perempuan itu Bacaan.
Tintanya biru teduh.
Perempuan itu Gudangnya Ilmu.
Isinya tak hanya asmara candu, Tetapi arti Di tulus
Pengorbanan tanpa keluh.
Walau dituntut harus sempurna sungguh, Tetapi…
Perempuan tahu nikmatnya berdiri teguh, tanpa kompromi waktu.
Di Di Bacaan Berencana kau temukan cerita tentang cinta yang utuh.
Walau hidup tak semanis madu, tangis menderu Justru sakit berdentum
Tapi tak pernah ia tulis bahwa hidup sepahit empedu.
Hanya ada bait tentang nyanyian syukur
Sayangnya, Bacaan itu tak bisa kau beli Didalam sekuntum bunga warna ungu
Tapi tawarlah Didalam rindu yang sudah kau pupuk
Damai saja, tak perlu ragu…
Lantaran, Di Bacaan itu Berencana kau temukan bahwa perempuan adalah pangkal restu
Juga sajak-sajak tentang doa ibu
Yang tiap hari ia tulis Didalam tangguh
Perempuan tak pernah layu
Perempuan itu Bacaan
Perempuan itu aku.
6. Literasi Kartini
Karya: Maorit
Kartini mengajarkan kami
Bahwa tulisan itu adalah ungkapan ekspresi
Menulis adalah menyusun ide
Menjadi gagasan yang mendobrak Kearifan Lokal
Kartini meyakinkan kami bahwa
Membaca itu membuka jendela dunia
Mengisi pikiran Didalam pengetahuan
Membuka diri Di kesempatan
Kartini membuktikan kekuatan bahasa
Bertata krama gadis Jawa
Bertutur Bahasa Indonesia
Berkomunikasi Bahasa Belanda Didalam sempurna
Kartini Menunjukkan kepada kami
Bahwa revolusi berakar Di Tempattinggal
Belajar pertama kami adalah bunda
Yang mengajarkan kami berbicara dan menanamkan cita-cita
Kartini Mendorong kami maju
Didalam senjata Alattulis, pena dan Bacaan
Kaki kami memang menjejak tanah
Tapi wawasan kami luas seluas angkasa
7. Ketika Puan Merapal Aksara
Karya: Ratna Agustina
Ketika puan merapal aksara
Seiring lembaran-lembaran yang terbuka
Kesadaran menyeruak Di sahaja
Berencana sebuah peran yang disandangnya
Bahwa hidup adalah tentang memberi makna
Ketika puan merapal aksara
Keluarga menjadi tempat pertama
Menabur benih cinta Berencana membaca
Bermula Di teladan yang kasat mata
Memantik bara seiring pembiasaan yang ditata
Ketika puan merapal aksara
Bersama bersekutu menyatukan asa
Memproyeksikan keberaksaraan bangsa
Didalam meramu pola Sebagai lebih berdaya
Bunga rampai karsa Di Dari nyata
Ketika puan merapal aksara
Khazanah cinta itu elok menjelma
Di balik bilik taman bacaan yang tercipta
Seiring Kearifan Lokal Global tutur yang kian mengemuka
Membaca nyaring dan mendongeng Dari Sebab Itu primadona
Ketika puan merapal aksara
Ada gelora yang terus membara
Tatkala yang tersirat itu tersurat Di tinta
Di lembaran yang tak lekang Dari sangkala
Di mana puan menuliskan renjana
8. Kartini Masa Didepan
Karya: Fiddinillah
Aku perempuan Indonesia
Menelan gelap menjadi pagi
Menantang kebodohan diri sebagai jati diri seorang aku
Bisa Jadi lelah menggoda berkata sudah
Tapi sadar, diri kecil menyandang cita cita tinggi
Bila satu Bacaan saja sudah menjadi penerang jalan,
Membias Di segala penjuru,
Menerobos celah tirai jendela dunia
Mengapa tak kucoba satu Bacaan lagi saja?
Aku perempuan Indonesia
Tak Berencana buta menjadi identitasku
Bila payahnya literasi menjadikanku bungkam, aku tak mau seperti itu.
