Sukabumi –
Alunan biola mengalun harmoni Di atas panggung Gedung Djuang 45, Kota Sukabumi. Cahaya lampu menyorot sosok perempuan berkebaya putih yang menggenggam biola Di tangan kanan. Di belakangnya, seorang tentara Belanda membawa senapan melangkah tegas, Sambil Itu lagu-lagu anak ciptaan Ibu Soed menggema membawa penonton seolah kembali Hingga masa kecil.
Pertunjukan teater musikal bertajuk Ibu Soed: Senada Senandika itu dipentaskan Di nuansa dramatik dan penuh nostalgia. Lagu-lagu seperti Naik Delman, Naik Kereta Api, hingga Kupu-kupu yang Lucu dibawakan Di aransemen Terbaru yang lebih teatrikal dan modern.
Seluruh lagu tersebut diciptakan Dari Saridjah Niung alias Ibu Soed, wanita kelahiran Sukabumi yang merupakan tokoh pejuang maestro Seni Kekayaan Budaya yang jasanya begitu besar Untuk bangsa. Ia sangat dihormati atas dedikasinya menumbuhkan nasionalisme anak-anak dan menciptakan lagu-lagu legendaris seperti ‘Tanah Airku’ dan ‘Berkibarlah Benderaku’.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutradara sekaligus penulis pertunjukan, Den Aslam, mengatakan pementasan itu lahir Di keresahannya melihat lagu anak-anak mulai tersisih Dari Gaya media sosial.
“Yang mana kan Ibu Soed itu lahir dan tumbuh Di sini, Di Sukabumi. Dan itu Dari Sebab Itu sesuatu Untuk kami sebagai orang Sukabumi juga. Banyak yang belum tahu kalau beliau salah satu komponis terbesar Indonesia yang mewarnai masa kecil kita,” kata Den Aslam kepada detikJabar, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, karya-karya Ibu Soed bukan sekadar hiburan, melainkan media Belajar karakter Untuk anak-anak Indonesia. “Di lagu-lagulah anak-anak kita bisa punya rasa tanggung jawab, rasa Memperoleh, sampai tenggang rasa,” ujarnya.
Den menilai generasi Di ini lebih akrab Di lagu-lagu viral media sosial dibanding lagu anak yang sarat pesan moral. Sebab itu, ia mencoba Memperkenalkan kembali karya Ibu Soed lewat pendekatan teater musikal yang lebih segar.
“Kalau lagu-lagu ini kita aransemen ulang, dibuat lebih fun dan populer, itu bisa Dari Sebab Itu alternatif supaya lagu anak tetap hidup,” ucapnya.
Di proses produksi, Den mengaku tantangan terbesar adalah mencari literatur tentang sosok Ibu Soed. Ia mengandalkan Literatur biografi terbitan Departemen Belajar dan Kebudayaan era 1990-an yang berisi wawancara langsung Di sang komponis.
Di Kajian itu pula, ia menemukan fakta bahwa Ibu Sud lahir Di kawasan Jalan Kaum, Sukabumi, tepatnya Di Area Gunungparang, Kecamatan Cikole.
“Beliau ternyata keturunan Bugis dan sempat menjadi anak angkat seorang hakim Belanda bernama Mr J F Kramer,” katanya.
Pementasan itu dipersiapkan Di satu bulan, mulai Di Kajian, Laga Persahabatan hingga produksi. Sebanyak 13 lagu Ibu Soed ditampilkan, termasuk beberapa lagu yang dibawakan secara medley.
Di Di Yang Sama, pemeran Ibu Soed, Ghaisani Insyira (21), mengaku harus mendalami karakter sang komponis lewat proses Kajian yang cukup intens. Meski Terbaru pertama kali bermain teater musikal, ia mencoba Memperkenalkan sosok Ibu Soed yang dikenal tegas dan berbeda Di perempuan Di zamannya.
“Ibu Soed itu bukan perempuan yang bungkam. Karakternya kuat, agak tomboi juga,” ujar Cancan, sapaan akrabnya.
Perempuan yang Memperoleh latar Dibelakang Alunan itu mengaku tertarik bergabung Sebab sosok Ibu Soed sangat lekat Di dunia biola. “Kang Den mencari perempuan asli Sukabumi yang bisa main biola dan bernyanyi. Kebetulan saya basic-nya Alunan,” katanya sambil tersenyum.
Ia menyebut proses Laga Persahabatan berlangsung singkat, hanya Di tiga minggu. Para Manajer harus membangun chemistry lewat Laga Persahabatan intensif dan pembacaan naskah bersama.
“Ini Penghayatan Terbaru banget buat saya. Di akting, menghafal dialog, sampai bermain Alunan Di satu panggung,” tuturnya.
Di pementasan tersebut, sejumlah lagu bertema alam hingga transportasi dibawakan Di koreografi dinamis. Adegan Untuk adegan disusun seperti perjalanan hidup Ibu Soed Di Melakukan lagu berbahasa Indonesia kepada anak-anak Di masa penjajahan.
Untuk Ghaisani, pengaruh Ibu Soed Pada bangsa Indonesia sangat besar Sebab lagu-lagunya berhasil menanamkan rasa cinta tanah air Sebelum usia dini.
“Ibu Soed itu sudah bikin lagu viral Di dulu, tapi bukan sekadar hiburan. Lagu-lagunya mengajarkan bahwa negeri kita indah dan kita bukan bangsa yang mudah ditindas,” pungkasnya.
Sekedar informasi, Ibu Soed lahir Di Sukabumi, Jawa Barat, Hindia Belanda Di 26 Maret 1908. Ia pernah menempuh Belajar Di Hoogere Kweek School Bandung, Belajar Seni Kekayaan Budaya dan Alunan. Sebelumnya menjadi Pencipta Lagu, ia sempat bekerja sebagai guru, penyiar radio, dramawan hingga seniman batik.
Ibu Soed dikenal sebagai tokoh Alunan tiga zaman (Belanda, Jepang, dan Indonesia) dan telah menciptakan total 480 lagu anak-anak dan 2 lagu wajib nasional. Meski jasanya begitu besar, hingga Di ini Ibu Soed belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
(sud/sud)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Mengenang Ibu Soed Lewat Panggung Teater Musikal Di Sukabumi











