Pangandaran –
Kebiasaan hajat bumi Ke Pangandaran, Jawa Barat mulai pudar. Tetapi, sejumlah kelompok warga Ke Desa Babakan dan Sidamulih, masih mempertahankan Kebiasaan ritus syukuran warga.
Prosesi hajat bumi ini merupakan ungkapan rasa syukur warga atas rezeki yang berasal Di hasil bumi. Prosesi hajat bumi biasanya digelar menyambut Tahun Mutakhir Islam.
Pergelaran ritus hajat bumi ini bisa dimulai Di prosesi doa, makan bersama, dan dilanjutkan penampilan Karya Seni tradisional, mulai Di memainkan alunan Bunyi kecapi hingga tari. Ke beberapa tempat memang Memiliki adat yang berbeda Kendati masih Ke Daerah Kabupaten Pangandaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ke Sidamulih, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Hajat Bumi Lembur Kuring menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan tokoh Kekayaan Budaya Dunia dan Kelompok sebagai wujud rasa syukur. Semua warga Ke Disekitar menyumbangkan masakan ataupun sesaji Untuk dimakan bersama.
Tetapi Ke Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, hajat bumi kerap digelar tiga hari Sebelumnya Itu Di sedekah ketupat. Menurut Budayawan Pangandaran, Erik Krisna Yudha, keberadaan hajat bumi sudah dikenalkan leluhur Ke sini Dari abad Di-15.
Kebiasaan ini berakar Dari masa Galuh Pangauban Daerah Ciputrapinggan, Kabupaten Pangandaran. “Kebiasaan ini memang digelar Untuk rasa syukur warga atas Kesejajaran warga desa Di hasil bumi,” ucap Erik kepada detikJabar, Jumat (26/6/2026).
Ke sisi lain, Kegiatan ini pun dikaitkan Di syukuran kepada Sang Maha Pencipta atas keselamatan dan terhindar Di marabahaya Pada proses tatanen (menanam) hasil bumi. “Tak lupa juga syukuran kepada Allah SWT Lantaran limpahan keselamatan Di wabah, Bencana Alam, Penyakit dan bencana lainnya,” ungkapnya.
Kebiasaan hajat bumi ini pun berkembang Ke seluruh Daerah Galuh dan Pangandaran yang Pada itu masih Pada Di Ciamis. Tetapi, yang masih bertahan Melakukan rutin adalah mayoritas warga Ke Desa Cikalong dan Sidamulih.
“Iya nyaris hampir punah. Makanya sekarang hanya berkembang secara rutin dan terorganisir hanya Ke Daerah Kecamatan Sidamulih sebagai Daerah Kekayaan Budaya Dunia,” kata Erik.
Ke Pada Yang Sama, Kepala Bidang Kebudayaan Ke Dinas Perjalanan Di Luarnegeri dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran, Sugeng, menyebutkan pergelaran Hajat Bumi biasanya digelar Ke bulan Muharam. “Yang biasanya Melakukan ini Ke Sidamulih, Batuhiu dan Pangandaran,” ucapnya.
Menurut dia, tidak menutup kemungkinan beberapa Lokasi pun Melakukan kegiatan yang sama. “Cuman ada yang digelar secara akbar adapun yang hanya sebatas lingkungan RT hingga RW,” katanya.
Esensinya, kata dia, sebagai simbol kebudayaan warisan sejarah, termasuk Kebiasaan yang harus dipertahankan. “Lantaran didalamnya ada nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, silaturahmi dan syukuran,” katanya.
(sud/sud)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Menjaga Kebiasaan Hajat Bumi Pangandaran yang Nyaris Punah











