Menilik 6 Kampung Adat Ke Jabar Penjaga Leuit

Bandung –

Ke Di derasnya pembangunan dan arus urbanisasi, masih ada komunitas Ke Jawa Barat yang menempatkan padi bukan sekadar bahan Ketahanan Pangan, melainkan pusat kehidupan adat.

Mereka membangun leuit, sebuah lumbung panggung yang menjaga gabah tetap awet sekaligus menjadi simbol keselarasan manusia Di alam.

Leuit bukan sekadar gudang. Melainkan bangunan kayu dan bambu yang menjadi wujud Untuk tata kelola Ketahanan Pangan Kearifan Lokal Global Sunda Ke masa silam. Ke Samping Itu, ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada Dewi Sri atau Nyai Pohaci Sanghyang Asri, serta pengingat bahwa hasil bumi harus dikelola secara adil dan penuh kesabaran.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Untuk jurnal karya Ria I Tresnasih, Lasmiyati, Ani Rostiyati, dan Nina Merlina yang berjudul “Leuit sebagai Simbol Kearifan Lokal” (2023), padi yang tidak langsung dikonsumsi Akansegera disimpan Untuk leuit dan dapat bertahan lebih Untuk sepuluh tahun. Kebugaran itu Menunjukkan bahwa leuit merupakan Pada Untuk sistem pengelolaan Ketahanan Pangan jangka panjang.

Leuit dan Goah: Dua Bentuk Lumbung Padi Sunda

Sederhananya, leuit dan goah sama-sama berfungsi Untuk menyimpan cadangan Ketahanan Pangan hasil panen, tetapi keduanya Memiliki struktur dan peran kultural yang berbeda Untuk sistem Pertanian Sunda.

Mengutip jurnal karya Afina Nisa Aulia dan Gregorius Prasetyo Adhitama berjudul “Pola Bangunan Leuit, Saung Lisung, dan Goah Ke Komunitas Sunda Kasepuhan Ciptagelar” (2021), leuit merupakan lumbung padi panggung beratap alami yang berdiri terpisah Untuk hunian.

Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan gabah jangka panjang, baik milik perorangan/keluarga maupun milik komunal (leuit rurukan).

Sambil Itu, goah bukanlah bangunan yang berdiri mandiri, melainkan Pada yang tidak terpisahkan Untuk Rumah tinggal, tepatnya berada Ke area dapur (pawon). Fungsinya sendiri sebagai area tempat memasak nasi (hawu) serta ruang penyimpanan gentong beras (pabeasan) Untuk kebutuhan harian.

Untuk siklus pengolahan Ketahanan Pangan tradisional Sunda, alur Untuk leuit Ke goah dijembatani Dari saung lisung, yaitu fasilitas komunal yang digunakan bersama Untuk menumbuk gabah menjadi beras siap masak. Lantaran perbedaan tersebut, hanya kampung Di bukti keberadaan leuit yang dimasukkan Untuk daftar ini.

1. Kampung Naga, Tasikmalaya

Adat yang masih dijaga Ke Kampung Naga ini adalah larangan menebang hutan sembarangan, larangan penggunaan pestisida kimia, serta kewajiban menyimpan sebagian padi Untuk kepentingan bersama. Komunitas juga tetap menjalankan ritual Pertanian dan aturan sosial yang diwariskan leluhur.

Sejarah Kampung Naga diyakini berakar Ke kelompok Sunda yang memilih Kehidupan Sederhana Ke tepi Ciwulan. Mereka menjaga tata ruang kampung, Rumah panggung, masjid, dan leuit sebagai satu kesatuan kosmologis yang tidak boleh diubah semena-mena.

Mengutip jurnal karya Eulis Entin, Denny Adrian Nurhuda, Nunuy Nurjanah, dan Retty Isnendes berjudul “Kampung Naga Tasikmalaya Menjaga Alam Di Keyakinan Ke Norma dan Kearifan Lokal” (2023), disampaikan bahwa leuit berfungsi sebagai tempat menyimpan padi milik adat hasil iuran warga Pada panen. Padi tersebut diserahkan Untuk kepentingan umum maupun kegiatan adat.

Hingga kini, leuit tetap menjadi sarana utama ketahanan Ketahanan Pangan. Selaras Di itu, bila mengutip jurnal Untuk karya Prima Melati, Yuyun Susanti, Purnomo Sidiq, Ai Siti Masruroh, Hipni Munsyi, Ade Suherman, Slamet Nopharipaldi Rohman berjudul “Optimalisasi Nilai-Nilai Adat Untuk Meningkatkan Ketahanan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Kreatif Komunitas Kampung Naga” (2025), disampaikan bahwa leuit masih menjamin ketersediaan Ketahanan Pangan sepanjang tahun.