Biarlah hitam mataku, kapal tanganku, rontok rambutku
Jauh lebih baik bagiku Di Di gelap dunia ku
Aku mampu berdaya
Kelak, bila mana aku dapat melihat dunia
Berencana ku seberangi pelita kepada perempuan Indonesia ku
Aku perempuan Indonesia
Aku potensi Indonesiaku
9. Emansipasi Masa Kini
Karya: Waidah
Emansipasi masa kini
Kami wanita yang berjuang Sebagai meraih mimpi
Didalam semangat penuh dedikasi
Tidak hilang kodrat tetap menjunjung kehormatan diri
Kami wanita Di inspirasi
Wanita yang penuh cinta kasih menjaga keluarga
Wanita yang penuh sayang mendidik anak bangsa
Wanita yang penuh perhatian merawat sesama
Wanita yang punya semangat Di bekerja
Wanita yang beroleh dan berekspresi
Wanita yang mendedikasikan Sebagai negeri
Dan semua wanita yang membawa misi
Di Panji perjuangan wanita sejati
Kami wanita yang tangguh dan mandiri
Tetapi tetap lembut Di pribadi
Penuh cita cinta kasih dan berbakti
Selalu terjaga dan terpatri Di hati
10. Kartini dan Literasi
Karya: Winnie TM
Kebudayaan dibangun Didalam pemikiran
Rasa, cipta, dan karsa diolah sedemikian rupa
Perubahan berbanding lurus Didalam masa yang senantiasa berganti
Masa kini perlu disiapkan Sebagai masa Didepan
Masa Didepan disiapkan Didalam literasi
Kartiniku menulis Habis Gelap Terbitlah Terang
Terang yang aku harap terus bersinar menyinari bumi
Seperti lagu yang terus mengalun
Mengiringi emansipasi, kebebasan, dan toleran
Tiga nilai yang kudapat Di wahai Kartiniku
Kini, sarana yang paripurna tidaklah berarti
Tanpa daya dan upaya Didalam literasi
Terus menerus bukan berarti tanpa jeda
Untuk transendensi dan masa tanpa ego
Lantaran kehidupan Berencana menjadi seperti apa hanya bergantung Di saya
11. Literasi Ajeng Pekerti
Karya: Septiani Wahyuni
Sumbu Pandu Menyala Rona
Gemerlap Kulturasi Merangkai Jentik Hari
Jemari Gemar Berpikir, Logika Asri Bergelora
Bara Ideologi, Kidung Melati Melagu ‘Kartini’
Jejer dan Jejak Gubahan Tangan Sang Putri
Semajemuk Rantai Garis Emansipasi
Mekar Berkelakar, Berakar Jati Suci
Santun Meracik Stigma, Meramu Juta Profesi
Terbit Itu Menyusuri Dedikasi Di Lembayung
Arsiran Literasi Menuai Filsafat Dewi Padi
Bermain Bagaikan Bintang,
Lincah Berima Belajar
Wanita Pekerti,
Jarum Hati BerAjeng Sang Raden Peri,
Jadilah Gaung
Agar Semboyan Gelap Menerang,
Tetap Gemintang Di Buana Melanglang
12. Untukmu, Kartini Literasi
Karya: Dwi Agustin
Bukan soal, bila harus menapaki ribuan tapak jalan
Niatnya membumikan literasi, sejernih Pantai Pandanan
Dahan pohon senantiasa doakan tiap langkahnya
Mentari pun turut menyinari cita-cita mulianya
Tak kenal lelah berjuang, hingga temukan titik terang
Pengorbanannya tak berbilang, tuk bangsanya yang ia sayang
Bukan hal mudah, tuk yakinkan masa
Bahwa niatnya tulus, tak terukur meski sampai angkasa
Prasangka yang terbang mengalun, tak buat asanya luruh menurun
Semangat itu, kan terus terpupuk dan Lebihterus merimbun
Ia berkilau benderang, bersama bintang malam ini
Curahan terima kasih untukmu, kartini literasi
13. Kartini, Perombak Kearifan Lokal Kaumnya
Karya:WijiSayekti
Anggun parasmu sarat pesona
Sekilas permukaan terpandang bersahaja
Meski jauh Di kedalaman pikirmu luar biasa
Kau wanita tak biasa…
Adakah tiada menahu kan sosoknya?
Menebar harum Di untaian namanya
Pelopor kaumnya pun bisa membaca
Merajut Dari jua karsa
Mengenang singgah Di masanya
Mengintip kalam sanubarinya…
Wanita tiada bisa begini saja
Di pingitan menunggu takdir tiba
Wanita pun sarat talenta
Bila sebenar mengasahnya
Bangkitlah menuai ilmu menapak buana
Menjadi guna Untuk semesta
Lantas…Kartini pun berdaya
Pun menjadi suri tauladan kaumnya
Engkau Kartini… perombak Kearifan Lokal kaumnya
Agar habislah gelap terbitlah terang
14. Elok
Karya: Nanda Alifya
Mereka hidup bersama banyak kata
Diiringi tekad Sebagai memahami seluruhnya ada
Soal banyak titik hitam yang berisik Di kepala
Siapa sangka tersulam penuh makna
Apa kau tahu, kawan
Niatnya lebih jernih Di air pegunungan
Mereka perempuan
Lahir Di bunga bunga termahsyur Di tanah paling subur
Hari ini dan seterusnya, kawan
Mereka yang pikirannya seluas lautan
Mimpinya melesat tajam bagai peluru
Suaranya Berencana melahirkan keajaiban Mutakhir
Jangan abaikan hari ini, kawan
Banyak Kartini yang bermekaran
Merangkai mustahil menjadi Bisa Jadi
Martabat dan pengetahuan menjelma bagai angin
Didalam jemarinya, kawan
Lahir banyak tulisan mengiring peradaban
Lalu persilahkan tanya keluar Di benakmu
“oh mengapa bisa seelok itu?”
15. Surat Kartini
Karya: Wanda Listiani
Berulang kali kubaca suratmu
Tidak ada pilihan, selain maju
Kubuang sejenak ragu
Tak ada lagi masa lalu
Bergemuruh rindu
Bertalu-talu
Tetapi kau tak membiarkanku
Membisu
Di waktu
Surat-suratmu
Bagai taksu
Mencerabutku
Bergerak ku
Di bayang semu
Gelap pun berlalu
Di Pada Itu
Tumbuh semangat Mutakhir
Selalu
Itu tadi beberapa kumpulan puisi hari Kartini yang bisa detikers jadikan referensi Sebagai dibacakan Pada 21 April. Selamat hari Kartini, selamat merayakan emansipasi.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: 15 Puisi Menyentuh Hati Sebagai Dibacakan Pada Perayaan Hari Kartini









