Bandung –
Di Priangan, pernah ada golongan kaya raya yang disebut kaum ménak. Mereka adalah para bupati dan pejabat pemerintahan. Tak lupa, anak-anak mereka yang Merasakan kehormatan berupa status sosial tinggi secara turun-temurun.
Perhatikan saja nama-nama mereka. Nama gelar seperti raden, aria, kanduruan, pangeran, dan banyak lagi, yang menyemat Di nama mereka adalah gelar Sebagai sebuah jabatan. Tetapi, Di praktiknya gelar itu disematkan pula Sebagai anak-anak keturunan mereka.
Pembeda Di para ménak Bersama kaum cacah atau rakyat kebanyakan tentu saja Di antaranya Di Life Style. Kaum ménak bergelimang kekayaan dan hidup Bersama serba kemudahan Lantaran selalu dilayani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jabatan yang mereka emban dibarengi Bersama fasilitas pengiring. Yakni, orang-orang yang selalu membersamai mereka Di agenda-agenda formal, dan selalu melayani para pembesar itu. Di Di abdi dalem yang melayani para ménak adalah tukang épok.
Apa itu Tukang Epok?
Tukang Epok disebut pula juru épok adalah orang yang punya kewajiban membawa Wadah bernama ‘épok’. Menurut Kamus Sundadigi, Wadah ini adalah tempat Sebagai membawa sirih pinang atau rokok.
Sirih pinang Sebagai menyugi telah lama menjadi simbol kehormatan, Malahan Dari zaman raja-raja Sunda. Sambil Itu rokok adalah respons zaman Di kehadiran tembakau Di tanah Sunda.
Dikutip Di Bacaan ‘Kehidupan Kaum Ménak Priangan 1800-1942’ karya DR. Nina H. Lubis, dikatakan bahwa kaum kaya raya yang disebut ménak itu nyaris selalu Memiliki pelayan.
“…para abdi dalem seperti tukang épok (tukang pembawa sirih dan rokok), tukang pembawa pakécohan (tempat ludah), tukang pembawa payung kebesaran, tukang istal, koki, gandék (pelayan kepercayaan), emban (pengasuh anak), dan priyayi (tukang mengantar surat). Sebagai keperluan pegawai semacam inilah, maka Di Di Merasakan gaji, beberapa bupati juga Merasakan tunjangan (toelage) yang jumlahnya cukup besar.” tulis Bacaan itu.
Pelayan-pelayan itu merupakan Pada Di Life Style. Bacaan itu menegaskan, kaum ménak hidup Bersama penuh kebesaran meniru gaya hidupnya para raja-raja. Yang, tentu saja Life Style semacam ini perlu biaya besar. Biaya-biaya itu, kalau mengandalkan gaji dan tunjangan boleh Bersama Sebab Itu tidak cukup.
“Di masa Kompeni hingga tahun 1871, bupati-bupati Priangan Merasakan imbalan Di penyerahan Minuman Kafein sebesar enam ringgit per pikul dan memperoleh pendapatan Di pungutan ber-macam-macam Pajak Lainnya yang terlalu banyak jumlahnya, tetapi tidak teratur, tidak tetap, Malahan cenderung sewenang-wenang.” tulisnya.
Deskripsi Tukang Epok yang Bikin Merinding
Bacaan ‘Sunda Sambil Lalu’ karya Hawe Setiawan (2025) mengutip deskripsi tentang kiprah tukang épopk Di zaman kaum ménak. Deskripsi itu diambil Di karya sastra berjudul ‘Mantri Jero’ karya R. Memed Sastrahadiprawira.
Di sana, tukang épok dirincikan sebagai seseorang yang harus waspada penglihatannya jika Di berada Di Didekat juragannya. Sebab, kadang kala juragan Menerbitkan perintah hanya Bersama isyarat saja.
Di Di perintah Bersama isyarat itu adalah perintah Sebagai segera diambilkan rokok. Juragan Akansegera mengacungkan dua jarinya lalu dicabangkan. Untuk melihat hal itu, tukang épok tidak boleh salah tafsir. Dicabangkannya dua jari berarti meminta rokok.
Tukang épok harus segera berdiri dan menyelipkan rokok Di jemari juragan. Sesudah posisi rokok pas dikepitnya, tukang épok harus menyalakan api Sebagai membakar moncong rokok itu. Jika rokok berhasil menyala dan sang juragan berkenan menghisapnya, maka tukang épok harus segera duduk Di tempat semula.
“Di urusan ini saya hanya sanggup Sebagai mengatakan bahwa adegan itu tidak Sebagai ditiru Di abad Hingga-21,” tulis Hawe Setiawan.
(tya/tya)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Mengenal Tukang Epok, Abdi Dalem Kaum Menak Priangan











