Klungkung –
Desa Pikat merupakan salah satu Bersama 12 desa yang terletak Hingga Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Desa ini menyimpan sejarah unik yang mengaitkan penamaannya Bersama Kebiasaan berburu burung atau Untuk bahasa lokal dikenal Bersama istilah mepikat.
Patung Mepikat berdiri anggun Hingga kawasan Lapangan Umum Desa Pikat. Patung ini seolah menjadi jawaban Untuk siapa saja yang Terbaru pertama kali mendengar nama desa dan menginjakkan kaki Hingga sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Patung ini menggambarkan sesosok bangsawan yang memegang sebuah sangkar lengkap Bersama burung Hingga tangannya, menjadi pemandangan ikonik Untuk siapa saja yang melintasi area terbuka hijau tersebut.
Berdasarkan prasasti sejarah yang terukir Hingga monumen setempat, kata ‘pikat’ memang berasal Bersama kata mepikat yang berarti mencari atau Menyita burung.
|
Monumen mepikat Hingga Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, Minggu (30/8/2026). (Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
|
Cerita turun-temurun para tokoh Kelompok menyebutkan bahwa sejarah ini bermula Bersama Kebiasaan keluarga kerajaan Ke zaman kerajaan.
Alkisah, seorang anggota keluarga raja yang Memiliki Kesenangan mepikat (Menyita burung perkutut) berangkat Bersama istana Dari pagi hari. Berbekal perlengkapan lengkap, ia berjalan Hingga arah timur hingga mendengar suara kicauan burung Bersama kejauhan.
Bersama penuh kehati-hatian, beliau memasang peralatan pikat yang diiringi doa agar burung tersebut berhasil ditangkap. Atas izin Ida Sang Hyang Widhi Wasa, harapan tersebut terkabul Untuk waktu singkat.
Sebagai ungkapan rasa syukur, Area tempat burung perkutut itu ditangkap Lalu diberi nama Desa Pikat.
Cerita asal-usul ini nampaknya sudah menjadi pengetahuan umum Untuk Kelompok setempat. Ceritanya didongengkan secara turun temurun.
Salah seorang warga yang berjualan tak jauh Bersama patung tersebut, Nengah Sumatraman, menerangkan, sesuai namanya, kawasan Desa Pikat dahulu memang menjadi tempat Kandidatteratas para pencari burung.
Meski demikian, Nengah menegaskan bukan berarti warga Hingga sana masih menjalankan Kebiasaan Menyita burung hingga Pada ini.
“Itu cerita dulu. Kalau sekarang sudah tidak ada lagi warga yang melakukan mepikat,” ujar Nengah Pada ditemui Hingga lapaknya, Minggu (30/8/2026).
Kini, prasasti sejarah Desa Pikat beserta Patung Mepikat yang ditandatangani Dari Perbekel Desa Pikat, I Wayan Navy Sudarsa, berdiri kokoh tidak hanya sebagai penghias Lapangan Umum Desa Pikat, tetapi juga sebagai sarana Belajar warisan Kebiasaan Global Untuk generasi muda dan siapa saja yang berkunjung.
(hsa/iws)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Para Pencari Burung Hingga Balik Asal-usul Desa Pikat Klungkung