Kampung Naga dapat dikunjungi Dari Komunitas umum Di mengikuti Syarat adat dan pemandu setempat. Lokasinya berada Ke Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

2. Kasepuhan Gelar Alam atau Ciptagelar, Sukabumi

Melansir Untuk laman resminya, Adat Kasepuhan Gelar Alam, atau dahulu dikenal sebagai Ciptagelar, berpusat Ke siklus Pertanian padi lokal. Selain menjalankan upacara Seren Taun, warga wajib menyimpan hasil panen Ke dua jenis leuit.

Setiap keluarga Memiliki leuit privat sebagai penyangga Ketahanan Pangan mandiri, Sambil Itu cadangan Ketahanan Pangan kolektif disimpan bersama Ke lumbung utama bernama Leuit Si Jimat.

Sejarah adat ini berakar Ke garis keturunan Kasepuhan yang dipercaya telah berdiri Sebelum tahun 1368 Masehi. Mengutip Untuk laman resmi Badan Pendesainan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat, seluruh sendi kehidupan adat Ke kawasan ini diatur secara ketat berdasarkan kalender tradisional siklus padi.

Bangunan leuit Ke Gelar Alam Memiliki makna religius yang erat Di penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri alias Dewi Padi. Aturan adat mewajibkan warga menyisihkan minimal 10 persen hasil panen Ke Untuk lumbung. Pola penyimpanan ini terbukti membuat padi mampu bertahan lintas generasi tanpa Merasakan pembusukan.

Mengutip Untuk jurnal karya Fauzi Perdanaputra dan Nuraini Wahyuning Prasodjo Di judul “Ketahanan Ketahanan Pangan Ke Kampung Adat dan Non-Kampung Adat”, penerapan sistem tata ruang leuit terbukti efektif menjaga stabilitas Ketahanan Pangan komunitas.

Eksperimen tersebut juga menegaskan bahwa Komunitas adat Ke sana sangat jarang Merasakan krisis atau keterbatasan stok beras Lantaran keberadaan lumbung berfungsi nyata sebagai penyangga Ketahanan Pangan yang kuat, bukan sekadar simbol bangunan adat.

3. Kasepuhan Sinar Resmi, Sukabumi

Adat Sinar Resmi menekankan solidaritas sosial Melewati pengelolaan padi. Warga menyimpan hasil panen Ke leuit yang dikelola berdasarkan kewenangan pemimpin adat dan aturan turun-temurun.

Mengutip beberapa sumber, Komunitas adat Ke Desa Sinar Rasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, masih mempertahankan leuit sebagai lumbung padi. Leuit dapat menampung 500 hingga 1.000 ikat padi, dan padi yang disimpan dapat bertahan Di 5 hingga 10 tahun tanpa bahan kimia.

Mengutip karya Risa Nopianti yang berjudul “Leuit Si Jimat: Wujud Solidaritas Sosial Komunitas Ke Kasepuhan Sinarresmi” (2016), leuit berperan sebagai lumbung padi sosial. Keberadaannya memperkuat gotong royong dan ketaatan Di aturan adat.

Kini leuit tetap menjadi jaminan Ketahanan Pangan Rumah tangga. Leuit tidak hanya menyimpan hasil Pertanian, tetapi juga menjadi cadangan ketika kebutuhan Menimbulkan Kekhawatiran.

4. Kasepuhan Cipta Mulya, Sukabumi

Kasepuhan Cipta Mulya menjadikan padi sebagai pusat kehidupan adat. Warga secara konsisten menjalankan ritual Seren Taun, menanam varietas padi lokal, dan menyimpan hasil panen Ke leuit sebagai cadangan Ketahanan Pangan komunal dan keluarga.

Mengutip beberapa sumber, musibah kebakaran besar Ke 25 Juli 2026 sempat menghanguskan 51 Rumah adat dan 49 leuit Ke Daerah Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Kendati jumlah lumbung Ketahanan Pangan sempat berkurang drastis akibat bencana tersebut, peristiwa ini justru memperlihatkan betapa vitalnya peran leuit. Menariknya, struktur sosial dan ketahanan hidup Komunitas kini terus diupayakan Untuk dibangun kembali.

