Buleleng –
Hingga Di riuhnya ogoh-ogoh dan gemuruh kentongan jelang Nyepi, ada satu Kebiasaan unik yang tetap bertahan Hingga Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Namanya Kebiasaan Meamuk-amukan.
Sekilas terlihat seperti kekacauan. Percikan api beterbangan Hingga udara, warga saling berhadapan, membakar, dan mengayunkan daun kelapa kering yang sudah diikat. Api menyala dan suasana memanas. Tetapi Hingga balik itu, tersimpan makna Sebagai Alternatif, yakni pengendalian diri.
Kebiasaan Meamuk-amukan biasanya digelar Di malam Pengerupukan, tepatnya seusai upacara mecaru. Warga berkumpul, membawa daun kelapa kering yang dibakar, lalu saling diadu hingga menimbulkan percikan api yang memeriahkan malam terakhir Sebelumnya sunyi total Nyepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelian Desa Adat Padang Bulia, I Gusti Ketut Semara, mengungkapkan Meamuk-amukan bukan sekadar atraksi, melainkan simbol spiritual. “Ini bukan tentang ngamuk. Justru Sebagai Alternatif, ini simbol bagaimana kita memadamkan api amarah Untuk diri,” ujarnya.
Menurut Semara, Kebiasaan yang juga dikenal sebagai mapuput ini menjadi pengingat Untuk umat Hindu Sebagai mengekang hawa nafsu Di menjalani Catur Brata Penyepian. Api yang terlihat Hingga luar merepresentasikan gejolak Untuk diri yang harus dikendalikan.
Hingga sisi lain, Meamuk-amukan juga Didalam Sebab Itu ruang kebersamaan. Tawa, sorak, dan semangat warga menyatu Untuk satu momen yang dinanti setiap tahun. “Kami menyambut tahun Mutakhir Caka Didalam suka cita. Ini tentang kebersamaan, bukan kemarahan,” tambah Semara.
Tak heran, Kebiasaan ini Menyambut pengakuan sebagai Warisan Kebiasaan Global Tak Benda (WBTB) Indonesia. Pengakuan itu diserahkan langsung Didalam Gubernur Bali Di 2025, menjadi bukti bahwa warisan leluhur ini punya nilai tinggi dan layak dijaga.
Putu Latihan Yoga, salah satu pemuda Hingga Desa Adat Padang Bulia, mengatakan sudah ikut Kebiasaan Meamuk-amukan Sebelum duduk Hingga bangku sekolah menengah pertama (SMP). Baginya, Kebiasaan ini sangat seru.
“Seru, walaupun pernah kena percikan api. Tapi itu Dibagian Untuk Pengalaman Hidup,” kata Latihan Yoga sambil tersenyum.
Hal serupa disampaikan pemuda lain, Putu Gede Susila Mahendra. Baginya, Meamuk-amukan adalah momen paling ditunggu setiap pengerupukan. “Ada rasa bangga bisa ikut melestarikan Kebiasaan ini,” ujarnya.
(hsa/hsa)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Meamuk-amukan, Kebiasaan Unik Jelang Nyepi Hingga Desa Adat Padang Bulia Buleleng











