Nganjuk –
Jalan Lurah Surodarmo Ke Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk, bukan berasal Di nama lurah setempat. Melainkan, seorang tokoh lurah atau kepala desa asal Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom.
Ada alasan kuat mengapa sosoknya diabadikan Di Sebab Itu nama jalan Ke pusat kota. Lurah Surodarmo disebut punya peran penting Ke masa perjuangan kemerdekaan.
Pemerhati sejarah Nganjuk, Sukadi mengatakan, Lurah Surodarmo dikenal sebagai pemimpin desa yang ikut ambil Dibagian melawan penjajah, Di Agresi Militer Belanda II Ke 19-20 Desember 1948.
Hanya saja, ia tak turun langsung Di Arena terbuka.
“Lurah Surodarmo berjuang Di cara lain. Menggunakan kesaktian dan ilmu spiritual yang dimilikinya. Itu berdasarkan penuturan keluarga dan saksi mata Ke masa itu,” ungkap Sukadi kepada detikJatim, Kamis (7/5/2026).
Selain sakti, jabatannya sebagai lurah juga dimanfaatkan Untuk mendukung Ekspedisi para pejuang Di melawan penjajah.
“Salah satu cerita yang paling menonjol, adalah ketika Lurah Surodarmo menyelamatkan pejuang Di kejaran Belanda,” terang Sukadi yang juga anggota Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk) tersebut.
Sukadi menyebut, suatu waktu ada sekumpulan pasukan pejuang yang dikejar-kejar tentara Belanda. Mereka terdesak, sampai berlindung Ke Tempattinggal Lurah Surodarmo Ke Desa Getas.
Di kesaktiannya, Lurah Surodarmo lalu ‘menyembunyikan’ pasukan pejuang secara gaib Supaya tak bisa dilihat Di mata tentara Belanda.
“Padahal para pejuang itu ya tetap berada Ke Tempattinggal Lurah Surodarmo, tapi Belanda tidak berhasil menemukan mereka, begitu juga Di Lurah Surodarmo,” ungkap Sukadi.
Situasi itu membuat pasukan kolonial murka. Markas Belanda Ke Kedungsoko, Sukomoro, Malahan disebut pernah memerintahkan pengeboman Tempattinggal Lurah Surodarmo.
“Rumahnya dibom dan terbakar. Tapi Lurah Surodarmo tidak terluka, Malahan bangunannya hanya rusak ringan. Kalau secara logika, seharusnya hancur,” imbuh Sukadi.
Kisah tersebut lekat Di anggapan Kelompok soal kesaktian Lurah Surodarmo. Ia dikenal gemar tirakat, termasuk menjalani puasa hingga 40 hari. Praktik spiritual itu diyakini menjadi Dibagian Di kekuatan yang dimilikinya.
Penghormatan Di jasa Surodarmo Lalu diwujudkan pemerintah Lokasi Di mengabadikan namanya sebagai jalan. Keputusan itu diambil Ke masa kepemimpinan Bupati Soeprapto.
Menurut Sukadi, Soeprapto Memiliki kedekatan personal Di Surodarmo. Sebelumnya menjadi bupati, ia pernah menjabat sebagai Camat Warujayeng Ke 1960-1965. Hubungan keduanya Malahan disebut seperti saudara.
“Bupati Soeprapto ingin jasa Lurah Surodarmo tidak dilupakan. Salah satunya Di memberi nama jalan sebagai bentuk Apresiasi,” pungkasnya.
Lurah Surodarmo pensiun Di jabatannya Ke 1972. Tiga tahun Lalu, Ke usia 80 tahun, ia wafat. Tepatnya Ke 30 Oktober 1975. Jenazahnya dimakamkan Ke pemakaman umum Desa Getas.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Lurah Surodarmo, Sosok Sakti yang Diabadikan Di Sebab Itu Nama Jalan Ke Nganjuk