Kehadiran deretan leuit memperlihatkan keteguhan Komunitas Cipta Mulya Untuk mempertahankan tata kelola Ketahanan Pangan adat. Leuit tidak sekadar berfungsi sebagai tempat menyimpan gabah kering, melainkan sebagai instrumen proteksi Ketahanan Pangan komunitari Untuk Berusaha Mengatasi krisis atau paceklik.

5. Kampung Adat Cikondang, Bandung

Berdasarkan salah satu unggahan @disbudpar.kabbdg, dijelaskan bahwa Komunitas Kampung Adat Cikondang Ke Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, terus merawat kearifan lokal Sunda Melewati pengelolaan sawah adat serta penyimpanan padi hasil panen secara fungsional Ke Untuk leuit.

Sebagai salah satu kelompok adat tertua Ke kawasan pegunungan Bandung, identitas kebudayaan mereka bertumpu Ke upacara adat tahunan sakral yang dikenal sebagai Wuku Taun, bukan Seren Taun.

Perbedaan mendasar Ke Di keduanya terletak Ke makna filosofis dan kalender acuan. Jika Seren Taun Ke Daerah Sunda lain, seperti Cigugur atau Ciptagelar, Memusatkan Perhatian Ke simbol penyerahan hasil panen menggunakan penanggalan Sunda.

Maka Wuku Taun Ke Cikondang bermakna “membuka Literatur atau lembaran tahun Terbaru” yang pelaksanaannya berakulturasi kuat Di penanggalan Islam (Hijriah), dimulai Sebelum 1 Muharram hingga puncak ritual doa bersama Ke 15 Muharram.

Penggunaan istilah Wuku Taun ini dipertahankan secara turun-temurun sebagai kepatuhan kepada amanat leluhur pendiri kampung (karuhun) yang dulunya merupakan tokoh penyebar agama Islam Ke Pangalengan.

Berdasarkan Eksperimen Widianti & Santosa berjudul “Teritorialitas Ruang Makro dan Mikro Rumah Adat Cikondang Ke Kabupaten Bandung” (2021), tidak jauh Untuk bale-bale terdapat leuit sebagai tempat menyimpan padi hasil panen sawah adat. Bangunan itu menjadi Pada penting Untuk struktur ruang kampung.

Perkembangan terkini Menunjukkan leuit masih dipakai secara fungsional. Berdasarkan Eksperimen Alfiah Rahmawati, Nur Ishaq Mahmudi, dan Tri Cahyanto berjudul “Studi Etnobotani Pemanfaatan Tanaman Ke Daerah Adat Kampung Cikondang” (2025), padi yang telah dipanen disimpan Ke leuit sebagai lumbung. Cikondang dapat dikunjungi wisatawan Kearifan Lokal Global Di izin warga dan pengurus adat.

6. Kampung Adat Urug, Bogor

Adat Urug menjaga Kearifan Lokal Seren Taun, larangan Memutuskan padi sembarangan, serta menerapkan Cara ngentep sereh yang mengatur cara menyusun ikatan padi secara berselang-seling Ke Untuk lumbung. Warga merawat leuit sebagai Pada utama Untuk sistem ketahanan Ketahanan Pangan keluarga.

Mengutip Eksperimen karya Ahmad Ibrahim Badry, Rusman Nurjaman, dan Muhammad Abdul Rozaq berjudul “Ketahanan Komunitas Kampung Adat Urug Semasa Penyebara Nmassal: Catatan Pembuatan Model Resilience Village” (2024), disebutkan bahwa keteguhan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal seperti penyimpanan padi Untuk leuit, serta sistem tanam padi satu kali setahun terbukti sangat berperan penting Untuk mewujudkan kedaulatan Ketahanan Pangan berbasis komunitas.

Mengutip beberapa sumber, disebutkan bahwa satu unit leuit Ke Kampung Urug umumnya berbentuk panggung dan mampu menampung Di 500 hingga 1.000 ikat padi. Berkat Cara penyimpanan tradisional tersebut, persediaan padi yang disimpan Ke Untuk leuit mampu bertahan dan layak dikonsumsi hingga puluhan tahun, setidaknya Di 30 tahun, tanpa menggunakan campuran bahan kimia.

Kampung Urug terbuka Untuk pengunjung, tetapi setiap wisatawan wajib menghormati dan mengikuti aturan adat setempat. Secara administratif, lokasinya berada Ke Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Halaman 2 Untuk 2

(sud/sud)




Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Menilik 6 Kampung Adat Ke Jabar Penjaga Leuit

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini
https://indyfest.net/
https://indyfest.net/gallery/
https://indyfest.net/privacy-policy-2/
https://www.tcconstruct.net/projects