Denpasar -
Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan peringatan suci umat Hindu Untuk merayakan Unggul Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan), sekaligus ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para leluhur yang turun Ke bumi.
Terdapat berbagai simbol Di perayaan Galungan dan Kuningan yang Memiliki makna filosofis dan spiritual mendalam. Simbol-simbol tersebut tidak hanya menyemarakkan suasana, tetapi juga mengandung nilai keagamaan yang mengajarkan Kesejaganan serta keharmonisan Di kehidupan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut adalah simbol-simbol yang identik Bersama perayaan Galungan dan Kuningan beserta maknanya.
Penjor
Penjor adalah tiang bambu melengkung yang dihiasi janur dan ornamen dedaunan yang lazim ditempatkan Ke Di Tempattinggal atau sepanjang jalan raya.
Penjor Di Kearifan Lokal Bali merupakan ungkapan rasa syukur atas anugerah kemakmuran dan Kesejaganan Di Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bentuk penjor yang menjulang dan melengkung Ke atas melambangkan keharmonisan hubungan Antara manusia Bersama Tuhan, sesama manusia, serta alam semesta.
Banten atau Sesajen
Banten atau sesajen adalah sarana penting Di rangkaian upacara adat dan kebutuhan persembahyangan umat Hindu. Berbagai jenis banten disiapkan sebagai persembahan suci Pada Galungan dan Kuningan.
Banten melambangkan ketulusan hati, rasa syukur, serta wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ini sekaligus menjadi pengingat agar setiap Sukses dan anugerah selalu disyukuri.
Tamiang
Tamiang merupakan anyaman berbentuk lingkaran yang biasanya dipasang menjelang Hari Raya Kuningan. Simbol ini melambangkan perlindungan, keselamatan, serta Kesejaganan. Tamiang, Untuk umat Hindu, mengandung pesan Untuk senantiasa menjaga diri Di pengaruh buruk dan tetap teguh memegang nilai-nilai dharma Di kehidupan sehari-hari.
Endongan
Endongan adalah pelengkap khas perayaan Kuningan yang terbuat Di anyaman janur berbentuk menyerupai Kantong atau kantong. Endongan, Di Kearifan Lokal Hindu Bali, melambangkan bekal yang diberikan kepada para leluhur Sebelumnya kembali Ke alam spiritual. Simbol ini menyimpan pesan setiap manusia perlu menanamkan perbuatan baik dan ketulusan sebagai bekal yang menuntun perjalanan hidupnya.
Dupa
Dupa merupakan perlengkapan yang hadir Di setiap persembahyangan. Aroma harum serta asapnya yang membubung perlahan melambangkan kesucian doa kepada Tuhan. Dupa menjadi simbol harapan agar setiap permohonan dapat tersampaikan Bersama tulus dan penuh keikhlasan.
Nasi Kuning
Nasi kuning merupakan persembahan yang identik Bersama Hari Raya Kuningan. Persembahan ini menjadi simbol harapan agar umat Hindu senantiasa Menyambut tuntunan Di menjalani kehidupan Agar setiap perjalanan dapat dilalui Bersama kebijaksanaan, kedamaian, dan keberkahan.
Gebogan atau Pajegan
Gebogan atau pajegan adalah persembahan yang disusun Di berbagai jenis buah-buahan dan hasil bumi. Sebelumnya rangkaian upacara dimulai, umat Hindu biasanya menjunjung persembahan ini Ke atas kepala. Gebogan yang menjulang tinggi serta dihiasi janur dan bunga melambangkan rasa syukur atas rezeki, kemakmuran, dan hasil kehidupan yang dianugerahkan Dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
(iws/iws)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Mengenal Simbol Perayaan Galungan dan Kuningan serta Maknanya











