Nganjuk –
Di Ditengah lebatnya hutan lereng Gunung Sili, Desa Bangle, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, tersimpan sebuah batu yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Jawa kuno.
Batu bertulis itu dikenal sebagai Prasasti Mataji, atau Prasasti Bangle II.
Prasasti ini bukan sekadar peninggalan masa lampau, tapi merekam kisah peperangan, kesetiaan rakyat kepada kerajaan, hingga sebuah anugerah berupa tanah perdikan atau sima Untuk seorang raja kepada penduduk Mataji.
Sukadi, Sekretaris Skuat Ahli Cagar Kearifan Lokal Global (TACB) Nganjuk menyampaikan, prasasti tersebut mencatat nama seorang raja yang disebut Jitendrakara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta.
“Untuk prasasti itu dikisahkan bahwa penduduk Mataji memperoleh anugerah sima, Lantaran jasa mereka membantu raja Berusaha Mengatasi dan menumpas musuh-musuh kerajaan,” ungkap Sukadi, Minggu (30/8/2026).
Menurut Sukadi, jejak sejarah tersebut menjadi Lebihterus Memikat Lantaran prasasti berasal Untuk periode Sesudah pemerintahan Airlangga, ketika kekuasaan Di Jawa Timur memasuki masa persaingan Antara Pangjalu dan Janggala.
Di masa penuh pergolakan tersebut, Area Mataji disebut sebagai salah satu tempat yang Merasakan peperangan.
“Nama Mataji Untuk prasasti seolah menjadi penanda bahwa kawasan pedalaman Nganjuk bukanlah Area yang terlepas Untuk pusaran konflik politik dan militer kerajaan-kerajaan besar Jawa Timur,” paparnya.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Melihat Prasasti Mataji Di Lereng Gunung Sili Nganjuk







