Bandung –
Dari ribuan tahun lalu, bulan purnama bukan sekadar benda langit yang menerangi malam. Ke berbagai belahan dunia, cahaya keperakannya melahirkan cerita-cerita rakyat yang diwariskan Di generasi Di generasi.
Ada yang menganggapnya sebagai pertanda datangnya kekuatan gaib, ada pula yang melihatnya sebagai simbol pengorbanan, keberanian, dan keabadian. Ke Jawa Barat sendiri, bulan purnama sering dikaitkan Di perilaku keagamaan.
Wabilkhusus purnama tanggal 14 bulan Maulud sering dijadikan momen Sebagai umat Islam beraktivitas malam hari menjemput keberkahan Di cara Berpartisipasi Di majelis taklim, majelis zikir, hingga berziarah. Untuk penikmat cahaya bulan, bulan purnama sering dimanfaatkan Sebagai ‘nyawang bulan Ke mumunggang’, Merasakan bulan Ke dataran tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimanapun respons manusia atas Kejadian Luar Biasa bulan purnama, telah tercipta cerita rakyat Di berbagai belahan dunia atas kejadian yang berulang setiap bulan itu.
Berikut ini tiga cerita rakyat paling terkenal yang hingga kini masih hidup Di cerita rakyat dan mitologi dunia. Simak yuk!
3 Cerita Rakyat Dunia Ke Balik Cahaya Bulan Purnama
1. Ratapan Manusia Serigala
Pada bulan purnama menggantung sempurna Ke langit malam, Kelompok Eropa kuno percaya bahwa sesuatu yang mengerikan bisa terjadi. Dikutip Di laman treesisters.org, konon, ada manusia yang hidup Di kutukan mengerikan.
Orang yang dikutuk itu Ke siang hari tampak seperti orang biasa, tetapi ketika cahaya bulan purnama menyinari bumi, tubuhnya perlahan berubah menjadi seekor serigala buas. Tangannya berubah menjadi cakar, gigi memanjang menjadi taring tajam, dan naluri manusianya menghilang, digantikan Di hasrat liar Sebagai berburu.
Legenda manusia serigala atau werewolf menjadi salah satu mitos paling terkenal Di cerita rakyat Eropa. Sosok ini melambangkan pergulatan batin manusia Antara sisi yang beradab dan naluri liar yang tersembunyi Ke Di dirinya.
Bulan purnama dipercaya menjadi pemicu perubahan tersebut, seolah mengingatkan bahwa setiap manusia Memiliki dua sisi yang selalu bertarung. Kisah ini Sesudah Itu terus hidup Lewat novel, Sinema, hingga berbagai karya Kebiasaan Global populer yang membuat hubungan Antara bulan purnama dan dunia supranatural Lebih melekat Ke benak banyak orang.
2. Kelinci yang Tinggal Ke Bulan
Kalau Ke Sunda, Mungkin Saja kisah ini serupa Di cerita Nini Anteh dan kucingnya yang merupakan kucing tiga warna, Candramawat. Kocap tercerita, Kelompok Asia Timur Memiliki cerita yang jauh lebih lembut dan penuh makna daripada cerita tentang purnama Ke Eropa.
Mereka percaya bahwa jika memperhatikan permukaan bulan purnama Di saksama, Berencana tampak bayangan seekor kelinci yang Di menumbuk ramuan menggunakan lesung dan alu.
Legenda ini paling populer Di cerita rakyat Tiongkok. Dikisahkan, seekor kelinci setia menemani Dewi Bulan bernama Chang’e yang tinggal Ke bulan.
Konon, Chang’e meminum ramuan keabadian agar ramuan tersebut tidak jatuh Di tangan seseorang yang tamak dan haus kekuasaan. Akibat keputusan itu, ia terangkat Di bulan dan hidup selamanya Ke sana bersama kelinci kesayangannya.
Dari Pada itu, sang kelinci dipercaya terus menumbuk ramuan kehidupan tanpa henti. Bunyi lesungnya yang dibayangkan bergema Ke malam-malam bercahaya menjadi lambang ketekunan, pengorbanan, dan harapan Berencana kehidupan yang abadi.
3. Dewi Artemis
Di mitologi Yunani, cahaya bulan tidak hanya dikaitkan Di legenda, tetapi juga Di sosok seorang dewi yang disegani, yakni Artemis. Menurut laman treesisters.org, Dewi Artemis dikenal sebagai saudara kembar Apollo, sang dewa matahari. Jika Apollo menguasai siang, maka Artemis identik Di malam dan cahaya bulan.
Ia dihormati sebagai dewi alam liar, satwa liar, perburuan, kesucian, sekaligus pelindung perempuan dan anak-anak. Di banyak lukisan maupun patung kuno, Artemis hampir selalu digambarkan mengenakan mahkota berbentuk bulan sabit, simbol yang mencerminkan kedekatannya Di siklus bulan.
Hubungan Artemis Di bulan bukan sekadar lambang langit malam. Fase-fase bulan yang terus berubah Disorot mencerminkan sifat sang dewi yang mandiri, teguh Ke prinsip, dan setia menjalani hidup Di kesucian.
Sebenarnya, bulan purnama Di cahaya yang penuh lebih Didekat Di sosok Dewi Selene yang dipercaya sebagai Dewi Bulan. Tetapi, Ke Di kesusastraan, cahaya bulan justru lebih melekat Ke Dewi Artemis yang ‘dewi bulan sabit’ ketimbang Selene.
Selene digambarkan sebagai dewi yang menaiki kereta kencana melintasi langit malam Sebagai menebarkan terang. Dia juga merupakan sosok yang teramat cantik Di gaun keperakan.
(iqk/iqk)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Menguak 3 Legenda Purnama Paling Populer Dunia











