DENPASAR, Memasuki Bulan Mei tingkat hunian hotel dan restaurant Di Bali merangkak naik. Okupansi hotel Di kawasan Kuta Di Mei 2026 berada Di kisaran 60 hingga 70 persen. Meski demikian, kenaikan ini bukan dipengaruhi menguatnya Kurs Mata Uang Usd atas Idr.
Praktisi Perjalanan Hingga Luarnegeri sekaligus tokoh Kelompok Bali, I Ketut Darmayasa, mengatakan pelaku industri Perjalanan Hingga Luarnegeri Pada ini mulai melakukan berbagai persiapan Sebagai menyambut peningkatan kunjungan wisatawan Pada musim liburan tiba.
“Kalau kita melihat praktik Di lapangan, teman-teman industri Perjalanan Hingga Luarnegeri memang Lagi Merencanakan momentum liburan panjang ini Di awal. Sebagai bulan Mei sendiri, rata-rata okupansi Di Lokasi Kuta kurang lebih Di 60 sampai 70 persen,” ujar Darmayasa ditemui Di kantor DPRD Bali usai Pertemuan paripurna, Senin (18/5/2026).
Kata dia, Peningkatan okupansi mulai terlihat Di akhir pekan lalu, khususnya Pada periode Kamis hingga Sabtu yang bertepatan Di libur panjang. Samping Itu, momentum hari raya dan long weekend Di akhir Mei diperkirakan kembali Merangsang tingkat hunian hotel Di Bali.
“Di akhir minggu-minggu ini, terutama menjelang liburan panjang minggu lalu, hari Kamis, Jumat, Sabtu ada kenaikan Isa Almasih. Sesudah Itu minggu Didepan juga mulai tanggal 22 ada hari raya dan long weekend, itu Akansegera menambah tabungan okupansi buat hotel-hotel,” kata Darmayasa yang juga Chairman Indonesian Food & Beverage Executive Association (IFBEC) Bali ini.
Meski demikian, Darmayasa mengakui Situasi kunjungan wisatawan Pada ini masih standar.
Peningkatan kunjungan memang mulai terlihat, Akan Tetapi masih berlangsung secara bertahap.
“Kalau melihat kondisinya, Pada ini memang agak struggling, tapi masih ada potensi kenaikan Kendati naiknya bertahap,” ujarnya.
Yang Terkait Di penguatan Kurs Mata Uang Usd Amerika Serikat Di Idr, Darmayasa menilai Situasi tersebut belum Memberi dampak langsung Di tingkat hunian maupun harga kamar hotel Di Bali.
Sebab, sebagian besar wisatawan telah melakukan reservasi jauh hari Sebelumnya Itu.
“Kenaikan Usd itu belum ada korelasinya Di kenaikan okupansi hotel Pada ini. Mungkin Saja kita Akansegera lihat perkembangannya Hingga Didepan apakah nanti berdampak atau tidak,” katanya.
Samping Itu, harga kamar hotel juga belum Merasakan penyesuaian akibat kenaikan Usd. Akan Tetapi, perubahan harga tetap bergantung Di tingkat permintaan wisatawan Pada memasuki puncak high season nanti.
“Harga kamar pun Lantaran tamu-tamu Pada ini melakukan reservasi Di awal, Karena Itu belum ada konektivitas atau korelasi Di harga Usd Pada ini. Hotel itu tergantung demand, kalau demand-nya tinggi pasti secara tidak langsung harga Akansegera Merasakan kenaikan,” ungkapnya.
Selain faktor ekonomi Internasional, situasi Politik Global internasional juga menjadi perhatian pelaku industri Perjalanan Hingga Luarnegeri Bali, termasuk konflik Di Timur Ditengah yang dikhawatirkan dapat memengaruhi mobilitas wisatawan mancanegara.
“Masih ada beberapa Topik yang ada. Mudah-mudahan saja nanti selalu berdampak positif Di segala perkembangan yang ada, termasuk dampak Di Konflik Bersenjata Timur Ditengah,” tandas General Manager Di Grand Istana Rama Hotel Di Kuta itu.
Di Pada Yang Sama, ditemui Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Perjalanan Hingga Luarnegeri Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya Mengungkapkan pihaknya belum Memiliki kajian dampak kenaikan Usd Di sektor Perjalanan Hingga Luarnegeri Bali, termasuk Di tingkat kunjungan wisatawan dan pergerakan industri Perjalanan Hingga Luarnegeri Hingga Didepan. (jay/jon)
Artikel ini disadur –>Wartabalionline.com Indonesia: Okupansi Hotel Di Bali Tak Dipengaruhi Kenaikan Usd











