Kubu PB XIV Purbaya Gelar Grebeg Besar, Warga Berebut Gunungan



Solo

Kubu Alat Buwono (PB) XIV Purbaya Mengadakan Grebeg Besar Hari Raya Idul Adha 1447 H. Grebeg Besar dimulai Di Untuk Keraton Solo Ke Hingga Masjid Agung Solo.

Di pantauan detikJateng, iring-iringan Grebeg Besar dimulai sekira pukul 10.30 WIB. Ke barisan pertama dimulai Di prajurit keraton, abdi dalem, gunungan, dan gamelan.

Iring-iringan prajurit dipimpin Di KRMT Pustokoningrat. Sedangkan Alat Buwono XIV Purbaya tidak terlihat Untuk rombongan.


Rute iring-iringan dimulai Di Untuk Keraton Solo melewati Kori Kamandungan, Sitihinggil, Pagelaran, Alun-alun Utara, dan Masjid Agung Solo. Tiba Ke Masjid Agung, diterima Di pihak masjid yang dipimpin Di Penghulu Tafsir Anom, Muhtarom.

Kelompok baik muda maupun tua sudah menunggu Ke halaman Masjid Sebagai menunggu rebutan gunungan. Salah satu warga yang ikut berebut yakni Yanti.

Yanti tampak semringah membawa pulang seikat hasil bumi berupa kacang panjang, cabai merah, hingga sebuah bendera merah putih berukuran kecil. Untuk Yanti, hasil gunungan yang didapatkannya bukan sekadar sayuran biasa, melainkan sarana Sebagai ‘ngalap berkah’.

“Ini setiap tahun saya ikut merebut (gunungan) Lantaran biar berkah, biar sehat,” ujar Yanti Di ditemui Ke halaman keraton, Rabu (27/5/2026).

Ia mengatakan hasil bumi yang ia dapatkan kali ini Berencana langsung dimanfaatkan Sebagai mendukung usaha kulinernya. Yanti mengungkapkan bahwa dirinya sehari-hari mengais rezeki Di berjualan nasi berkat, Minuman khas legendaris Ke Pasar Gede Solo.

“Ya nanti cabainya ini mau tak pakai jualan, jualan nasi berkat. Saya asli Wonogiri, jualan nasi berkat Ke Pasar Gede Solo,” tuturnya.

Sambil Itu Sebagai kacang panjang yang jumlahnya cukup banyak, ia berencana memasaknya sebagai hidangan keluarga atau kudangan. Tak ketinggalan, sebuah bendera kecil yang berhasil ia amankan juga Berencana disimpan baik-baik Ke rumahnya sebagai kenang-kenangan.

“Benderanya ini mau tak simpen, buat simbol setiap tahunnya saya dapat,” imbuh Yanti.

Yanti mengaku dirinya hampir tidak pernah melewatkan momentum Grebeg Keraton Solo. Beruntung, setiap kali ikut berdesakan Di ribuan warga lainnya, ia selalu berhasil membawa pulang Pada Di gunungan tersebut.

Di ditanya mengenai harapan besarnya Untuk Kebiasaan tahunan ini, Yanti hanya berharap kehidupan dan usahanya bisa berjalan lebih baik dan dipenuhi berkah.

“Ya biar berkah,” tuturnya.

Ke kesempatan yang sama Penghulu Tafsir Anom, Muhtarom mengatakan bahwa prosesi Grebeg merupakan ritual tahunan yang diadakan sebanyak tiga kali Untuk kalender Jawa, yaitu Grebeg Sekaten (Rabiul Awal), Grebeg Poso (Syawal), dan Grebeg Besar (Zulhijah).

“Ini Untuk rangka wujud syukurnya raja dan Keraton Surakarta bahwa telah menyelesaikan puasa Arafah dan Idul Adha ini. Sebagai wujud syukurnya Di Keraton Surakarta serta Kelompok kawula dalem Keraton Surakarta Hadiningrat,” ujarnya.

Grebeg Besar, kata dia, Memperoleh kesamaan Di dua grebeg lainnya. Tetapi yang membedakan adalah makna simbolis Ke balik komponen pembentuk Gunungan Jalu dan Gunungan Pawestri yang diarak Ke Masjid Agung.

Gunungan Jalu, yang didominasi Di hasil bumi mentah, melambangkan peran seorang kepala Rumah tangga. Hasil bumi tersebut terdiri Di tiga jenis polo, yakni polo pendem (pala kependam), polo kesampar (pala kesampar), dan polo kagantung (pala menggantung).

“Itu namanya gunungan jalu. Terdiri Di tiga polo, ini simbol seorang laki-laki itu harus mencari nafkah Sebagai keluarganya. Makanya wujudnya adalah Minuman-Minuman mentah,” jelasnya.

Sebagai Gantinya, Gunungan Pawestri yang berisi Minuman siap saji atau jajanan pasar siap santap merupakan simbol Di peran seorang istri Untuk mengarungi bahtera Rumah tangga.

“Itu melambangkan seorang wanita harus mampu mengelola penghasilan suami Sebagai Lalu diolah Sebagai kebutuhan keluarga, anak-anak, dan keluarganya,” pungkasnya.

Sebelumnya Itu, pihak Alat Buwono XIV Purbaya bakal Mengadakan Grebeg Besar Ke tahun ini. Kendati, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sudah mewanti-wanti agar Grebeg Besar dilaksanakan sekali.

Pangarsa Sasana Wilapa versi PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay mengatakan Grebeg Besar bakal dilaksanakan Ke hari H Idul Adha atau tanggal 27 Mei 2026. Rangkaian Kegiatan Grebeg Besar sama Di tahun-tahun Sebelumnya Itu.

“Ya kalau kegiatannya kan sudah seperti biasa nggih, kalau Ke Keraton Grebeg Idul Adha itu seperti biasa gunungan, Lalu dibawa Hingga Masjid Besar, didoakan Mutakhir Lalu dibagikan. Nah, hanya ini kan kebetulan yang Melakukan pertama kali diadakan Ke masa takhtanya Alat Buwono XIV, Grebeg digelar Ke tanggal 27 Mei nanti,” kata Rumbay ditemui Ke Kori Talang Paten, Keraton Solo, Selasa (19/5).

Disinggung mengenai pemilihan tanggal, Rumbay menyebut sudah sesuai perhitungan penanggalan Jawa dan Keraton. Ia mengatakan pemilihan tanggal tersebut tidak ada kaitannya Di gelaran Grebeg Besar yang Berencana digelar Di Tedjowulan.

“Oh, Gusti Tedjo mau buat,” ucap Rumbay.

“Gini, tadi kan sudah diatur, sudah dijelaskan Di Gusti Dipo bahwa Kegiatan-Kegiatan Grebeg, Gunungan, Suro, itu adalah Kegiatan yang cara keraton yang itu adalah perintah Raja. Dhawuh Dalem kan begitu tadi ngendika-nya, perintah, apa mau ya, Kegiatan dhawuh Dalem. Nah, dhawuh Dalem-nya itu Di Raja. Makanya saya malah bingung, kalau Gusti Tejo bikin itu terus rajane sapa (siapa)? Kan Gusti Tejo bukan Raja,” sambung Rumbay.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kubu PB XIV Purbaya Gelar Grebeg Besar, Warga Berebut Gunungan

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่