Siklus Pindah Seren dan Awal Terbaru Kasepuhan Adat Usai Kebakaran



Sukabumi

Peristiwa kebakaran yang membumihanguskan puluhan Rumah panggung Di Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/7/2026) lalu, bukan sekadar cerita tentang kehilangan harta benda.

Bagi Kelompok adat yang bermukim Di lereng Pegunungan Halimun Salak ini, kobaran api tersebut menjadi muara Untuk sebuah siklus panjang, saatnya berpindah dan berganti identitas.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Musibah yang mengharuskan warga mengungsi tersebut direspons Kasepuhan bukan Didalam keputusasaan, melainkan lewat pembacaan atas tanda-tanda alam dan Kebiasaan leluhur.

Ketua Kasepuhan Adat Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, menegaskan bahwa permukiman adat tidak Berencana dibangun kembali Di atas tanah sisa kebakaran.

Seluruh struktur kampung Berencana bergeser Di lokasi Terbaru yang berjarak Disekitar 1 kilometer atau Disekitar 15 menit berjalan kaki Untuk tempat semula.

“Kalau bekas kebakaran enggak bakalan diisi lagi. Tempat barunya sudah ada dan sudah ditandai,” ujar Abah Hendrik kepada detikJabar, Selasa (11/8/2026).

Lahan seluas area permukiman lama yang kini rata Didalam tanah tidak Berencana dibiarkan mati. Pihak kasepuhan berencana mengalihfungsikan ruang terbuka tersebut menjadi fasilitas publik, seperti lapangan Aktivitasfisik dan area kegiatan sosial warga.

detikJabar sempat melihat langsung lahan yang diproyeksikan sebagai tempat permukiman Terbaru kasepuhan adat tersebut. Akses Di Di sana masih berupa jalanan tanah terjal yang belum tersentuh polesan aspal.

Kandidat perkampungan anyar ini berdiri Di kawasan lembah Didalam bentang alam khas pedesaan: diapit perbukitan hijau dan hamparan petak persawahan.

Kandidat lokasi Terbaru kampung adat Ciptamulya Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Meski pemandangan alamnya memikat, ruang hidup Terbaru ini masih dibentangi Didalam aturan adat yang ketat. Sebuah papan pengumuman yang tertempel Di pohon bertuliskan “DILARANG Memutuskan PHOTO & VIDIO Di AREA INI !!!” menghadang langkah dan membatasi Perekamgambar detikJabar yang hendak mengabadikan visual Kandidat tempat Terbaru tersebut. Sebelumnya ritual adat dituntaskan, segala bentuk dokumentasi visual terlarang Bagi dipublikasikan.

“Dilarang Didalam adat, Lantaran belum resmi benar. Nanti saja Sesudah ada prosesi dan penetapan, Terbaru diperbolehkan,” tegas Abah Hendrik menjelaskan alasan pembatasan tersebut.

Bagi Kelompok luar, kebakaran Rumah kayu beratap ijuk Di Ciptamulya Bisa Jadi dipandang sebagai murni bencana teknis akibat korsleting listrik.

Tetapi, Untuk Kacamata kosmologi adat Sunda Banten Kidul, peristiwa besar kerap dimaknai sebagai kila-kila isyarat atau petunjuk zaman Untuk para leluhur.

Abah Hendrik mengungkapkan, Sebelumnya musibah Sabtu siang itu terjadi, isyarat mengenai kepindahan kampung sebenarnya sudah dirasakan Didalam pemangku adat.

Kebakaran lantas dipandang sebagai bentuk teguran sekaligus momen pemantik yang memicu dilaksanakannya Kebiasaan Mobilitas Penduduk permukiman.

“Memang Untuk Sebelumnya juga sudah ada kila-kila. Ya Bisa Jadi Didalam teguran bencana ini, memang sudah waktunya Bagi pindah Di sana,” tutur Abah Hendrik.

Kebiasaan berpindah tempat ini punya akar sejarah panjang Untuk sistem kasepuhan. Sepanjang sejarahnya, pusat pimpinan adat Kasepuhan telah beberapa kali bergeser lokasi mulai Untuk Ciptagelar, Ciptamulya, hingga Area Kasepuhan lainnya seiring amanat spiritual dan dinamika daya dukung lingkungan.

Konsekuensi Untuk pergeseran ruang hidup ini tidak berhenti Ke pemindahan secara fisik. Seiring Didalam berdirinya bangunan Terbaru Di lokasi yang telah ditentukan, nama “Ciptamulya” dipastikan Berencana ditanggalkan.

“Nanti pasti ada ganti nama. Tidak Ciptamulya lagi, pasti diganti nama kampungnya,” kata Abah Hendrik.

Perubahan nama kampung adat menandai dimulainya Putaran Terbaru kehidupan warga. Meski nama dan peta koordinat permukiman berganti, tata nilai, kelembagaan adat (Pegawai Tujuh), serta falsafah hidup yang memandu hubungan warga Didalam alam dipastikan tidak Berencana berubah.

Pembangunan Di lokasi Terbaru sendiri dijadwalkan dimulai selepas periode bulan Safar dan Mulud berakhir, Didalam memprioritaskan pembangunan Imah Gede sebagai pusat spiritual dan komando gotong royong warga adat.

(sya/dir)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Siklus Pindah Seren dan Awal Terbaru Kasepuhan Adat Usai Kebakaran

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่