Kebiasaan ‘Kasur Raga’ Usungan Jenazah Sekali Pakai Ke Kalitanjung Banyumas



Banyumas

Komunitas Ke Grumbul Kalitanjung, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas, mempunyai Kebiasaan pemakaman warisan leluhur yang sudah berusia ratusan tahun. Diyakini, Kebiasaan sudah ada Dari tahun 1503 silam.

Kebiasaan itu dikenal Bersama penggunaan ‘kasur raga’, sebuah usungan jenazah berbahan bambu yang dibuat khusus setiap kali ada warga meninggal dunia. Untuk Komunitas Kalitanjung, kasur raga bukan sekadar alat pengantar jenazah Ke pemakaman, melainkan simbol perjalanan terakhir manusia Ke alam keabadian.

Juri bicara Komunitas adat Kasepuhan Kalitanjung, Darmadi, mengatakan hampir seluruh warga Kalitanjung masih menggunakan Kebiasaan tersebut hingga sekarang.


“Kalau Kalitanjung itu hampir semua pakai Kebiasaan orang meninggal menggunakan kasur raga. Bahannya menggunakan bambu,” kata Darmadi Di dihubungi detikJateng, Rabu (20/5/2026).

Kasur raga dibuat secara khusus ketika ada warga meninggal. Tidak ada kasur raga yang disimpan atau digunakan ulang. Menurut kepercayaan warga setempat, alat pengantar jenazah tidak boleh bekas digunakan orang lain.

“Itu ibaratnya kereta Ke Ke sana, Untuk membawa orang meninggal Ke kuburan. Menurut kepercayaan orang Kalitanjung jangan bekas orang,” ujarnya.

Tak hanya itu, pembuatan kasur raga juga Memiliki aturan dan hitungan tersendiri yang diwariskan turun-temurun. Ukuran hingga jumlah bambu yang digunakan tidak boleh sembarangan.

“Ada ukuran-ukurannya sendiri, ada hitungannya juga seperti orang Jawa Di umumnya,” katanya.

Untuk proses pembuatannya, Dibagian alas atau tatakan dibuat menggunakan tujuh potong kayu, sedangkan Dibagian lengkung atap menggunakan lima potong bambu.

“Ada kayu jumlahnya tujuh potong. Yang mengkelung, yang buat atap jumlahnya lima potong. Hitungannya selalu seperti itu,” jelas Darmadi.

Angka tujuh sendiri Memiliki makna filosofis Untuk Komunitas Kalitanjung. Darmadi menyebut ikatan Di jenazah juga dibuat tujuh simpul.

“Orang meninggal itu ikatannya ada tujuh. Kalau yang lebih mendetail lagi, Ke Untuk tubuh manusia juga ada tujuh Dibagian tertentu menurut hitungan leluhur,” ucapnya.

Sesudah digunakan mengantar jenazah Ke makam, kasur raga tidak ikut dikuburkan. Benda itu hanya diletakkan Ke atas makam hingga lapuk dimakan usia.

“Kasur raga itu ditaruh Ke atas makam, tidak ikut dikuburkan, sampai rusak sendiri,” katanya.

Kebiasaan kematian Ke Kalitanjung tidak berhenti Di prosesi penguburan. Di malam hari Sebelumnya pemakaman, warga juga Melakukan pembacaan “Serat Menyuri”, semacam kidung atau tembang khusus yang dibacakan semalam suntuk Bersama para sesepuh adat.

“Kalau meninggalnya sore, biasanya dikuburkan besoknya. Malamnya dibacakan Serat Menyuri. Semacam kidungan, tapi ada bukunya sendiri. Yang membaca sesepuh sini, tidak semua orang bisa ngidung,” ujar Darmadi.

Prosesi memandikan jenazah pun masih dilakukan Bersama tata cara tradisional. Para perempuan lanjut usia bertugas memandikan jenazah, Sambil Itu kaum laki-laki membantu menuangkan air menggunakan tempurung kelapa.

“Yang memandikan nenek-nenek. Yang laki-laki memberi air pakai tempurung kelapa,” katanya.

Sesudah prosesi pemandian selesai, tokoh agama atau kayim Lalu masuk Untuk Memberi air wudu kepada jenazah Sebelumnya dikafani menggunakan kain berbahan kapas.

Menurut Darmadi, Kebiasaan yang masih dijaga Komunitas Kalitanjung itu merupakan warisan Untuk para leluhur Kesepuhan Kalitanjung yang berkaitan erat Bersama sejarah Kadipaten Pasirluhur dan sosok Adipati Bonjok atau Adipati Mertanegara.

“Kesepuhan itu sudah ada Dari 1503, Sesudah Babad Kamandaka. Dulu ada Kerajaan Pasirluhur, lalu ada peninggalan Untuk Adipati Bonjok, akhirnya menjadi Paguyuban Kesepuhan Kalitanjung,” terangnya.

Hingga kini, ribuan warga Ke Grumbul Kalitanjung disebut masih memegang teguh Kebiasaan tersebut. Justru Desa Tambaknegara dikenal sebagai satu-satunya desa yang dikelilingi makam leluhur Ke setiap sudut wilayahnya.

“Satu-satunya desa yang dikelilingi makam leluhur itu ya Tambaknegara. Masing-masing ada makam Ke pojok empat desa,” pungkas Darmadi.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kebiasaan ‘Kasur Raga’ Usungan Jenazah Sekali Pakai Ke Kalitanjung Banyumas

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่