Lamongan –
Kabupaten Lamongan Berencana memasuki usia Hingga-457 Ke 26 Mei 2026. Akan Tetapi, temuan prasasti kuno Membeberkan bahwa nama Lamongan ternyata sudah dikenal jauh lebih awal, yakni Dari abad Hingga-13.
Temuan ini menjadi sorotan Lantaran dinilai sebagai bukti historis yang bersifat administratif, bukan sekadar cerita rakyat atau legenda yang berkembang Ke Kelompok.
Pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo, menyebut Prasasti Sångå sebagai salah satu rujukan penting Untuk menelusuri jejak historis Daerah tersebut.
“Untuk prasasti itu ada penyebutan ‘Ing Lāmoṅan’ (dibaca Lamongan). Ini penting Lantaran Menunjukkan Lamongan sudah dikenal Ke abad Hingga-13, bukan sekadar Untuk cerita rakyat, tetapi Untuk dokumen resmi,” kata Supriyo Pada berbincang Didalam wartawan.
Prasasti Sångå berbentuk dua lempeng perunggu dan Pada ini disimpan Ke Rijksmuseum van Oudheden (Museum Leiden, Belanda). Lokasi penemuan awal prasasti tersebut tidak diketahui secara pasti.
Menurut Supriyo, Situasi ini lazim terjadi Ke banyak temuan prasasti Jawa kuno yang dibawa Hingga luar negeri Ke masa kolonial tanpa dokumentasi arkeologis yang lengkap.
“Memang tidak ada catatan pasti ditemukan Ke mana. Tapi secara konteks isi, prasasti ini kuat diduga berasal Didalam Daerah Jawa Timur, khususnya kawasan bekas Janggala Ke pesisir utara,” ujarnya.
Ia menambahkan, kawasan tersebut mencakup Daerah yang kini meliputi Lamongan, Gresik hingga Sidoarjo. Untuk prasasti itu, Lamongan tidak hanya disebut sebagai nama tempat, tetapi juga Pada Didalam sistem administratif yang terorganisasi.
“Ke dalamnya juga disebut istilah seperti ‘juru samya’. Ini mengindikasikan adanya pejabat lokal atau pengelola Daerah. Artinya, sudah ada struktur sosial dan birokrasi yang berjalan Pada itu,” jelasnya.
Ke Samping Itu, terdapat catatan pemberian hadiah berupa kain (wdihan) dan satuan nilai uang (māṣa), yang Menunjukkan Karya ekonomi telah berlangsung Ke masa tersebut.
“Kalau sudah ada distribusi hadiah dan nilai Kurs Matauang, berarti sistem ekonominya juga sudah hidup. Ini memperkuat bahwa Lamongan Pada itu bukan Daerah kosong,” tambahnya.
Prasasti tersebut juga mencantumkan istilah “panugraha śrī jaṅgala” yang merujuk Ke Daerah Janggala. Hal ini menjadi petunjuk bahwa Lamongan kemungkinan masuk Untuk jaringan Daerah tersebut.
“Pada ini Janggala Dikatakan hilang Setelahnya masa Airlangga. Tapi Didalam prasasti-prasasti, termasuk Mula-Malurung, terlihat bahwa Janggala masih ada, kemungkinan sebagai Daerah administratif Ke bawah kekuasaan yang lebih besar,” terangnya.
Supriyo menilai, temuan ini Memberi perspektif Terbaru bahwa sejarah tidak selalu hilang, melainkan bisa berubah bentuk seiring waktu.
“Janggala itu bukan lenyap, tapi bertransformasi. Dan Lamongan kemungkinan menjadi Pada Didalam struktur itu,” lanjutnya.
Ia juga menyinggung keterkaitan Didalam masa awal berdirinya Majapahit, khususnya Lewat Prasasti Balawi (1305) yang menyebut nama Śrī Harsawijaya.
“Ke sini kita bisa melihat bahwa masa lalu sering digunakan Untuk legitimasi kekuasaan. Raden Wijaya, misalnya, meneguhkan Keputusan lama Untuk memperkuat posisinya,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar temuan sejarah ini tidak disederhanakan menjadi klaim kebanggaan semata.
“Sering kali langsung disimpulkan, ‘Lamongan sudah ada Dari abad Hingga-13’. Itu tidak salah, tapi harus dipahami Didalam konteks. Nama bisa sama, tapi struktur Daerah dan identitasnya bisa berbeda,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan kritis Untuk memahami sejarah agar tidak terjadi penyederhanaan berlebihan.
“Sejarah itu berlapis, tidak linier. Kalau tidak hati-hati, bisa berubah Didalam Sebab Itu alat klaim, bukan sumber pengetahuan. Ini Kemungkinan bagus Untuk Pembelajaran publik, penguatan identitas Lokasi, Justru Hubungan Luar Negeri Adat Istiadat Dunia. Tapi syaratnya satu, harus berbasis kajian, bukan sekadar kebanggaan,” pungkasnya.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Prasasti Didalam Abad Hingga-13 Ungkap Jejak Awal Lamongan











