Denpasar –
Kampung Dobo Ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mempunyai sebuah artefak unik berbentuk miniatur kapal. Bukan berada Didekat laut, artefak ini justru berada Ke Ditengah hutan Ke atas bukit. Artefak bernama Jong Dobo ini diyakini telah berusia ribuan tahun.
Asal-muasal Bersama artefak ini tidak diketahui pasti. Belum ada catatan sejarah yang membuktikan bagaimana sebuah artefak miniatur kapal bisa berada Ke Ditengah hutan. Akan Tetapi, Kelompok Disekitar Memperoleh cerita yang dituturkan Untuk beberapa generasi. Cerita tentang asal-muasal Jong Dobo tersurat Untuk syair lisan Kelompok Kampung Dobo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita Asal-muasal Jong Dobo
Jong Dobo adalah artefak berbahan logam perunggu Bersama panjang 60 sentimeter (cm), tinggi 28 cm, dan lebar 10 cm. Artefak ini Memperoleh bentuk menyerupai kapal Bersama hiasan manusia Ke beberapa Dibagian. Artefak ini ditempatkan Ke Ditengah hutan dan bisa diakses Bersama izin kepada juru pelihara.
Kelompok Sikka Memperoleh sebuah tutur lisan tentang Jong Dobo. Dikutip Bersama sebuah artikel yang ditulis Bersama Yuwanita Kolo, tutur lisan tersebut merupakan folklor lisan yang berkembang Ke Disekitar Jong Dobo. Berikut petikan folklor Jong Dobo yang merupakan sebuah syair.
“Leluhur yang pertama kali menemukan Kapal Dobo tersebut bernama Du’a Bela dan Mo’ang Lago. mereka menceritakan bahwa orang Soge, orang Ende menyembunyikan kapal tersebut Ke Dobo. Kapal tersebut dapat mendatangkan hujan dan panas Supaya semua orang harus menjaga kapal itu Bersama baik. Sesuai Bersama syair adat kisah para leluhur yang mengatakan demikian: orang Soge Bersama Numba, menyembunyikan kapal perunggu Ke atas, kapal perunggu Ke atas mendatangkan hujan dan panas.
Ke mulanya kapal itu merupakan sebuah kapal besar dan Ke atas kapal tersebut ada banyak orang. Orang-orang bersama kapal tersebut memulai perjalanan Bersama Siam Sina Malaka. Kaisar Ke sana menyuruh mereka pergi Untuk mencari Terapi yang membuat mereka tidak sakit dan panjang umur Sebab Ke Lokasi mereka ada banyak orang yang meninggal dunia. Mereka juga ingin pergi mencari hidup yang kayak. Ada sebuah sumpah agar mereka bisa Memperoleh Terapi tersebut yaitu mereka harus mengangkat jangkar pagi-pagi buta, Pada ayam belum berkokok, matahari belum terbit, jika sampai kesiangan maka mereka Berencana Memperoleh musibah Supaya mereka harus mematuhi sumpah tersebut.
Ke Indonesia, Ke Nusantara, pertama kali mereka memasuki Pulau Bima. Lalu mereka meneruskan perjalanan Ke Bajo, Lanjutnya mereka meneruskan perjalanan lagi dan singgah Ke SOge, Ende tetapi orang-orang Ke sana tidak menyuguhi rokok dan sirih pinang Supaya mereka meneruskan perjalanan. Mereka sampai Ke Sadang Watu Manuk Ke Lokasi SIkka dan Ke Kampung Nita Karang Jawa. Sampai Ke Nita mereka melihat tanahnya tidak bagus dan tidak subur Supaya mereka mendayung lagi sampai Ke Kolitatit Moro Humang, Soda Otang Bolawolon, terus Ke Ke Waipare. Sampai Ke Watumilok mereka melihat tempat tersebut bagus sekali dan sangat bersih. Ke situ mereka menurunkan jangkar Pada menjelang pagi.
Mereka Ke Ke Ili Koli Kokowahor Lalu Ke Apinggo’ot tanahnya datar. Ke situ datarannya bagus dan kampung yang sangat indah tetapi Mo’ang Kedong Leder pun tidak mengurhi rokok dan sirih pinang Supaya mereka meneruskan perjalan. Sampai Ke sebuah bukit besar mereka menabrak bukit tersebut sampai terbelah dua. Lalu mereka Ke Ke atas sampai Ke Dobo Dora Nata Ulu. Ke situ datarannya bagus, kampung yang makmur tetapi Sebab mereka sudah kesiangan mengangkat jangkar Ke Dobo maka kapal besar tersebut berubah menjadi perunggu dan mengecil seperti yang kita lihat sampai Bersama Pada ini. Menurut syair adat kisah leluhur seperti ini: mengangkat jangkar Ke Dobo kesiangan Ke Dobo, kesiangan Ke Dobo kapal berubah menjadi perunggu.
Demikian kisah misteri Jong Dobo, semoga bermanfaat!
(hsa/hsa)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Misteri Jong Dobo, Artefak Kapal Ke Ditengah Hutan Sikka











