Merawat Warisan Leluhur Lewat Gotong Royong Ke Mulud Adat Bayan


Lombok Utara

Mulud Adat Bayan Ke Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya tentang ritual adat. Ke balik rangkaian tradisinya, terselip semangat gotong royong yang masih dijaga Kelompok Bayan Di generasi Ke generasi.

Sehari Sebelumnya ritual adat berlangsung, warga mulai membawa berbagai hasil bumi dan hewan ternak. Mulai Di padi, umbi-umbian, hingga beras dan ketan dikumpulkan Bagi memenuhi kebutuhan Kebiasaan. Selain hasil bumi, warga juga membawa hewan ternak seperti kerbau, kambing dan sapi.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Uang bolong, ayam, kambing, Sesudah Itu sapi, dan kerbau itu murni Di Kelompok. Bukan dibebani kepada pemangku adat atau pemerintah desa, nggak ada dibebani. Ini murni Di Kelompok itu sendiri,” terang Kepala Desa Bayan, Satriadi, ditemui detikBali, Sabtu (29/8/2026).

Bahan-bahan pokok tersebut dibawa Dari Kelompok Bagi membayar nazar. Sesudah nazar yang diinginkan terwujud, mereka membayarnya Bersama menyerahkan bahan pokok maupun hewan ternak.

Satriadi mencontohkan, jika ada Kelompok yang sakit Sesudah Itu bernazar Bagi menyerahkan seekor kerbau Ke Mulud Adat. Ketika orang tersebut sembuh, maka nazar tersebut wajib dibayarkan ketika Mulud Adat.

“Saking banyaknya orang bernazar, setiap tahun itu sampai beratus-ratusan orang yang membawa ternak, seperti ayam, kambing, kerbau, sapi, belum lagi beras, ketan, uang bolong, dan uang Uang Negara Indonesia,” jelas Satriadi.

Suasana gotong royong memotong hewan ternak Bagi diolah menjadi Konsumsi Ke Mulud Adat Bayan, Lombok Utara, NTB, Sabtu (29/8/2026) foto (Sanusi Ardi W/detikBali).

Semua bahan pokok dan hewan ternak yang dibawa tersebut diolah Bersama cara gotong royong Ke komplek Rumah adat baik Ke Desa Karang Bajo maupun Ke Desa Bayan sendiri. Olahan Konsumsi tersebut nantinya Berencana dinikmati bersama seusai ritual puncak Ke Kebiasaan Mulud Bayan.

“Bahan-bahan tersebut dibawa Dari Kelompok secara swadaya. Sesudah Itu diolah, dipotong, Sesudah Itu dibersihkan dan dimasak secara gotong royong. Nanti makannya pun kami makan bersama,” imbuh Satriadi.

Maulid biasa pihak panitia Berencana mengundang Kelompok Bagi hadir. Sambil Itu Ke Mulud Adat Bayan, Kelompok yang datang sendiri dan tidak diperbolehkan Bagi mengundang.

“Bedanya Maulid Adat Bersama maulid biasa Ke kampung, kalau maulid biasa kan kami harus mengundang tamu undangan, mengundang keluarga, mengundang sahabat. Tapi kalau Ke Maulid Adat ini sangat tidak boleh, tidak diperkenankan Bagi mengundang.

Sebab Esensinya Maulid Adat ini sebagai bentuk keyakinan kita Ke warisan Kebiasaan Global para leluhur,” terang Satriadi.

(nor/nor)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Merawat Warisan Leluhur Lewat Gotong Royong Ke Mulud Adat Bayan

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login